Infeksi menular seksual (IMS) dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius, tetapi sering kali menunjukkan gejala ringan atau tidak ada sama sekali, sehingga sulit dideteksi. Skrining yang terbatas berdasarkan keluhan pasien dapat menghambat identifikasi koinfeksi, yang umum terjadi pada pasien IMS. Faktor-faktor seperti usia, jenis kelamin, status perkawinan dan perilaku seksual berkontribusi terhadap risiko koinfeksi. Koinfeksi meningkatkan penyebaran IMS, termasuk HIV. Namun, faktor risiko dan prevalensi koinfeksi di Indonesia masih belum jelas, sehingga penelitian ini bertujuan pada identifikasi faktor-faktor tersebut di RSUD Dr. Soetomo di Surabaya, Indonesia.
Penelitian ini melibatkan pasien dengan koinfeksi yang tercatat dalam rekam medis RSUD Dr. Soetomo. Pasien dengan catatan yang tidak lengkap tidak dimasukkan dalam penelitian. Koinfeksi didefinisikan sebagai memiliki setidaknya dua infeksi yang berbeda. Data yang dikumpulkan meliputi jenis kelamin, usia, pekerjaan, status perkawinan, jumlah pasangan seksual, orientasi seksual, dan perilaku nonseksual. Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan uji Chi-square.
Penelitian ini menemukan bahwa dari tahun 2019 hingga 2021 terdapat 416 pasien dirawat karena IMS dengan 187 pasien mengalami koinfeksi. Korelasi yang signifikan ditemukan antara jenis kelamin dan orientasi seksual. Mayoritas pasien koinfeksi adalah perempuan (143) dengan koinfeksi yang paling umum adalah keputihan (44,5%) dan infeksi non-gonokokal (34,8%). Kelompok pasien koinfeksi terbesar berusia 15-25 tahun (36,9%). Penelitian ini menemukan bahwa infeksi non-gonokokal, kandida vulvovaginitis dan bakterial vaginosis merupakan koinfeksi yang paling umum terjadi.
Penulis : Arifiana Wungu Kartika Dewi, dr.
Informasi lengkap dari artikel ini dapat diunduh pada:
Baca juga: Risiko Peningkatan Aktivitas Seksual Remaja Perguruan Tinggi





