UNAIR NEWS – Berdasarkan keterangan Kementerian Pertanian RI, jumlah kasus PMK mengalami kenaikan sekitar 40% pada periode Juli揂gustus 2025 dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Wabah tersebut menimbulkan kerugian ekonomi yang diperkirakan mencapai Rp 2 triliun, yang disebabkan oleh kematian ternak serta pemberlakuan embargo ekspor. Sedangkan penyakit cacingan (Helminthiasis) juga menjadi perhatian, pasalnya prevalensi ternak ruminansia yang terinfeksi oleh cacing parasit mencapai 70-90% akibat iklim Indonesia yang tropis, sehingga mendukung siklus perkembangan cacing. Hal ini menjadi perhatian bagi kami sebagai mahasiswa Kedokteran Hewan untuk mengedukasi peternak di Desa Kesiman.
Penyuluhan difokuskan pada peningkatan pemahaman peternak tentang PMK dan cacingan, mencakup penyebab, penularan, gejala klinis, serta pencegahan dan penanganan awal. PMK dijelaskan sebagai penyakit virus yang sangat menular melalui kontak langsung, peralatan kandang, dan manusia sebagai pembawa mekanis, sedangkan cacingan disebabkan oleh parasit akibat sanitasi dan manajemen pemeliharaan yang kurang baik. Upaya pencegahan meliputi penerapan biosekuriti, vaksinasi, kebersihan kandang, manajemen pakan, dan pemberian obat cacing secara rutin.
Kaila Deandra selaku penanggungjawab, mengatakan 淧rogram ini dilaksanakan bukan untuk menggurui, melainkan untuk belajar bersama dan mengingatkan kembali para peternak untuk tetap waspada terhadap penyakit yang berada di sekitar ternak, seperti PMK dan cacingan. Penyuluhan yang dilaksanakan pada 19 Januari 2026 ini berlokasi di Balai Desa Kesiman pada jam 19:00, menggunakan metode interaktif melalui diskusi langsung, penggunaan media visual, serta demonstrasi pembuatan antiseptik dari campuran gliserin dan povidone iodine. Kami meminta salah satu peternak untuk maju kedepan dan melakukan demonstrasi dengan bimbingan kami. Hal ini bertujuan agar yang disampaikan dari pemateri dapat langsung dimengerti dan di praktekkan oleh peternak.
Program kerja ini bertujuan agar membantu menurunkan kerugian ekonomi peternak akibat kematian ternak, penurunan produktivitas, sehingga pendapatan peternak lebih stabil dan mendukung keberhasilan SDG 1 No Poverty, SDG 3 Good Health and Well-being, SDG 8 Decent Work and Economic Growth. Peternak sangat antusias dengan program kerja ini karena dapat menunjang keberlanjutan mata pencaharian mereka. Witono, salah satu peternak mengatakan 淒engan adanya penyuluhan ini saya sangat berterimakasih karena saya jadi tau penularan penyakitnya darimana saja dan sangat bermanfaat.
Berita ini mendukung SDG 1: No Poverty, SDG 3: Good Health and Well-being dan SDG 8: Decent Work And Economic Growth





