Industri tekstil dan batik merupakan salah satu penyumbang utama pencemaran air di dunia. Limbah cair yang dihasilkan mengandung zat warna sintetis yang tidak hanya sulit terurai, tetapi juga berpotensi membahayakan lingkungan dan kesehatan manusia. Salah satu zat warna yang cukup banyak digunakan adalah bromocresol green (BCG), yang dikenal stabil dan sulit dihilangkan dari air limbah. Permasalahan ini menuntut solusi yang tidak hanya efektif, tetapi juga ekonomis dan berkelanjutan. Salah satu pendekatan yang semakin berkembang adalah pemanfaatan limbah industri sebagai bahan baku untuk pengolahan limbah lainnya, seperti konsep prinsip ekonomi sirkular (circular economy) yang giat diaplikasikan pada berbagai program saat ini.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa limbah industri seperti spent bleaching earth (SBE) limbah dari proses pemurnian minyak sawit dan glycerin pitch sebagai produk samping industri biodiesel dapat dimanfaatkan menjadi material penyerap (adsorben). Melalui proses karbonisasi dan aktivasi kimia, glycerin pitch dapat diubah menjadi karbon aktif. Lebih menarik lagi, modifikasi dengan asam fosfat menghasilkan karbon aktif dengan performa sangat tinggi. Karbon aktif hasil modifikasi ini memiliki struktur yang sangat berpori dengan luas permukaan mencapai sekitar 859 m虏/g. Struktur ini memungkinkan lebih banyak molekul zat warna terserap pada permukaan material. Sebagai perbandingan, karbon aktif biasa memiliki kemampuan penyerapan zat warna sebesar efisiensi 72%, SBE tanpa modifikasi menyerap sekitar 82% zat warna, karbon aktif yang dimodifikasi dengan titanium mampu menyerap sebesar 92%, sedangkan karbon aktif yang dimodifikasi dengan fosfor mampu menyerap hingga 99,56%. Artinya, hampir seluruh zat warna berhasil dihilangkan dari larutan.
Proses penyerapan dilakukan secara adsorpsi, yaitu penempelan molekul zat warna pada permukaan material melalui pembentukan interaksi kimia. Salah satu keunggulan utama karbon aktif yang dimodifikasi oleh fosfor adalah kemampuannya untuk digunakan kembali. Setelah digunakan, material ini dapat diregenerasi melalui pemanasan, dan tetap mempertahankan kinerja tinggi hingga enam siklus penggunaan. Hal ini sangat penting dari sisi ekonomi dan keberlanjutan, karena mengurangi kebutuhan produksi material baru.
Tidak hanya diuji di laboratorium, material ini juga diaplikasikan pada limbah batik nyata. Hasilnya sangat menjanjikan, dengan efisiensi penghilangan warna mencapai sekitar 97,6%. Walaupun masih terdapat sedikit sisa warna, hal ini wajar karena limbah industri nyata mengandung campuran berbagai zat kimia yang lebih kompleks dibandingkan larutan model di laboratorium. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa limbah industri dapat dimanfaatkan kembali menjadi material bernilai tinggi. Karbon aktif berbasis limbah memiliki potensi besar sebagai solusi pengolahan air. Melalui modifikasi kimia sederhana, karbon aktif memiliki peningkatan performa secara signifikan. Ke depan, teknologi ini dapat dikembangkan untuk pengolahan limbah tekstil skala industri, penghilangan berbagai jenis polutan lain, dan sistem pengolahan air berkelanjutan berbasis limbah.
Penulis :Alfa Akustia Widati, dipublikasikan dalamJournal of Dispersion and Science and Technology:





