Kelompok studi Drug Delivery System dari Fakultas Sains dan Teknologi dan Fakultas Farmasi 51动漫 telah berhasil mendapatkan interaksi yang signifikan antara cangkang kapsul keras berbasis karaginan teroligomerisasi dan bahan aktifnya yaitu salisilamida (SCA) dan parasetamol (PCT). Penelitian ini dibutuhkan karena kapsul keras berbasis gelatin memiliki keterbatasan, sehingga mengundang eksplorasi bahan alternatif seperti kapsul berbasis tanaman (alginate, carrageenan), atau semisintesis (hypromellose). Namun, bahan-bahan alternatif tersebut seringkali menunjukkan kecepatan disintegrasi dan pelepasan yang lambat. Penelitian ini merupakan kelanjutan dari pengembangan cangkang kapsul nabati berbasis rumput laut yang diharapkan mampu menjadi alternatif pengganti kapsul berbasis gelatin. Matriks obat, yang juga dikenal sebagai sistem pengiriman obat (DDS), dapat diproduksi dengan berbagai bentuk dan dari bahan yang berbeda.
Produksi kapsul dilakukan dengan mencampurkan serbuk karaginan (CRG) dengan serbuk asam sitrat dalam berbagai konsentrasi, yaitu 0,05%, 0,10%, 0,15%, dan 0,20% (m/m). Campuran tersebut kemudian dicampur dengan maltodekstrin (MD) dan dituang perlahan ke dalam air deionisasi yang mengandung plasticizer sorbitol (SOR). Setelah terbentuk larutan koloid heterogen, campuran dipanaskan pada suhu 82-84掳C selama 3 jam untuk membuatnya homogen dan melepaskan gelembung yang terperangkap. Proses pencetakan dilakukan dengan mencelupkan pena pencelup yang dilapisi dengan lesitin, yang kemudian diputar secara konstan untuk memastikan bahan memiliki ketebalan yang terdistribusi dengan baik. Akhirnya, kapsul yang dicetak dikeringkan dan dipotong.
Eksperimen ini menunjukkan bahwa konsentrasi asam sitrat antara 0,05% hingga 0,15% diperlukan untuk menghasilkan kapsul keras CRG(O)-MD/SOR dengan permukaan yang seragam dan ketebalan 10,0 渭m, sesuai dengan spesifikasi industri. Penambahan asam sitrat secara signifikan mengurangi ketebalan kapsul dibandingkan dengan kapsul CRG-MD/SOR. Keberadaan asam sitrat dalam proses ini menyebabkan hidrolisis CRG, dan penelitian sebelumnya telah menyoroti pengaruh kandungan air dan kondisi pengeringan terhadap sifat carrageenan.
Kandungan abu dari CRG(O)-MD/SOR teridentifikasi sebesar 11,80%. Dibandingkan dengan CRG modifikasi lainnya, kandungan abu CRG(O)-MD/SOR tergolong lebih rendah. Misalnya, kandungan abu dari sampel CRG yang diekstraksi dari Tanjung Medang adalah sebesar 14,22%, sedangkan dari Pulau Jaga sebesar 17,7%. Penting untuk dicatat bahwa kapsul keras gelatin memiliki kandungan abu sebesar 0,11% dan HPMC memiliki kandungan abu kurang dari 3%. Kandungan abu yang lebih tinggi pada CRG dan varietasnya disebabkan oleh kemampuannya yang unggul dalam menyerap mineral dari air laut dibandingkan dengan tumbuhan lain yang tumbuh di daratan. Kandungan air dari CRG(O)-MD/SOR terukur sebesar 17,20 卤 1,20%, yang lebih tinggi dibandingkan dengan kapsul keras gelatin yang umumnya memiliki kandungan air antara 10-15%.
Pada analisis SEM, permukaan CRG(O)-MD/SOR terlihat homogen tanpa pori yang teramati pada perbesaran 10.000 kali. Keberadaan asam sitrat mempengaruhi permukaan yang halus melalui reaksi hidrolisis sebagian rantai CRG, yang menyebabkan penurunan pembentukan gel dan agregat. Efek serupa juga terlihat pada penelitian yang mengamati hidrolisis film PLA dengan NaOH. Namun demikian, beberapa area masih terdapat agregat yang terbentuk, kemungkinan disebabkan oleh perbedaan suhu antara bagian dalam dan luar larutan CRG(O)-MD/SOR dalam proses produksi. Analisis adsorpsi isotermal menggunakan metode BET-BJH menunjukkan bahwa pori-pori pada CRG(O)-MD/SOR termasuk dalam kelas mesopori dengan ukuran pori rata-rata sebesar 49,26 脜. Analisis DSC menunjukkan sinyal onset pada 51,4掳C, menandakan transisi fasa kaca ke fasa karet (Tg), sementara sinyal endotermik pada 80,8掳C mengindikasikan dekomposisi awal yang melepaskan molekul air.
Analisis spektrum FTIR menunjukkan beberapa puncak pada CRG(O)-MD/SOR. Puncak tajam pada 847 cm-1 terkait dengan ester sulfat unit galaktopiranosa (G4S), sementara puncak pada 930 cm-1 merupakan jembatan eter pada unit anhidrogalaktopiranosa (DA). Puncak tajam pada 1100 cm-1 diatribusikan pada ikatan eter C-O, sedangkan puncak pada 1248 cm-1 mengindikasikan adanya gugus sulfur oksida (S=O). Perubahan signifikan dalam spektrum IR terlihat setelah penambahan MD dan SOR, terutama pada puncak 1248 cm-1 yang lebih lemah dibandingkan CRG murni. Keberadaan SOR mempengaruhi ruang antar sel dalam jaringan CRG-MD yang terikat silang, sedangkan pita 揙H pada spektrum CRG-MD/SOR lebih sempit, menunjukkan adanya ikatan lebih banyak dengan air dan meningkatkan laju disolusi.
Pada pH 1,2, disintegrasi dan pelarutan PCT dari CRG(O)-MD/SOR terjadi dengan cepat, sementara pada pH 4,5 proses tersebut lebih lambat. Laju disintegrasi CRG(O)-MD/SOR pada pH 4,5 lebih lambat dibandingkan CRG-MD/SOR. Pada pH 6,8, kedua kapsul mengalami disintegrasi yang sangat lambat. Analisis kinetika pelepasan menunjukkan bahwa pelarutan PCT dan SCA dari CRG(O)-MD/SOR pada pH 1,2 dan 4,5 mengikuti mekanisme orde nol, sedangkan pada pH 6,8, pelarutan PCT lebih baik dijelaskan oleh model Peppas-Sahlin. Temuan ini memberikan pemahaman lebih lanjut tentang mekanisme pelarutan obat dari CRG(O)-MD/SOR dan dapat membantu dalam pengembangan strategi pengiriman obat di masa mendatang.
Dengan didapatnya hasil penelitian ini, studi ini diharapkan dapat berkontribusi terhadap pengembangan produksi sediaan obat alternatif yang dapat menjadi pilihan lain selain menggunakan gelatin sebagai bahan dasar sediaan obat tersebut.
Penulis: M. Al Rizqi Dharma Fauzi, Pratiwi Pudjiastuti, Esti Hendradi, Riyanto Teguh Widodo
Jurnal:





