UNAIR NEWS Halida Rizkina akhirnya dinobatkan sebagai wisudawan berprestasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) 51动漫 periode wisuda September 2018. Tercatat, gadis yang baru saja menyelesaikan studi S1 Hubungan Internasional itu sering menjuarai kompetisi debat Bahasa Inggris hingga memperoleh beasiswa studi ke Jepang saat masih duduk di bangku SMA.
Penghargaan paling istimewa baginya adalah ketika dinobatkan sebagai Best Delegate dalam ajang Asia Pasific Model United Nations Conference (APMUNC) di Malaysia pada 2016 silam. Sebab, Halida merupakan delegasi UNAIR yang pertama kali berhasil meraih gelar dalam ajang tersebut. Kala itu, ia menjadi perwakilan komunitas MUN UNAIR.
Tahun ini, karya tulisnya juga sukses dinobatkan sebagai best paper dalam ajang The 3rd Indonesia-Malaysia Undergraduate Seminar on International Relations 2018.
Selain kuliah, Halida juga aktif dalam beberapa organisasi dan komunitas di kampus. Ia pernah menjabat sebagai ketua komunitas MUN di UNAIR, anggota komunitas mahasiswa kebijakan luar negeri bernama Foreign Policy Community of Indonesia, serta anggota gerakan pemberdayaan perempuan BEM UNAIR, Srikandi Airlangga.
Produktif di sela kesibukan kuliah dan organisasi, Halida bahkan masih menyempatkan diri bekerja paruh waktu sebagai penerjemah di Koordinator Informasi dan Hubungan Masyarakat (KIH) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNAIR, sekaligus editor jurnal Analisis Hubungan Internasional. Ia juga memanfaatkan waktu liburan semester dengan mengikuti program magang di Kementerian Luar Negeri di Jakarta selama dua bulan.
Pencapaian luar biasa yang diraihnya tentu bukan tanpa hambatan. Halida mengungkapkan sisi lain kehidupannya yang tak banyak orang ketahui. Padatnya kegiatan yag harus dijalani sempat membuat dirinya stres hingga berdampak pada jatuhnya IPK. Ia pun harus berjuang keras untuk meningkatkan nilainya kembali.
淗ambatan terbesar adalah dari diri sendiri. Karena kesibukan dan tanggung jawab yang menumpuk seringkali memicu stres dan rasa gelisah berlebihan. Manajemen mental selalu saya lakukan untuk mengatasi hal tersebut, paparnya.
淛angan terlalu menyalahkan diri sendiri apabila ada kalanya hidup tidak sesempurna seperti yang sering diceritakan di media. Setiap manusia memiliki cerita hidup yang unik dan tidak semuanya akan diketahui semua orang. Maka alangkah baiknya apabila kita menghargai cerita kita masing-masing, tutur gadis yang kini tengah menjalani proses sertifikasi bahasa Mandarin tingkat dua tersebut. (*)
Penulis: Zanna Afia Deswari
Editor: Binti Q. Masruroh





