UNAIR NEWS – Kemunculan layanan streaming membawa dampak bagi lanskap industri film. Melalui layanan streaming atau OTT, penonton dapat mengakses ribuan film atau serial TV hanya dari rumah. Hal ini mulai berdampak pada cara tradisional menonton film bioskop.
Kepada UNAIR NEWS (6/3/2024), Igak Satrya Wibawa S Sos MCA Ph D, dosen , , 51动漫 (UNAIR) memberikan analisis terkait fenomena itu. Menurutnya, berdasarkan hasil riset yang telah ia lakukan pada tahun 2021, bahwa ada tendensi penonton masyarakat Indonesia pada kota-kota besar mulai beralih pada layanan streaming atau OTT.
淭api mereka belum pada tataran meninggalkan bioskop. Namun, artinya OTT sudah menimbulkan kenyamanan, buka Satrya.
Vibes yang Berbeda
Pengalaman menonton film lewat layanan streaming OTT, jelasnya, tentu memiliki ambience yang berbeda. Satrya menjelaskan, ketika di bioskop, orang akan bersama-sama masuk dalam sebuah ruangan gelap, meskipun menonton film bersama dengan orang yang tidak ia kenal, namun semua penonton fokus dan berpusat pada film.
Sedangkan jika menonton via OTT, penonton lebih fleksibel dan efektif. Ia juga menegaskan bahwa orang bisa dengan multitasking, menonton film lewat OTT. “Karena saat ini itu adalah kebiasaan budaya digital sekarang, katanya.
Satrya beranggapan hal ini yang harus bioskop waspadai. Bioskop menghadapi tantangan melawan layanan streaming OTT yang lebih murah, fleksibel dan efisien.
淏ioskop tak hanya sekedar duduk menonton film, tapi harus berinovasi. Layanan bioskop yang menampilkan film yang tidak ada pada OTT. Atau film-film dengan efek 3D, 4D, IMAX dan sebagainya yang masih sangat sulit OTT lakukan, ungkap Satrya.

Home Sinema atau Bioskop?
Pada akhir ia menekankan bahwa kenyamanan menonton film dari rumah, yang layanan streaming OTT tawarkan, akankah membuat bioskop berpotensi untuk penonton tinggalkan? Merespons hal tersebut, dosen komunikasi UNAIR itu, beranggapan bahwa bioskop akan tertinggal selama tidak melakukan inovasi. 淏ioskop harus menunjukkan bahwa ia punya value yang tidak bisa tergantikan oleh OTT, jelasnya.
Menurut Satrya, setidaknya dalam lima tahun kedepan bioskop masih belum penonton tinggalkan. 淥rang belum bisa meninggalkan bioskop, karena ada banyak hal yang memang masih belum ada pada OTT dan hanya ada pada bioskop, ujarnya.
Lebih lanjut, soal bioskop atau home sinema. Menurut Satrya hal ini adalah pilihan, karena tidak murni secara ekstrim orang akan memilih saya akan ke bioskop, atau saya tidak mau OTT. 淭erdapat dua pilihan yang menurut penonton sama-sama menguntungkan, selama bioskop masih ada artinya penonton belum berani atau belum bisa meninggalkan bioskop, pungkasnya.
Penulis: Tsaqifa Farhana Walidaini
Editor: Nuri Hermawan





