Zooplankton merupakan biota akuatik yang memiliki keterkaitan dengan kualitas air yang akan mempengaruhi keanekaragaman, kelimpahan dan struktur komunitasnya. Perubahan kualitas air mampu mengubah kondisi zooplankton di perairan. Sawah tambak merupakan salah satu sistem budidaya tradisional yang ada di Desa Babat Agung Lamongan yang sangat dipengaruhi oleh musim terutama musim hujan sebagai sumber air untuk kegiatan pemeliharaan ikan. Dalam kurun waktu setahun, sawah tambak digunakan untuk kegiatan pertanian maupun perikanan. Apabila kondisi tanah kering maka digunakan untuk kegiatan pertanian, namun jika terisi air maka digunakan untuk kegiatan akuakultur.
Komoditas yang biasa digunakan dalam sistem budidaya ini yaitu sistem polikultur yang terdiri dari beberapa biota seperti udang, bandeng dan beberapa ikan lainnya. Kondisi perairan yang dipengaruhi faktor alami, adanya pengaruh kegiatan pertanian, dan sistem pengelolaan kolam yang masih belum optimal akan mempengaruhi kondisi kualitas air dan berdampak pada produksi ikan yang akan dipanen. Zooplankton merupakan salah satu organisme akuatik yang berperan penting sebagai bioindikator lingkungan. Oleh karena itu penelitian terkait zooplankton di sistem budidaya sawah tambak Desa Babat Agung Lamongan sangat penting untuk dikaji guna mengetahui kondisi perairan budidaya dan kelayakan lingkungan. Penelitian terkait zooplankton ini dilaksanakan pada 3 kolam sebagai perwakilan sampel yang diamati selama 2 bulan pengamatan. Parameter yang diamati meliputi komposisi jenis, kelimpahan, dan keanekaragaman zooplankton. Beberapa parameter kualitas air baik fisika maupun kimia juga diambil sebagai parameter pendukung.
Berdasarkan hasil penelitian, zooplankton yang ditemukan terdiri dari 17 genus yang berasal dari 8 kelas dengan kelompok yang mendominasi yaitu dari kelas Eurotatoria dan Maxillopoda. Pola dominasi seperti ini umum ditemukan pada ekosistem perairan tawar, di mana Rotifera (Eurotatoria), Copepoda (Maxillopoda), dan Cladocera (Branchiopoda) biasanya membentuk kumpulan plankton inti. Kelompok ini berperan penting sebagai komponen pakan alami yang digunakan dalam kegiatan budidaya ikan. Kelimpahan Rotiferaberkaitan dengan kemampuannya beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan lingkungan yang tidak stabil dan cenderung mendominasi di perairan eutrofik atau kaya akan nutrien.
Nilai indeks keanekaragaman (H™) di seluruh kolam menunjukkan tingkat stabilitas komunitas yang bervariasi. Secara umum menunjukkan keanekaragaman rendah dengan karena menurut Herawati et al. (2021) menyatakan bahwa stabilitas komunitas dikatakan rendah atau tidak stabil jika nilai H’ < 1 dan dikatakan sedang jika 1 < H’ < 3. Indeks keseragaman (E) menunjukkan bahwa spesies umumnya terdistribusi dengan baik di seluruh kolam dan tidak ada jenis yang sangat mendominasi. Hal ini menyatakan bahwa indeks keseragaman yang mendekati 1 menunjukkan kelimpahan spesies yang seimbang dengan dominansi yang minimal.
Berdasarkan uji Canonical Correspondence Analysis (CCA) yang dilakukan untuk melihat keterkaitan antara zooplankton dan kualitas air, diperoleh hasil bahwa Chromadorea, Bdelloidea, Maxillopoda, dan Raphydomonadeae berkorelasi dengan kecerahan, pH, suhu, dan nitrat. Oligohymenophorea, Phyllopharyngea, dan Branchiopoda berkorelasi dengan DO (oksigen terlarut), fosfat, dan amonia. Sementara itu, Eurotatoria berkorelasi dengan salinitas, nitrit, dan rasio N/P. Secara umum Kesimpulan dari penelitian ini, jenis zooplankton yang ditemukan sangat berperan penting sebagai pakan alami ikan budidaya, namun perlu adanya pengelolaan kualitas air agar kondisi kualitas air sesuai dan keanekaragaman zooplankton lebih tinggi.
Penulis: Nina Nurmalia Dewi, S.PI., M.Si.
Link:





