UNAIR NEWS Mengingat kembali perjalanan selama studi, membuat Dr. Noorce Christiani Berek, S.KM., M.Kes tak mampu membendung air mata. Banyak sekali pengalaman yang mengiringi proses meraih gelar Doktornya. Selain modal pengetahuan, peraih IPK 3,79 ini harus punya kesabaran besar selama studi. Bertahun-tahun terpisah dari suami dan anak-anaknya di Kupang (NTT). Noorce teringat momen terberat ketika harus sembilan kali seminar dan ujian untuk menyelesaikan studi.
淪aya rasanya seperti mau mundur dan pulang ke Kupang. Saya sudah siap meninggalkan suami dan anak di Kupang. Ini merupakan perjuangan tersendiri bagi seorang ibu seperti saya, katanya.
Termasuk ketika ujian kualifikasi. Penguji disertasinya mengatakan, rencana penelitiannya tak dapat dilanjutkan atau dapat dilanjutkan namun dengan koreksi cukup banyak.
淪aya sempat tidak mampu berpikir lagi dan merasa jenuh dengan semua aktivitas studi yang selama ini saya lakukan. Saya meninggalkan proposal disertasi selama tujuh bulan. Rasanya sulit sekali memacu diri untuk mempersiapkan seminar dan ujian proposal berikutnya, ungkap wisudawan terbaik S-3 Ilmu Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UNAIR ini.
Di saat sedang terpuruk, dukungan keluarga dan sahabat rupanya ampuh membangkitkan gairahnya untuk melanjutkan perjuangan. 淪aya selalu berada dalam lingkaran komunitas seperjuangan, yaitu teman-teman yang juga sedang menyelesaikan S-3, jadi kami dapat saling berdiskusi dan sharing, tambahnya.
Ia mengaku tidak punya 榬ahasia belajar. Hanya berprinsip fokus pada tujuan akhir. Dalam disertasinya, Noorce menggali permasalahan seputar tindakan atau perilaku tidak aman dalam bekerja, khususnya pekerja konstruksi gedung. Dalam penelitian itu, ia membuat model tanggap hambatan terhadap tindakan/perilaku tidak aman. Sejumlah penelitian sebelumnya menunjukkan faktor internal inilah yang berperan penting dalam membentuk tindakan atau perilaku seseorang. (*)
Penulis : Sefya Hayu Istighfaricha
Editor : Desrian Sukma S/ Bes





