51动漫

51动漫 Official Website

Juara Sayembara Manuskrip, Alumni FIB UNAIR Terbitkan Buku Puisi

Muhammad Daffa, Alumni Sastra Indonesia FIB UNAIR angkatan 2017 (Foto: Dok. Narasumber)
Muhammad Daffa, Alumni Sastra Indonesia FIB UNAIR angkatan 2017 (Foto: Dok. Narasumber)

UNAIR NEWS Alumni 51动漫 (UNAIR) kembali menorehkan prestasi membanggakan. Muhammad Daffa, alumni Program Studi Sastra Indonesia (FIB) UNAIR, meraih juara 3 dalam Sayembara Penulisan Manuskrip Aruh Sastra Kalimantan Selatan (ASKS) XX tahun 2023. Penyair asal Banjarbaru tersebut mengemas puisinya dalam manuskrip berjudul Catatan dari Pekarangan Acak dan menerbitkannya melalui Penerbit Lumpur. 

Mengangkat tema Sastra Sungai ke Sungai Sastra, sayembara tersebut menjadi ajang tahunan yang bergengsi bagi para sastrawan di Kalimantan. Menariknya, Sayembara ASKS XX 2023 membuka kesempatan bagi penulis dari seluruh wilayah Kalimantan, berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang hanya membuka partisipasi untuk peserta dari Kalimantan Selatan.

Buku kumpulan puisi Catatan dari Pekarangan Acak karya Muhammad Daffa (Foto: Dok. Narasumber)
Lahirnya Catatan dari Pekarangan Acak

Daffa menyusun manuskrip dari puisi-puisi lama yang sebelumnya telah ia unggah pada akun Instagram pribadinya. Beberapa ia sunting ulang dan gabungkan agar lebih padu. Menurutnya, bagian tersulit justru saat menulis puisi sesuai tema sayembara, Sastra Sungai ke Sungai Sastra, mengingat ia tumbuh di lingkungan kota, bukan di daerah pedesaan atau bantaran sungai.

Lebih lanjut, Daffa menjelaskan, Catatan dari Pekarangan Acak adalah kumpulan puisi dari berbagai peristiwa dan pengalaman yang tidak bertema tunggal, namun saling terhubung oleh benang merah. Puisi-puisi dalam buku tersebut semacam catatan dari berbagai perasaan yang ia rasakan selama merantau, mulai dari pertemuan hingga perpisahan.

淵ang ingin aku bangun dari awal adalah pengalaman hidup di kota, baik itu di Kalimantan maupun di Surabaya. Banyak yang menggambarkan relasi sosial, peristiwa personal, bahkan dinamika perkotaan. Aku ingin menghadirkan cara pandang seorang anak Kalimantan Selatan yang hidup di lingkungan kota dan merantau, lalu menuliskan pengalamannya, ujar Daffa kepada UNAIR News (3/6/2025).

Tumbuh Bersama Sastra Sejak Kecil

Minatnya terhadap dunia sastra tumbuh sejak kecil. Ketertarikannya bermula dari banyaknya cerita rakyat atau dongeng di kampung halamannya, Kalimantan Selatan. Sementara puisi mulai ia tekuni saat berada di bangku SMA, setelah terinspirasi dari M Aan Mansyur, yang membuktikan bahwa puisi bisa ditulis dengan bahasa yang tidak kaku atau mendayu-dayu. 

Saat itu pula, ia menyadari bahwa ia dapat mengkaji puisi secara ilmiah, menganalisis, bahkan menjadi objek studi. Hal tersebut mendorongnya untuk memilih jurusan Sastra Indonesia FIB UNAIR. Selama masa kuliah, ia aktif mengembangkan minatnya dalam menulis puisi dan berdiskusi karya bersama rekan-rekannya.

淲alaupun setelah beberapa semester kami mulai merasa jenuh, karena kuliah sastra ternyata lebih banyak teori dibanding praktik membedah karya, kami tetap mencoba mencari ruang sendiri. Aku dan teman-teman akhirnya membuat forum, supaya kami bisa belajar mengupas karya sastra dengan pendekatan teori, tapi nggak melulu kaku dan teoretis, jelasnya.

Setelah beberapa kali menerbitkan buku puisi sejak SMA, Daffa mengatakan bahwa Catatan dari Pekarangan Acak kemungkinan besar akan menjadi buku puisinya yang terakhir. Ia berencana menuliskan cerita pendek atau cerpen sebagai karya berikutnya. Kendati demikian, Daffa akan tetap berkarya dan membagikan tulisannya melalui media sosial, terutama Instagram.

淯ntuk sementara aku akan rehat dari puisi. Harapanku, buku ini bisa menjangkau lebih banyak pembaca, khususnya mahasiswa, dan memantik diskusi sastra. Aku nggak ingin bukuku hanya sekadar jadi bahan pujian. Manuskrip ini harus tetap terbuka untuk dikritik, dikuliti, dan dibedah secara akademik, pungkasnya.

Penulis: Fania Tiara Berliana Marsyanda

Editor: Ragil Kukuh Imanto

AKSES CEPAT