UNAIR NEWS – Masjid Ulul Azmi 51动漫 (UNAIR) menggelar kajian Ramadan pada Jumat (07/03/2025). Kajian tersebut bertajuk Hindari Hal-Hal yang Bersifat Sia-Sia dengan menghadirkan Habib Ubaidillah bin Eidrus Al-Habsyi sebagai penceramah. Kajian ini berlangsung di , Kampus MERR-C UNAIR.
Menghindari Kesia-siaan
Habib Ubaidillah menekankan bahwa kesia-siaan bukan hanya harus manusia hindari di bulan Ramadan, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Waktu adalah modal utama yang Allah SWT berikan kepada manusia untuk mencapai kesuksesan, baik di dunia maupun di akhirat. Oleh karena itu, pemanfaatan waktu dengan sebaik-baiknya sangatlah penting.
“Modal yang Allah berikan kepada kita itu adalah waktu. Sebesar apa kita menggunakan waktu tersebut, sebesar itulah kesuksesan kita. Sebaliknya, jika kita menyia-nyiakan waktu dengan hal yang tidak bermanfaat, maka sebesar itulah kerugian yang akan kita dapatkan,” ujar Habib Ubaidillah.
Kemudian, Habaib Ubaidillah juga mengutip Imam Syafi’i yang menyatakan bahwa waktu ibarat pedang, jika tidak manusia gunakan dengan baik maka justru akan memotong diri sendiri. Rasulullah SAW menjadi teladan dalam menghargai waktu, di mana setiap aktivitas beliau penuh makna dan kebermanfaatan. Salah satu tanda Islam yang baik adalah meninggalkan sesuatu yang sia-sia.
Lebih lanjut, Habaib Ubaidillah mengkritisi kebiasaan generasi muda yang sering menghabiskan waktu untuk hal-hal tidak produktif, seperti duduk berlama-lama tanpa tujuan jelas, menghabiskan waktu di media sosial tanpa manfaat, atau berdiam diri tanpa melakukan aktivitas bernilai. Waktu yang terbuang sia-sia akan menjadi penyesalan di hari kiamat.
“Kalau kita tahu betapa berharganya waktu di bulan Ramadhan, kita pasti tidak akan menyia-nyiakannya. Rasulullah SAW sendiri sudah mempersiapkan diri sejak dua bulan sebelum Ramadhan dengan doa agar bisa sampai pada bulan yang penuh berkah ini,” tambahnya.
Pahala Besar di Bulan Ramadan
Habib Ubaidillah juga mengingatkan besarnya pahala di bulan Ramadan. Bahkan, satu hari puasa yang seorang muslim tinggalkan tanpa uzur tidak akan bisa ia ganti meskipun berpuasa selama 10 ribu hari. Oleh karena itu, beliau mengajak seluruh jamaah, khususnya mahasiswa yang hadir, untuk lebih disiplin dalam mengatur waktu dan menjauhi kesia-siaan agar dapat memaksimalkan ibadah di bulan suci.
Melalui kajian ini mahasiswa dapat belajar untuk lebih menghargai waktu dan menjadikan Ramadan sebagai momentum perubahan menuju kehidupan lebih baik. Harapannya, dengan adanya kajian ini, seluruh mahasiswa dan masyarakat sekitar semakin memahami pentingnya memanfaatkan waktu dengan optimal, tidak hanya selama bulan Ramadan, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.
Penulis: Ameyliarti Bunga Lestari
Editor: Edwin Fatahuddin





