Selama ini, identifikasi dalam dunia forensik lebih banyak mengandalkan sidik jari, rekam gigi, atau analisis DNA. Namun, sebuah penelitian terbaru dari Indonesia menunjukkan bahwa jejak bibir juga berpotensi menjadi alat bantu dalam mengungkap identitas seseorang, termasuk menentukan jenis kelamin.
Penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Gigi 51动漫 ini mengkaji pola garis pada bibir manusia, yang dikenal sebagai lip print. Kajian ini merupakan bagian dari ilmu forensik yang disebut cheiloscopy, yaitu studi tentang pola bibir untuk keperluan identifikasi.
Dalam penelitian tersebut, para peneliti menganalisis 96 sampel jejak bibir dari remaja berusia 16 hingga 20 tahun, yang terdiri dari 40 laki-laki dan 56 perempuan. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode sederhana namun terstandar: bibir partisipan diolesi lipstik, kemudian ditempelkan pada selotip transparan dan dipindahkan ke kertas putih sebelum dianalisis secara digital.
Untuk meningkatkan akurasi, setiap jejak bibir dibagi menjadi enam bagian atau kuadran, yakni kiri atas, tengah atas, kanan atas, kiri bawah, tengah bawah, dan kanan bawah. Setiap bagian kemudian diklasifikasikan berdasarkan bentuk pola garisnya, seperti garis lurus, bercabang, saling berpotongan, hingga pola yang tidak beraturan.
Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan pola bibir antara laki-laki dan perempuan. Secara umum, laki-laki lebih banyak memiliki pola garis lurus (Type I), sementara perempuan cenderung memiliki pola bercabang (Type II). Meski demikian, tidak semua bagian bibir menunjukkan perbedaan yang signifikan. Temuan ini menunjukkan adanya fenomena yang disebut dimorfisme seksual, yaitu perbedaan karakteristik biologis antara laki-laki dan perempuan. Namun, dalam konteks lip print, perbedaan tersebut masih bersifat terbatas dan belum merata di seluruh area bibir.
Para peneliti menjelaskan bahwa jejak bibir memiliki potensi sebagai alat bantu dalam investigasi forensik, terutama dalam situasi di mana bukti lain seperti sidik jari tidak tersedia. Jejak bibir dapat ditemukan pada berbagai benda di tempat kejadian perkara, seperti gelas, rokok, kertas, atau bahkan pakaian.
Dalam kondisi tertentu, keberadaan jejak bibir bisa menjadi petunjuk penting untuk mengidentifikasi seseorang, baik sebagai korban maupun pelaku. Hal ini menjadi semakin relevan mengingat tidak semua kasus kriminal menyediakan bukti yang lengkap.
Meski demikian, para ahli menekankan bahwa analisis lip print belum dapat digunakan sebagai metode utama dalam menentukan jenis kelamin. Variasi pola yang cukup besar antar individu, serta perbedaan yang tidak konsisten di semua bagian bibir, menjadi tantangan utama dalam penerapannya. Selain itu, kualitas jejak bibir juga sangat memengaruhi hasil analisis. Tekanan saat pengambilan sampel, ketebalan lipstik, hingga kondisi bibir seperti kelembapan atau kebersihan dapat memengaruhi kejelasan pola yang dihasilkan. Kesalahan kecil dalam proses ini berpotensi menyebabkan interpretasi yang kurang akurat.
Penelitian ini juga menyoroti bahwa pola bibir tidak hanya dipengaruhi oleh satu faktor. Unsur genetik, hormon, serta perkembangan struktur wajah sejak usia dini turut berperan dalam membentuk variasi pola bibir pada setiap individu. Karena itu, hasil penelitian yang diperoleh pada kelompok remaja Indonesia ini belum tentu dapat langsung diterapkan pada populasi lain atau kelompok usia yang berbeda. Diperlukan penelitian lanjutan dengan cakupan yang lebih luas untuk memastikan validitas dan keandalannya.
Ke depan, penggunaan teknologi seperti machine learning dan analisis citra digital diharapkan dapat meningkatkan akurasi dalam membaca pola bibir. Dengan bantuan sistem otomatis, proses identifikasi dapat menjadi lebih objektif dan mengurangi ketergantungan pada penilaian subjektif peneliti. Temuan ini menjadi pengingat bahwa dalam dunia forensik, setiap detail kecil bisa memiliki arti penting. Bahkan sesuatu yang sering dianggap sepele, seperti jejak bibir, ternyata menyimpan informasi yang berpotensi membantu mengungkap identitas seseorang.
Meski masih berada pada tahap awal pengembangan, penelitian ini membuka peluang baru dalam metode identifikasi forensik yang lebih sederhana, terjangkau, dan mudah diterapkan, khususnya di negara berkembang. Di masa depan, bukan tidak mungkin jejak bibir yang tertinggal di sebuah benda sehari-hari justru menjadi kunci penting dalam mengungkap sebuah kasus besar.
Ditulis oleh: Arofi Kurniawan
Dikutip dari artikel berjudul: Sexual dimorphism through lip print analysis: a study on pattern variations among Indonesian adolescents
Link artikel:





