51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

ESG Talk Series #8 UNAIR Soroti Pentingnya Diversity dan Inclusion dalam Organisasi Modern

Pemaparan materi oleh Prof. Dr. Emy Susanti, Dra., MA dalam ESG Talk Series #8 bertajuk Advancing Diversity and Inclusion Beyond Compliance yang dilaksanakan secara daring pada Senin (21/04/2026). (Foto: Istimewa)
Pemaparan materi oleh Prof. Dr. Emy Susanti, Dra., MA dalam ESG Talk Series #8 bertajuk Advancing Diversity and Inclusion Beyond Compliance yang dilaksanakan secara daring pada Senin (21/04/2026). (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS “ 51¶¯Âþ (UNAIR) kembali menyelenggarakan ESG Talk Series #8 bertajuk Advancing Diversity and Inclusion Beyond Compliance yang berlangsung secara daring pada Senin (21/04/2026). Kegiatan ini menghadirkan Prof. Dr. Emy Susanti, Dra., MA selaku Chairperson of Centre for Gender Studies 51¶¯Âþ sebagai narasumber utama.

Mengangkat momentum Hari Kartini, diskusi ini menyoroti pentingnya memahami diversity, equity, and inclusion (DEI). Lebih khusus, tidak sekadar sebagai kewajiban administratif, tetapi sebagai strategi untuk membangun organisasi yang lebih adil, inovatif, dan berkelanjutan.

DEI sebagai Nilai Strategis dalam Organisasi

Dalam sesi pertama, Prof. Emy membahas mengenai diversity, equity, and inclusion (DEI) menjadi sorotan utama. Konsep ini ia nilai tidak lagi relevan jika hanya dipandang sebagai bentuk pemenuhan kewajiban administratif atau sekadar mengikuti standar yang berlaku.

Sebaliknya, DEI perlu mendapat posisi sebagai nilai strategis yang mampu mendorong pertumbuhan organisasi secara berkelanjutan. Pendekatan berbasis kepatuhan (compliance-based) yang selama ini masih terbatas pada indikator formal, seperti representasi angka atau laporan tahunan. Padahal, implementasi DEI yang optimal seharusnya menyentuh aspek budaya organisasi, termasuk bagaimana menciptakan rasa memiliki (sense of belonging) bagi setiap individu. Lebih dari itu, penerapan nilai keberagaman dan inklusi juga berperan dalam meningkatkan inovasi serta keunggulan kompetitif. Organisasi yang mampu mengelola keberagaman dengan baik cenderung lebih adaptif dalam menghadapi tantangan dan perubahan di era global.

Ketidaksetaraan Gender dan Pentingnya Kepemimpinan Inklusif

Dalam pemaparannya, Prof. Emy menyoroti bahwa ketidaksetaraan gender yang masih terjadi hingga saat ini merupakan hasil dari konstruksi sosial yang telah lama berkembang dalam masyarakat. Ketimpangan tersebut dapat terlihat dalam berbagai aspek, mulai dari dominasi laki-laki dalam posisi kepemimpinan hingga perbedaan perlakuan di lingkungan kerja. Ia menegaskan bahwa peran gender bukanlah sesuatu yang bersifat alami, melainkan terbentuk oleh norma dan budaya yang bisa berubah. Oleh karena itu, perlu kesadaran kolektif untuk mendorong terciptanya kesetaraan yang lebih inklusif.

Dalam konteks organisasi, hal ini berkaitan erat dengan transformasi gaya kepemimpinan. Model kepemimpinan tradisional yang cenderung hierarkis dan otoriter ia nilai kurang relevan dengan kebutuhan saat ini. Sebaliknya, kepemimpinan modern yang inklusif lebih menekankan pada kolaborasi, komunikasi dua arah, serta orientasi pada keberlanjutan.

Melalui pendekatan tersebut, organisasi tidak hanya mampu menciptakan lingkungan kerja yang adil, tetapi juga mendorong partisipasi aktif dari seluruh anggotanya. Hal ini pada akhirnya akan berkontribusi pada terciptanya inovasi dan kinerja yang lebih optimal.

Penulis: Nikita Aulia
Editor: Ragil Kukuh Imanto

AKSES CEPAT