COVID-19 masih menjadi topik hangat perkembangan ilmu pengetahuan. COVID-19 menjadi salah satu sejarah pandemic dalam 3 tahun terakhir (2019-2022) di Indonesia dan dunia. CCOVID-19 atau Coronavirus Disease-19 merupakan penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh terutama pada pernapasan manusia. Kelompok Lanjut Usia (Lansia) merupakan kelompok yang memiliki risiko tinggi terinfeksi COVID-19 karena menurunnya sistem tubuh mereka. Pasien terkonfirmasi COVID-19 akan mendapatkan berbagai pemeriksaan klinis salah satunya pemeriksaan sel leukosit. Sel leukosit secara umum memiliki peran dalam hal sistem imun untuk melawan infeksi termasuk pada lansia. Beberapa penelitian sebelumnya didapatkan bahwa evaluasi sel leukosit dapat membantu dalam memprediksi tingkat keparahan dari infeksi COVID-19, selain itu variasi sel leukosit juga dapat berkontribusi pada peningkatan keparahan klinis dan secara langsung mengindikasikan prognosis buruk dari infeksi SARS-CoV-2.
Penelitian ini melibatkan 93 pasien lansia dengan rentang usia 60 hingga 88 tahun, 16 lansia merupakan pasien dengan gejala COVID-19 yang parah dan membutuhkan ventilator, sedangkan 77 pasien lainnya memiliki gejala sedang COVID-19 namun masih membutuhkan penanganan intensif dari tenaga kesehatan. Hasil penelitian jumlah sel leukosit pasien lansia dengan ventilator memiliki sel leukosit tertinggi yaitu 19.720/mm3 pada pasien berusia 66 tahun dan terendah yaitu 3.760/mm3 pada pasien berusia 81 tahun. Pada pasien tanpa ventilator jumlah sel leukosit tertinggi adalah 20.880/mm3 pada pasien berusia 79 tahun (sedikit lebih tinggi daripada pasiendengan ventilator), sedangkan jumlah leukosit terendah adalah 3.900/mm3 pada pasien berusia 78 tahun. Berdasarkan pengelompokan usia pasien lansia berisiko tinggi pada penelitian ini didapatkan bahwa pasien dengan usia 70 tahun ke atas memiliki risiko 1,5 kali lebih tinggi untuk membutuhkan ventilator dibandingkan lansia dibawah 70 tahun. Sedangkan berdasarkan jenis kelamin, mayoritas pasien terkonfirmasi COVID-19 pada penelitian ini adalah laki-laki, namun berdasarkan risiko tingkat keparahan, pasien lansia perempuan memiliki risiko 1,9 kali lebih tinggi daripada laki-laki untuk membutuhkan perawatan ventilator.
Faktor risiko yang dapat terindentifikasi pada penelitian ini adalah usia 70 tahun keatas sebagai kelompok usia berisiko. Usia tua akan berisiko memiliki komorbiditas, melemahnya sistem imun dan meningkatnya sitokin pro-inflamasi. Usia 70 tahun keatas juga memiliki risiko hingga 65% untuk terinfeksi COVID-19 dan memiliki risiko gejala yang parah saat terinfeksi hingga membutuhkan perawatan intensif.
Berdasarkan jenis kelamin, kromosom X dan esterogen pada perempuan memiliki peran pada sistem imun. Perempuan juga memiliki sistem imun innate dan adaptif yang lebih kuat daripada laki-laki. Pengaruh biologis lainnya yaitu reseptor Angiotensin Converting Enzyme 2 (ACE2). ACE2 memiliki peran sebagai gerbang reseptor masuknya virus ke dalam jaringan tubuh. Penelitian sebelumnya oleh Fernandez (2017) didapatkan bahwa pada lansia perempuan diatas 55 tahun memiliki aktivitas ACE2 yang tinggi dibandingkan perempuan berusia dibawah 55 tahun. Tingginya aktivitas ACE2 dapat meningkatkan risiko keparahan COVID-19.
Penulis: Nur Septia Handayani, S.K.M., M.P.H.
Secara lengkap dapat diakses pada artikel kami yang berjudul 滐豢The Total Leukocyte Count Of Elderly Patients Confirmed COVID-19 With/Without a Ventilator In a Surabaya General Hospital In 2021 pada link:
https://doi.org/10.20473/jvhs.V7.I1.2023.55-62





