51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Kadar Fecal Calprotectin yang Tinggi dan C-Reactive Protein pada Pasien Kolitis

Kolitis adalah kondisi di mana usus besar tampak normal selama pemeriksaan kolonoskopi, tetapi hasil pemeriksaan jaringan menunjukkan peningkatan sel limfosit intraepitel di mukosa kolon. Gejala utama penderita kolitis adalah nyeri perut kronis yang disertai diare atau konstipasi.

Hingga 2021, terdapat 10 kasus penyakit radang usus (IBD); 2,2“14,3 kasus ulseratif kolitis (UC) dan 3,1“14,6 kasus penyakit Chron’s disease (CD) per 100.000 penduduk di Indonesia.

Metode standart untuk mendiagnosis kolitis adalah kombinasi kolonoskopi dan pemeriksaan patologi anatomi ileum terminal dan usus besar. Sedangkan, untuk mengevaluasi dan mengklasifikasikan risiko pasien menggunakan pemeriksaan non-invasif yang lebih sederhana dan murah. Pada kasus IBD, pemeriksaan biomarker tinja untuk mengkonfirmasi diagnosis dan memprediksi aktivitas mukosa tidak lagi digunakan karena pada beberapa pasien dengan kolitis  mikroskopis terjadi peningkatan yang bervariasi. Oleh karena itu, pemeriksaan fecal calprotectin (FC) saat ini lebih disukai sebagai salah satu pemeriksaan wajib untuk diagnosis peradangan saluran cerna.

Pemeriksaan penanda inflamasi serologis umum biasanya menunjukkan hasil normal atau hanya sedikit peningkatan kolitis kolagen (CC) dan kolitis limfositik (LC). Sehingga tidak berpengaruh signifikan terhadap diagnostik tetapi, masih dapat digunakan untuk memantau perjalanan penyakit. C-Reactive,Protein (CRP) adalah agen proinflamasi serologis yang berinteraksi dengan interleukin-6 (IL-6), interleukin-1β (IL-1β), dan tumor necrosis factor-α (TNF-α). Peradangan akan merangsang pelepasan tiga sitokin esensial tersebut, yang semuanya menginduksi CRP. Sitokin IL-6 yang diproduksi oleh makrofag dan sel T juga dapat mempengaruhi kadar CRP karena secara langsung menginduksi protein fase akut yang dikeluarkan oleh hati.

Sebuah studi menemukan bahwa kadar FC berkorelasi 0,834 kali dengan peningkatan aktivitas penyakit yang diukur menggunakan indeks Rachmilewitz. Studi lainnya pada pasien UC menggunakan indeks Baron menemukan bahwa FC mempunyai korelasi yang lebih baik daripada CRP. Berdasarkan gambaran di atas, peneliti dari Divisi Gastroentero-Hepatologi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam, 51¶¯Âþ melakukan penelitian untuk mengevaluasi hubungan antara FC dan CRP sebagai biomarker kolitis dan aktivitas mukosa pada pasien IBD. Hasil penelitian berhasil diterbitkan di Journal Medicine and Life salah satu jurnal terindeks Scopus kuartil 3.

Penelitian dilakukan di RSUD Dr Soetomo Surabaya pada bulan Maret sampai Agustus 2020 dengan melibatkan sebanyak 30 responden yang didiagnosis kolitis melalui kolonoskopi dan patologi anatomi. Terdapat 16 subjek laki-laki dan 14 subjek perempuan. Gejala yang paling umum adalah diare yaitu sebanyak 50% subjek mengeluh buang air besar dengan konsistensi cair lebih dari tiga kali sehari dengan atau tanpa lendir dan darah, 5 subjek mengeluhkan nyeri perut, dan 10 peserta tidak memiliki keluhan. Diagnosis partisipan berdasarkan hasil patologi anatomi didominasi oleh pasien kolitis kronik non-spesifik pada 28 subjek dan 2 lainnya didiagnosis kolitis ulseratif. Jenis obat yang diberikan kepada responden antara lain: sulfasalazine dan lansoprazole.

Adapun rata-rata kadar FC responden adalah 118,11 ± 145,65 µg/g dengan nilai minimum 7,3 µg/g, dan maksimum 722 µg/g. Rata-rata kadar FC pada kolitis kronis non-spesifik dan kolitis ulseratif masing “ masing 117,09±149,72 µg/g dan 132,4±97,44 µg/g. Hasil pemeriksaan FC positif (≥50 µg/g) ditemukan pada 20 subjek dan FC negatif (50 µg/g) ditemukan pada 10 subjek. Rerata kadar CRP adalah 13,64±17,48 mg/L dengan nilai minimum 0,08 mg/L dan maksimum adalah 115 mg/L. Rerata level CRP pada pasien kolitis kronis non-spesifik adalah 13,54±8,09 mg/L sedangkan, pada pasien kolitis ulseratif: 15±4,24 mg/L. Hasil pemeriksaan CRP positif  (10“15 mg/L) ditemukan pada 13 subjek dan negatif (<10 mg/L) ditemukan pada 17subjek.

Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa FC memiliki hubungan yang signifikan dengan CRP (r=0,57; p<0,001), bahkan setelah disesuaikan dengan usia. Kadar FC memiliki signifikansi yang lebih baik untuk mendeteksi kolitis dibandingkan dengan CRP. Berdasarkan literature, minimal dua biomarker, termasuk FC dan CRP, diperlukan untuk menegakkan diagnosis kolitis. Pada penelitian sebelumnya, nilai normal fecal calprotectin yang digunakan adalah 2 mg/L, dengan batas uji 10 mg/L. Batas uji FC 10 mg/L cukup efektif dalam mengidentifikasi penyakit usus organik dengan sensitivitas 89% dan spesifisitas 79%, sedangkan kadar FC lebih besar dari 100 µg/g dapat mendeteksi penyakit radang usus aktif. Menilai kadar FC dan CRP di antara pasien kolitis berguna untuk menilai perburukan gejala secara dini dan mengurangi mortalitas dan morbiditas.

Penulis: Brinna Anindita, Titong Sugihartono, Muhammad Miftahussurur

Artikel dapat diakses pada:

AKSES CEPAT