51动漫

51动漫 Official Website

INSTI Obat Baru HIV di Indonesia: Bagaimana Virus Bisa Menjadi Kebal?

Ilustrasi HIV (Foto: Alodokter.com)
Ilustrasi HIV (Foto: Alodokter.com)

Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat infeksi HIV tertinggi di Asia Tenggara. Untuk menangani hal ini, obat dolutegravir, yang termasuk dalam kelas Integrase Strand Transfer Inhibitor(INSTI), kini banyak menjadi pengobatan utama bagi penderita HIV. Namun, virus HIV memiliki kemampuan untuk bermutasi, yang bisa membuat obat ini menjadi kurang efektif. Sayangnya, informasi mengenai mutasi yang menyebabkan resistensi terhadap INSTI di Indonesia masih sangat terbatas. Baik sebelum maupun setelah pasien menjalani pengobatan.

Penelitian ini merupakan kerja sama antara , 51动漫 dan Research Center for Care and Control of Infectious Disease, Universitas Padjadjaran. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana virus HIV di Indonesia dapat menjadi kebal terhadap obat INSTI. Studi dilakukan pada pasien di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, antara September 2022 hingga Januari 2023. Pasien terbagi menjadi dua kategori: pasien yang sudah mendapatkan terapi antiretroviral (ARV) dan pasien yang belum mendapatkan pengobatan ARV.

Pada penelitian ini, sampel darah pasien dianalisis untuk diidentifikasi jenis/tipe virus HIV dan mutasi yang berpotensi menyebabkan resistensi terhadap INSTI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subtipe virus HIV yang dominan adalah CRF01_AE. Sub tipe ini terdeteksi pada 85,4% pasien yang belum terobati dan 69% pasien yang sudah terobati. Beberapa jenis/tipe lain dari virus HIV juga ditemukan, meskipun dalam jumlah yang lebih kecil.

Selain itu, pada pasien yang telah menjalani pengobatan ARV, ada pada mutasi pada posisi R263K dan Y143H, yang berpotensi menyebabkan resistensi terhadap INSTI. Sementara itu, pada pasien yang belum diobati, hanya ditemukan mutasi minor yang mungkin mempengaruhi efektivitas pengobatan di masa depan. Mutasi lain yang paling umum ditemukan adalah mutasi pada obat lain yaitu jenis non-nucleoside reverse transcriptase inhibitor(NNRTI). Dengan prevalensi 14,6% pada pasien yang belum terobati dan 7% pada pasien yang sudah terobati.

Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemakaian obat secara jangka panjang pada pasien HIV akan mempengaruhi efektifitas suatu obat. Beberapa hal yang menyebabkan obat tersebut bisa resisten yaitu (1) sifat alami virus HIV yang cepat sekali bermutasi. Mutasi ini berpotensi menyebabkan resistansi terhadap jenis obat tertentu. Selain itu, sifat resistansi ini dapat ditularkan kepada orang lain, yang dikenal sebagai transmitted drug resistance(TDR); (2) mutase akibat penggunaan obat yang dikenal sebagai drug resistance mutation(DRM). Oleh karena itu, pemeriksaan secara rutin terhadap mutasi virus HIV sangat penting untuk diimplementasikan di Indonesia untuk memonitor keefektifan pengobatan pada pasien HIV sehingga meningkatkan kualitas hidup ODHIV.

Penulis: Siti Qamariyah Khairunisa, S.Si., M.Si

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di: Djojosugito, FA et.al. (2024). Prevalence of major INSTI and HIV-1 drug resistance mutations in pre- and antiretroviral-treated patients in Indonesia. Narra J. 2024 December 10;4(3).9917. doi: 10.1038/s41598-024-59820-y. Available oline

AKSES CEPAT