atau Lembaga Penyakit Tropis (LPT) merupakan institut penyakit tropis pertama yang didirikan di UNAIR pada tahun 1993. Pendirian ITD UNAIR menjadi bentuk dukungan universitas terhadap implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi.
淎walnya ITD itu terbentuk bermula dari sebuah proyek kolaborasi antara institusi Indonesia dan institusi di Jepang. Nah, kala itu UNAIR juga memegang andil dalam projek tersebut. Alhasil, mulai ada dorongan untuk membentuk research center terkait penyakit tropis pertama di FK UNAIR hingga sekarang dikenal dengan ITD, jelas Ketua ITD Prof Maria Lucia Inge Lusida, dr MKes PhD SpMK(K).
Di usianya yang genap 31 tahun, ITD memiliki dampak yang besar bagi UNAIR khususnya pada bidang riset dan penelitian. Prof Inge mengatakan, ITD UNAIR tak pernah hengkang dalam menyumbangkan catatan deretan publikasi jurnal internasional, riset dan penelitian, serta hilirisasi berupa produk riset berpaten. Namun, pencapaian itu tidak semudah membalikkan tangan bagi ITD UNAIR untuk konsisten melakukan riset dan penelitian.
淪ebuah riset dan penelitian tentu tidak dapat dilakukan dengan sembarangan. Melainkan memerlukan waktu yang cukup panjang dan penelitian mendalam untuk menciptakan kebermanfaatan untuk masyarakat, imbuh Prof Inge.
Aset Berharga
Prof Inge melanjutkan, ITD UNAIR sangat terbuka untuk segala lapisan universitas dalam melakukan riset dan penelitian. Tak hanya pada lapisan dosen atau tenaga pendidik, namun juga para mahasiswa baik dari jenjang S1 hingga S3. Menurutnya, melakukan suatu penelitian merupakan suatu keharusan di masa sekarang.
淜ami akan terus mendukung segala lapisan universitas yang berkeinginan untuk melakukan riset dan penelitian. ITD UNAIR sendiri kerap kali melakukan kolaborasi riset dengan para peneliti non dosen, ujar Prof Inge
Guru Besar Fakultas Kedokteran (FK) UNAIR itu menerangkan, dengan penelitian dapat mengasah sumber daya manusia (SDM) yang potensial. SDM yang potensial itu merupakan kunci dalam melakukan suatu penelitian. Tantangan bagi seorang peneliti tak hanya pada SDM, namun hal-hal penunjang lainnya. Yakni, teknologi yang canggih dan mutakhir untuk mendukung kelancaran dari suatu riset dan penelitian.

淣ah, riset-riset itu terkadang membutuhkan teknologi yang canggih sebagai pendukung. Namun, teknologi yang dibutuhkan tentunya memerlukan biaya yang cukup besar, ungkap Prof Inge.
Target Berkelanjutan
Ketua ITD itu menerangkan, bahwa setiap tahunnya akan memiliki target-target yang harus dipenuhi. Salah satunya, publikasi pada Q1 dan Q2 serta produk-produk yang dipatenkan.Selanjutnya, produk-produk yang telah berlisensi akan dilakukan layak uji di industri. 淪alah satu produk yang ITD UNAIR ciptakan yakni obat kumur. Obat ini telah diproduksi secara massal di masyarakat luas, terangnya
Prof Inge menegaskan, dalam hal itu ITD UNAIR tak hanya berfokus kepada target, namun juga pada keberlanjutan inovasi tersebut. 淒alam hal ini perlu ditekankan bahwa sebuah penelitian berbeda dengan orang membuka warung. Kita membeli banyak barang lalu berhenti begitu saja. Sebuah penelitian harus memiliki keberlanjutan, tegas Prof Inge.
Prof Inge berharap ITD akan terus berkembang dan memperluas relasi. Terutama untuk riset-riset selanjutnya, dengan institusi lainnya di dunia serta membawa kebermanfaatan untuk masyarakat luas.
Penulis: Satrio Dwi Naryo
Editor: Yulia Rohmawati





