Cosmos caudatus Kunth merupakan salah satu spesies tumbuhan yang dikenal secara lokal sebagai Kenikir, termasuk dalam famili Asteraceae. Famili ini tersebar di seluruh zona Neotropis dan sering membentuk vegetasi lantai hutan. Jenis tumbuhan herba ini berasal dari Amerika Latin kemudian menyebar ke Asia Tenggara.
Tumbuhan ini memiliki manfaat yang melimpah, termasuk antibakteri, anti-inflamasi (, antioksidan dan antikanker. Berbagai manfaat kesehatan dari spesies ini disebabkan oleh adanya metabolit sekunder. Menurut Moshawih dkk. (2017), C. caudatus memiliki berbagai metabolit sekunder, antara lain flavonoid, saponin, terpenoid, tanin, dan fenol. Keberadaan komponen bioaktif dapat diketahui dengan menganalisis ekstrak tumbuhan, terutama pada daun. Metabolit sekunder dapat ditemukan di area tertentu dari organ tumbuhan. Untuk memahami lokasi sel yang menyimpan metabolit sekunder, diperlukan penelitian anatomi, karena karakteristik anatomi juga dapat membantu mengidentifikasi tanaman. Oleh karena itu, data-data ini sangat penting untuk mengklasifikasikan tanaman. Spesies ini memiliki stomata dengan tipe anomositik dan anisositik.
Klasifikasi dan studi filogenetik terutama bergantung pada karakter morfologi. Kelemahan penanda morfologi adalah dalam hal variabilitas, dan dapat menyebabkan masalah taksonomi yang serius pada spesies dengan rentang geografis yang luas. Faktor abiotik dapat secara substansial mempengaruhi fitur mikro dan makromorfologi, meskipun pemrograman ontogenetik berkontribusi pada variabilitas morfologi dalam beberapa kasus. Sebagai contoh, Cosmos bipinnatus di Meksiko Tengah menunjukkan variasi morfologi yang rumit karena kondisi lingkungan, seperti ketinggian dan kandungan NH4 di sekitar habitat tanaman.
Kurangnya data morfologi dapat dilengkapi dengan beberapa cara, termasuk dengan menggunakan penanda identifikasi tambahan seperti DNA barcoding dan fitur anatomi. DNA barcoding adalah teknik untuk mengidentifikasi spesies dengan memeriksa urutan pendek dari genom standar dan membandingkan hasilnya dengan database spesies yang telah dikenal. Salah satu tujuan spesifik dari barcode DNA adalah untuk mengkonfirmasi kandungan tanaman terapeutik dalam produk herbal. Beberapa penanda plastid yang direkomendasikan pada tanaman termasuk rpoC1, rpoB, trnH-psbA, rbcL, matK, atpF-H, dan psbK-I. Identifikasi tanaman harus dilakukan dengan menggunakan beberapa karakter, termasuk data morfologi dan molekuler untuk menghindari pemahaman yang ambigu, terutama ketika mempelajari sistem biologi tanaman dalam aspek farmasi.
Kajian terhadap karakter dan penanda DNA pada tanaman ini telah dilakukan oleh Purnobasuki, et al. (2022) dan hasilnya menunjukkan bahwa akar dan batang C. caudatus mirip dengan organ perdu dikotil pada umumnya. Daunnya memiliki tipe menyirip dengan dua warna berbeda pada setiap sisi daunnya. Bunga majemuk bertipe cawan dengan dua jenis bunga, yaitu bunga cakram dan bunga pari. Berdasarkan pengamatan anatomi, semua organ vegetatif memiliki jaringan yang sama dengan tumbuhan dikotil. Ciri anatomi C. caudatus terletak pada trikomanya karena kandungan antosianin dan stomata yang dimilikinya, yaitu tipe anomositik dan anisositik. Hasil DNA barcoding menunjukkan bahwa ketiga tanaman sampel memiliki kemiripan yang identik dengan beberapa gebus Cosmos lainnya yang terdapat pada database GenBank dengan nilai persentase identitas di atas 98%, query meliputi 96-100%, dan e-value 0.
Perbandingan urutan gen dalam spesies juga dilakukan pada spesies dari genus yang berbeda dengan jarak genetik yang dianggap cukup jauh dari tanaman sampel. Tujuan perbandingan ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan komposisi basa nitrogen antara 2 takson yang berkerabat jauh. Untuk gen rbcL dilakukan perbandingan menggunakan aksesi Bidens cosmoides NC 047278.1, sedangkan untuk gen matK menggunakan aksesi B.pilosa MF159439.1. Ternyata ada beberapa perbedaan variasi nukleotida, perbedaan paling banyak terletak pada gen matK. Perbandingan gen rbcL mengungkapkan tujuh perubahan nukleotida yang berbeda, khususnya pada nomor nukleotida 250, 313, 344, 400, 412, 631, dan 685. Sedangkan pada perbandingan menggunakan gen matK, variasi nukleotida ditemukan pada basa nitrogen nomor 115, 207, 256, 257, 282, 331, 332, 364, 374, 446, dan 574.
Disimpulkan bahwa akar C. caudatus bertipe menyadap dengan batang tegak dengan warna hijau agak keunguan. Daunnya tergolong senyawa menyirip dengan dua warna pada sisi adaksial dan abaksial. Bunga majemuk C. caudatus merupakan jenis bunga cawan dengan dua jenis bunga yang berbeda bentuk dan fungsinya, yaitu bunga cakram dan bunga pari. Berdasarkan pengamatan anatomis, akar dan batang C. caudatus sama seperti pada tumbuhan perdu pada umumnya, dengan ciri akar memiliki tipe stele tetrarch radial. Anatomi daun menunjukkan adanya mesofil heterogen, trikoma kelenjar dan stomata dari beberapa jenis, yaitu anomositik dan anisostitik. C. caudatus menunjukkan afinitas genetik yang sangat tinggi dengan banyak tanaman dari genus Cosmos yang diunduh dari database GenBank. Pohon filogenetik menempatkan tanaman yang dipelajari dengan tanaman dari genus Cosmos ke dalam kelompok yang sama.
Tentu saja data-data terkait tanaman kenikir ini menjadi suatu bahan dasar yang dapat digunakan untuk penelitian-penelitian selanjutnya yang mengarah pada eksplorasi kemanfaatan tanaman tersebut ditinjau dari berbagai bidang, khususnya sebagai bahan pangan maupun bahan obat. Semoga.
Penulis: Hery Purnobasuki
Sumber:





