Lupus adalah penyakit autoimun kronis yang ditandai dengan serangkaian kelainan imunologi dan produksi autoantibodi, menyebabkan peradangan luas serta menyebabkan kerusakan jaringan dan organ. Mengukur kerusakan organ pada pasien lupus sangat penting karena memungkinkan pengembangan pengobatan yang meningkatkan pengendalian penyakit sekaligus meminimalkan perkembangan kerusakan irreversibel. Jumlah pasien dengan gangguan organ akhir pada lupus dapat bervariasi, tetapi kelainan ginjal dan hematologi merupakan manifestasi yang dominan. Banyak faktor yang mempengaruhi kerusakan organ, termasuk usia, durasi penyakit, jenis kelamin, etnis, aktivitas penyakit, penggunaan kortikosteroid, kemiskinan, hipertensi, dan perilaku penyakit abnormal. Meskipun semua pasien menderita LUPUS berat, kerusakan ginjal mereka cenderung rendah, seperti yang ditunjukkan oleh kadar BUN dan kreatinin yang normal. Namun, proteinuria sedang ditemukan pada sebagian besar pasien lupus dalam penelitian ini yang menunjukkan bahwa telah terjadi gangguan filtrasi ginjal.
Pasien lupus yang dirawat di URJ Rematologi RSUD Dr. Soetomo memiliki aktivitas penyakit yang parah dengan rerata skor SLAM sebesar 29.30 卤 3.88, hal ini semakin meningkatkan resiko manifestasi kerusakan berbagai organ. Meskipun nilai BUN dan kreatinin masih dalam ambang batas normal, namun didapati adanya proteinuria pada lebih dari 85% pasien lupus dengan derajat sedang dan berat. Hal ini menandakan bahwa sudah terdapat gangguan pada proses filtrasi di ginjal pasien. Selain itu, kami juga menemukan adanya gangguan pada darah yang ditandai dengan meningkatnya laju endap darah (LED) serta rendahnya hematokrit dan hemoglobin.
Melalui studi yang dilaksanakan di URJ Rematologi RSUD Dr. Soetomo ini, secara umum, kami menemukan fakta bahwa terjadi peningkatan IL-6 dan TGF-尾 serta penurunan C3 dan C4 pada pasien lupus. Tingkat TGF-尾 secara signifikan lebih tinggi pada pasien dengan tingkat kreatinin tinggi dibandingkan pada pasien dengan kreatinin normal. Meskipun tidak signifikan, kadar TGF-尾 juga lebih tinggi pada pasien dengan kadar BUN yang lebih tinggi.
Tingkat TGF-尾 secara signifikan lebih tinggi pada pasien dengan tingkat kreatinin tinggi. Meskipun tidak signifikan, kadar TGF-尾 juga lebih tinggi pada pasien dengan kadar BUN yang lebih tinggi. Sitokin TGF-尾 secara signifikan berdampak pada kerentanan terhadap lupus dan stadium penyakit yang lebih aktif melalui pengaruh ekspresi HLA-DRB1*52.1. Kenaikan IL-6 secara signifikan juga terjadi pada pasien dengan LED yang tinggi, meskipun tidak ada penjelasan yang jelas mengenai jalur atau mekanisme yang menghubungkan ESR dan IL-6, peningkatan LED terjadi akibat perubahan protein serum, terutama fibrinogen, yang dipicu oleh faktor-faktor pro-inflamasi. Sitokin IL-6 merupakan pengatur utama sintesis fibrinogen melalui interaksinya dengan gen fibrinogen (FGA, FGB, FGG). IL-6 berikatan dengan reseptornya dan mengaktifkan protein STAT3 di jalur intraseluler, yang memicu elemen respons di wilayah promotor fibrinogen untuk memulai proses transkripsi.
Keterbatasan dari penelitian ini adalah jumlah pasien yang sedikit dan studi hanya dari satu rumah sakit saja. Sejumlah besar peserta, termasuk mereka yang menerima pengobatan berbeda, harus diperiksa untuk mendapatkan perspektif yang lebih luas tentang hubungan komplemen dan sitokin dengan aktivitas penyakit lupus. Selain itu, keterkaitan genetik dan etnis pada lupus membuat profil sitokin dan sel imun yang lebih bervariasi sehingga menjadi penting untuk validasi khusus dari pasien lupus populasi di Indonesia guna memahami sepenuhnya mekanisme imun yang mendasari patogenesis penyakit. Penilaian profil sitokin, didukung oleh evaluasi komplemen, dapat menjadi penanda yang cocok untuk diagnosis dan pengobatan pasien lupus yang lebih baik.
Dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara SLAM dan gangguan ginjal atau aktivitas hematologi, tetapi pasien dengan SLAM yang lebih tinggi mengalami penurunan komplemen yang signifikan; peningkatan komplemen ini juga signifikan pada pasien dengan jumlah leukosit yang lebih tinggi. Meskipun tidak signifikan secara statistik, peningkatan sitokin juga diamati pada pasien dengan SLAM yang lebih tinggi. Pasien dengan kreatinin serum tinggi mengalami peningkatan TGF-尾 yang signifikan, sedangkan pasien dengan LED yang lebih cepat juga mengalami peningkatan IL-6 yang signifikan. Penelitian skala besar diperlukan untuk lebih memahami perubahan sitokin dan perannya dalam patogenesis lupus, khususnya pada populasi Indonesia. Meskipun kerusakan ginjal dan aktivitas hematologi belum tentu merupakan manifestasi utama pasien lupus dalam penelitian ini, namun penilaian profil sitokin, bersama dengan evaluasi komplemen, dapat menjadi penanda yang menjanjikan untuk diagnosis dan pengobatan lupus yang dapat diandalkan di masa depan.
Penulis: Dr. dr. Yuliasih, SpPD-KR
Laman: https://www.hindawi.com/journals/iji/2022/7168935/
Judul : The Association of Complements, TGF-尾, and IL-6 with Disease Activity, Renal Damage, and Hematological Activity in Patients with Na茂ve SLE
DOI : https://doi.org/10.1155/2022/7168935





