Penatalaksanaan pasien pradiabetes sangat penting untuk mengurangi peningkatan prevalensi diabetes tipe 2. Strategi pencegahan pradiabetes telah banyak dilakukan dengan pengobatan tradisional oleh masyarakat, sehingga diharapkan dapat menurunkan resiko terjadinya diabetes dan menurunkan angka pra diabetes di Indonesia
Pradiabetes merupakan masalah kesehatan global yang harus diwaspadai karena lebih sering diderita banyak orang daripada diabetes melitus (DM) tipe 2 hal ini dibuktikan dengan prevalensi pradiabetes di Indonesia mencapai 36,6% pada tahun 2013. Kondisi pradiabetes dapat menjadi faktor penentu apakah pasien akan mengalami diabetes. sehingga melakukan skrining glukosa darah puasa sangat penting untuk mendeteksi pradiabetes. Baru-baru ini, penelitian dalam mengembangkan dan menggunakan obat-obatan tradisional telah dilakukan untuk mengatasi masalah kesehatan pada populasi. Obat-obatan herbal seperti ekstrak tumbuhan dipilih karena lebih murah dan mudah didapat serta memiliki efek samping yang ringan. Artocarpus altilis atau yang dikenal dengan buah sukun adalah salah satu tanaman obat tradisional yang sudah lama digunakan oleh nenek moyang Indonesia dan bangsa lain. Kandungan pada buah sukun diantaranya flavonoid, quercetin, saponin, polifenol, tanin, asam hidrosianat. Senyawa antioksidan yang beragam dapat menonaktifkan perkembangan reaksi oksidasi yang dapat mengurangi atau menetralisir radikal bebas. Penlitian terkait buah sukun telah banyak dilakukan, salah satu hasilnya adalah menurunkan kadar glukosa darah pada tikus diabetes melitus. Dari adanya hal tersebut maka peneliti tertarik untuk menguji lebih lanjut terkait pengaruh Kapsul Ekstrak Sukun (Artocarpus altilis) untuk mengurangi Glukosa Darah Puasa pada Pradiabetes.
Penelitian ini merupakan uji coba terkontrol secara acak yang membagi peserta menjadi dua kelompok intervensi yaitu kelompok kontrol dan kelompok placebo yang masing-masing sejumlah 37 orang. Menggunakan double-blind, randomized controlled trial, pre, dan post-test design research. intervensi dilakukan selama 28 hari, dengan pemeriksaan glukosa darah puasa setiap 7 hari menggunakan alat easy touch screening. Responden yang telah lolos dari hasil skrining kemudian akan diambil darahnya +3 cc untuk diperiksa di Balai Laboraturium Kesehatan Makasar. Dari hasil pemeriksaan, 80 responden memiliki 100-125 mg/dl Glukosa darah puasa. dan sebanyak 6 calon responden mengundurkan diri dan sisanya dibagi menjadi dua kelompok. Kapsul (ekstrak dan plasebo) diberikan kepada responden setiap 7 hari sekali, dan keluarga responden diberikan kartu kendali/kartu pendamping minum obat untuk mencatat kepatuhan konsumsi. A. altilis diambil dari Darul Istikoqoma Pesantren di Desa Timbuseng, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Gowa, Indonesia. Selama penelitian, kami melakukan beberapa pengukuran seperti glukosa darah puasa, menggunakan metode enzimatik yaitu enzim glukosa oksidase atau heksokinase, yang bereaksi dengan glukosa, ketika darah diteteskan pada strip tes, katalis glukosa akan menurunkan glukosa dalam darah. Intensitas elektron yang terbentuk pada strip tes setara dengan konsentrasi glukosa dalam darah, sehingga kadar glukosa dapat diukur. Selama penelitian, kami melakukan beberapa pengukuran seperti glukosa darah puasa, menggunakan metode enzimatik yaitu enzim glukosa oksidase atau heksokinase, yang bereaksi dengan glukosa, ketika darah diteteskan pada strip tes, katalis glukosa akan menurunkan glukosa dalam darah. Intensitas elektron yang terbentuk pada strip tes setara dengan konsentrasi glukosa dalam darah, sehingga kadar glukosa dapat diukur. Kuesioner Aktivitas Fisik Internasional digunakan untuk mengukur tingkat aktivitas fisik pada sampel penelitian, Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar glukosa darah puasa mengalami penurunan. Hasil Wilcoxon Signed- Ranks Test menunjukkan œada perbedaan yang signifikan kadar glukosa darah puasa pada kelompok intervensi yang
Diberikan kapsul ekstrak sukun kapsul, dibandingkan dengan kelompok kontrol. Sebagian besar peserta adalah perempuan (68,0%), 40“49 tahun (51,9%), dan orang tua yang tinggal di rumah (70,3%). Data dasar melaporkan semua variabel tidak berbeda secara signifikan antara kedua kelompok (p > 0,005). Ada penurunan yang signifikan pada kelompok intervensi setelah intervensi (114,89 ± 6,6 vs 98,73 ± 4,8, p <0,001) dan tidak ada perubahan pada kelompok kontrol (113,62 ± 6,6 vs 113,59 ± 6,7, p = 0,768). Sehingga dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Ada penurunan yang signifikan dalam glukosa darah puasa pada kelompok intervensi yang menerima kapsul ekstrak sukun.
Untuk mengetahui artikel secara lebih detail, maka dapat mengunjungi link dibawah :
Judul : Artocarpus altilis Extract Capsules Reduce Fasting Blood Glucose in Prediabetes
Penulis : Junedi Sitorus, Veni Hadju, Nurhaedar Jafar, Ridwan Amiruddin, Aminuddin Syam, Trias Mahmudiono, Yulia Yusrini Djabir, Apik Indarty Moedjion





