51动漫

51动漫 Official Website

Kaki Gajah, Penyakit Menular yang Terabaikan

ilustrasi kaki gajah (sumber: halodoc)

Filariasis atau kerap disebut penyakit kaki gajah adalah penyakit menular yang masih menjadi ancaman serius di Indonesia dan beberapa negara berkembang lainnya. Penyakit ini disebabkan oleh parasit filaria yang ditularkan melalui gigitan nyamuk. Penyakit ini dapat menyebabkan kondisi kronis seperti pembengkakan kaki, lengan, payudara, dan alat kelamin. Meskipun jarang berakibat fatal, filariasis dapat menyebabkan cacat permanen dan dampak sosial yang serius bagi individu yang terinfeksi. 

Sebuah penelitian literatur dilakukan oleh Azzahra, dkk (2024) dan dimuat dalam Jurnal Kesehatan Lingkungan disampaikan bahwa Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, dan Brugia timori merupakan penyebab filariasis yang banyak ditemukan di daerah endemis Filariasis. Vektor pembawa penyakit ini hampir semua jenis nyamuk, antara lain adalah nyamuk Aedes spp, Culex spp, Anopheles spp, Mansonia spp, dan Coquilettidia spp. Penelitian mengenai filarisis yang dianalisis pada studi literatur tersebut dilakukan di delapan negara berkembang, termasuk Indonesia. Berdasarkan informasi dalam website sehat negeriku yang dikelola oleh Kementerian Kesehatan Indonesia, hingga tahun 2019 hanya ada 6 provinsi yang bukan daerah endemis filariasis di Indonesia, yaitu DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Sulawesi Utara, dan NTB. Dari 514 kabupaten/kota di Indonesia, sebanyak 236 kabupaten/kota yang tersebar di 28 provinsi masih merupakan daerah endemis filariasis.

Faktor risiko penularan filariasis adalah yaitu penggunaan kelambu saat tidur, kebiasaan bekerja, dan kondisi sanitasi lingkungan.

Terdapat hasil penelitian yang menunjukkan bahwa individu yang tidak menggunakan kelambu tidur memiliki risiko 6,91 kali lebih tinggi untuk terinfeksi filariasis dibandingkan dengan individu yang menggunakan kelambu tidur. Selain itu, kebiasaan bekerja di luar ruangan pada malam hari juga dikaitkan dengan peningkatan risiko penularan filariasis. Pekerjaan yang membutuhkan waktu di luar rumah hingga larut malam, seperti petani dan pekerja perkebunan, memiliki risiko lebih tinggi untuk terinfeksi filariasis. Selain itu kondisi sanitasi lingkungan juga memainkan peran penting dalam penularan filariasis. Kondisi saluran air dan sanitasi yang buruk dapat menjadi tempat berkembang biak bagi nyamuk pembawa penyakit.

Penggunaan kelambu tidur, kebiasaan bekerja di luar ruangan pada malam hari, dan kondisi sanitasi lingkungan merupakan beberapa faktor penting yang perlu diperhatikan dalam upaya pencegahan penularan filariasis. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang faktor risiko ini, diharapkan langkah-langkah pencegahan yang lebih efektif dapat diimplementasikan untuk melindungi masyarakat dari ancaman filariasis. 

Oleh: Retno Adriyani 

Judul dan link artikel nasional terindeks Sinta 2 yang dituliskan menjadi opini

Judul : A Review of Bed Nets Usage and Sewerage Conditions as Risk Factors for Lymphatic Filariasis in Developing Countries

DOI :

Link :

AKSES CEPAT