Isu lingkungan kini bukan lagi sekadar urusan aktivis atau regulator. Di Asia Tenggara, perusahaan publik semakin berada di bawah sorotan investor global, konsumen, dan masyarakat sipil untuk menunjukkan komitmen nyata terhadap keberlanjutan lingkungan. Namun, satu pertanyaan penting sering luput dari perhatian: siapa aktor kunci di balik transparansi lingkungan perusahaan? Penelitian terbaru kami yang terbit di Journal of Asian Business and Economic Studies mengungkap bahwa jawabannya tidak hanya terletak pada aturan atau standar pelaporan, tetapi juga pada jejaring sosial yang dimiliki oleh CEO, serta dinamika gender di dalam dewan direksi. Penelitian ini dikerjakan secara tim oleh Suham Cahyono, S.A., M.Acc., Prof. Dr. Ardianto, SE., M.Si., Ak., CA., Dr. Abu Hanifa Md Noman, dan Prof. Dr. Hadrian Geri Djajadikerta dalam rangka penelitian kolaborasi internasional.
CEO dan Modal Sosial: Aset Tak Kasat Mata
CEO tidak hanya memimpin perusahaan dari balik meja rapat. Mereka juga berinteraksi dengan regulator, asosiasi bisnis, investor, akademisi, dan organisasi masyarakat. Relasi-relasi inilah yang membentuk apa yang disebut sebagai modal sosial CEO攌ombinasi reputasi, jaringan profesional, dan eksposur publik.
Berdasarkan analisis terhadap 937 observasi perusahaan publik non-keuangan di Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand selama periode 20172023, kami menemukan bahwa CEO dengan modal sosial yang lebih kuat cenderung mendorong perusahaan untuk lebih transparan dalam mengungkapkan informasi lingkungan. Perusahaan-perusahaan ini lebih terbuka dalam melaporkan dampak perubahan iklim, penggunaan air, dan isu kehutanan.
Mengapa demikian? CEO yang memiliki reputasi publik dan jejaring luas menghadapi tekanan reputasi yang lebih besar. Mereka memiliki insentif untuk menjaga legitimasi perusahaan di mata para pemangku kepentingan, sehingga transparansi lingkungan menjadi strategi penting untuk membangun kepercayaan.
Ketika Keberagaman Gender Justru Memperlambat
Namun, temuan kami juga menghadirkan paradoks menarik. Keberagaman gender di dewan direksi攌hususnya meningkatnya jumlah perempuan攖ernyata melemahkan pengaruh positif modal sosial CEO terhadap pengungkapan lingkungan.
Ini bukan berarti perempuan di dewan tidak peduli pada isu lingkungan. Justru sebaliknya. Dewan yang lebih beragam cenderung melakukan pengawasan yang lebih ketat dan diskusi yang lebih kritis. Akibatnya, keputusan strategis攖ermasuk terkait pelaporan lingkungan攕ering kali membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai konsensus.
Dalam konteks ini, dewan yang lebih beragam berperan sebagai penyeimbang. Mereka mencegah CEO dengan jejaring kuat untuk terlalu agresif dalam mengungkapkan informasi yang berpotensi bersifat simbolik atau berlebihan. Dengan kata lain, keberagaman gender membantu memastikan bahwa transparansi bukan sekadar pencitraan, melainkan benar-benar mencerminkan praktik yang substansial.
Dampaknya bagi Nilai Perusahaan
Lebih jauh lagi, penelitian ini menunjukkan bahwa transparansi lingkungan berkontribusi pada peningkatan nilai perusahaan. Investor menilai keterbukaan sebagai sinyal tata kelola yang baik dan manajemen risiko yang lebih matang. Modal sosial CEO, keberagaman dewan, dan transparansi lingkungan membentuk sebuah mekanisme berlapis yang pada akhirnya memengaruhi persepsi pasar.
Namun hubungan ini tidak sederhana. Transparansi yang didorong oleh reputasi harus diimbangi dengan pengawasan dewan yang efektif agar tidak berubah menjadi praktik 渉ijau di atas kertas atau greenwashing.
Pelajaran bagi Dunia Usaha dan Pembuat Kebijakan
Temuan ini membawa beberapa pelajaran penting. Bagi perusahaan, modal sosial CEO seharusnya dipandang sebagai aset strategis, sama pentingnya dengan pengalaman atau kemampuan teknis. Proses rekrutmen dan pengembangan kepemimpinan perlu mempertimbangkan kapasitas CEO dalam membangun jejaring lintas sektor yang kredibel.
Di sisi lain, keberagaman gender di dewan tetap krusial, tetapi perlu diiringi dengan mekanisme tata kelola yang mendukung pengambilan keputusan yang efektif. Pelatihan kolaboratif dan penguatan peran komite keberlanjutan dapat membantu menyeimbangkan kualitas diskusi dan kecepatan keputusan.
Bagi regulator dan investor, hasil ini menegaskan bahwa kualitas tata kelola perusahaan tidak bisa dinilai hanya dari struktur formal. Interaksi antara karakter CEO dan dinamika dewan memainkan peran besar dalam menentukan seberapa autentik komitmen lingkungan sebuah perusahaan.
Pada akhirnya, transparansi lingkungan bukan hanya soal laporan, melainkan tentang siapa yang memimpin, bagaimana mereka terhubung, dan bagaimana keputusan diawasi. Di tengah tuntutan keberlanjutan yang semakin kuat, memahami faktor-faktor manusia di balik tata kelola menjadi kunci untuk mendorong perubahan yang nyata.
Oleh: Prof. Dr. Ardianto, SE., M.Si., Ak., CA., CMA.
Untuk mengakses artikel tersebut, silahkan mengunjungi tautan berikut:





