51动漫

51动漫 Official Website

Integrasi Tetraselmis chuii dan Artemia sp Budaya Produksi Garam Skala Industri

Ilustrasi garam (sumber: halo dokter)

Secara tradisional, petani garam hanya menggunakan evaporasi dari air laut dengan iklim yang tidak menentu dan tidak ada jaminan kualitas, kuantitas dan harga garam. Keberlanjutan produksi garam ditentukan oleh faktor fisik dan biologis, dimana faktor fisik dipengaruhi oleh penguapan air laut yang dipengaruhi oleh cuaca, sedangkan faktor biologis didukung oleh keberadaan berbagai organisme. Semua itu akan menentukan kualitas garam yang akan dihasilkan. Berdasarkan kandungan NaClnya, garam dibedakan menjadi garam industri dan garam pangan. Garam pangan mengandung NaCl 87%, pengotor (mineral sulfat dan magnesium) sebanyak 2%, kontaminan lain (pasir, lumpur) sebanyak 1%, dan kadar air maksimal 7%. Sebaliknya, garam industri membutuhkan kandungan NaCl sebanyak 97%, pengotor 2%, serta jumlah kontaminan dan air yang sangat sedikit. Salah satu inovasi untuk menghasilkan garam industri adalah penggunaan teknologi penguapan air laut dengan bantuan sinar matahari. Metode lain, seperti penguapan menggunakan panas alat evaporator, kristalisasi, dan pemisahan elektrokimia melalui elektrolisis, dianggap mahal dan tidak terjangkau oleh petani garam tradisional di Indonesia. Oleh karena itu, produksi garam Indonesia belum memenuhi kebutuhan garam industri dengan kriteria kadar air <0,5%, kadar NaCl > 97%, komponen tidak larut < 0,5%, Ca < 0,06%, Mg < 0,06%, dan I > 30 mg. /kg (Badan Standardisasi Nasional Indonesia, 2016). Data menunjukkan Indonesia mengimpor sekitar 2,36 juta ton garam industri setiap tahunnya. Faktor yang mempengaruhi kualitas produksi garam dan menjadi kendala dalam produksi garam, yaitu pencemaran air laut oleh bahan pencemar dan air tawar, tingginya curah hujan di daerah produksi garam, kualitas produk garam yang hampir tidak memenuhi kriteria garam industri, dan produk garam yang tidak terstandarisasi.
Mikroorganisme halofilik dapat menukar kation dan osmolit ketika konsentrasi garam di lingkungan meningkat, sedangkan Artemia sp. merupakan salah satu zooplankton yang menjadi nutrisi utama pada pakan larva ikan dan udang. Salah satu zooplankton yang utama digunakan sebagai pakan alami budidaya ikan dan udang adalah Artemia sp., karena mengandung protein dan asam amino yang tinggi. Kultur artemia di ladang garam juga dapat menjadi sumber makanan bagi bakteri halofilik Artemia sp. detritus (bangkai dan kotoran), mempercepat laju penguapan, mengurangi kontaminan mineral (Mg2+ dan SO42-), dan meningkatkan kemurnian NaCl. Stimulasi pertumbuhan flora bakteri halofilik alami di kolam budidaya, sebagai sumber makanan pelengkap nauplii Artemia, saat ini dipertimbangkan sebagai cara yang layak untuk meningkatkan biomassa Artemia dan produksi kista. Dibandingkan dengan mikro alga Chaetoceros sp. dan Skeletonema sp., Tetraselmis chuii memiliki kandungan protein yang lebih tinggi. Kandungan protein yang tinggi menjadikan T. chuii berpotensi menjadi pakan udang air asin, ikan, dan larva udang. Pertumbuhan mikroalga T. chuii sangat bergantung pada ketersediaan unsur hara makro dan mineral mikro.
Pupuk dari rumput laut merupakan senyawa yang tidak beracun dan terdegradasi secara alami sehingga ramah lingkungan. Sampai saat ini, penerapan alginat limbah alginat yang diekstraksi masih sangat terbatas, terutama dengan beberapa penerapan yang relevan pada Gracilaria sp. budaya. Sintesis pigmen dipengaruhi oleh faktor lingkungan, khususnya nutrisi seperti nitrat dan fosfat. Nutrisi dalam proses fotosintesis berperan dalam pembentukan klorofil sehingga peningkatan kandungan nutrisi dalam air akan meningkatkan produksi klorofil a. Oleh karena itu, dalam media kultur terkontrol, banyak teknologi pengayaan nutrisi telah dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi pigmen alga T. chuii. Pengayaan media dapat berupa pupuk. Lebih lanjut, kemampuan T. chuii dalam memicu plankton untuk mendukung pertumbuhan dan kandungan nutrisi Artemia sp. perlu eksplorasi lebih lanjut sehingga dapat meningkatkan produksi Artemia sp. berkontribusi sebagai nutrisi untuk pertumbuhan bakteri halofilik sehingga mengurangi pengotor garam dan meningkatkan kandungan NaCl.
Pemberian Gracilaria sp 16 mg N/mL. pemberian pupuk organik cair pada media budidaya T. chuii memberikan pengaruh terbaik terhadap Artemia sp. pertumbuhan panjang dan berat badan. Hal ini juga berkontribusi terhadap kandungan gizi (protein, karbohidrat, lemak, air, dan abu) Artemia sp. Oleh karena itu, pupuk organik ini dapat dijadikan sebagai alternatif pengganti pupuk Walne. Pertumbuhan Artemia sp yang baik. juga berkontribusi terhadap penyerapan mineral pencemar Mg2+ dan SO42- yang dimanfaatkan dalam pertumbuhan, metabolisme, dan pembentukan eksoskeleton pada Artemia sp. (ditunjukkan dengan kandungan karbon yang tinggi. Pertumbuhan Artemia sp. juga mampu menurunkan kopresipitasi pada kristal garam dan meningkatkan tingkat kemurnian NaCl hingga 97%, standar garam industri berdasarkan persyaratan mutu garam industri. Penelitian yang dilakukan dapat mendukung hilirisasi produk hasil rekayasa penelitian di bidang teknologi untuk meningkatkan nilai tambah produk garam dan menjadi bagian kontribusi pencapaian SDG ke-14 tentang kehidupan di bawah air.
Penulis : Prof. Ir. Mochammad Amin Alamsjah, M.Si., Ph.D.
Fakultas Perikanan dan Kelautan – 51动漫

Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan, 16 (1): 119-135.

AKSES CEPAT