UNAIR NEWS Semenjak muncul kampanye penyetaraan gender oleh R.A Kartini pada 1879, peran perempuan dalam berbagai ranah kehidupan kian terlihat. Terkini, banyak muncul tokoh-tokoh perempuan inspiratif di ranah publik. Misalnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani sebagai menteri terbaik dunia pada 2017, Menteri Perikanan dan Kelautan Susi Pudjiastuti, dan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.
Dalam perkembangannya, ragam gejolak permasalahan sosial setiap masa yang berbeda turut berpengaruh dalam kemunculan tokoh-tokoh tersebut. Terbaru, tema ekonomi bertajuk era robotik dan teknologi atau Revolusi Indutri 4.0 menjadi tantangan berikutnya. Khususnya bagi perempuan atau Kartini-Kartini masa kini.
Menurut Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas ekonomi dan Bisnis (FEB) 51动漫 Prof. Dr. Anis Eliyana, S.E, M.Si., perubahan sosial ekonomi semacam Revolusi Industri 4.0 bukan hal yang dapat dihindari. Pada dasarnya, secara tidak langsung masyarakat Indonesia, terutama perempuan, telah terlibat dan masuk di dalamnya.
滿ungkin tidak ada, yang di sini, bangun tidur tidak melihat smartphone dan menyimak dunia melalui alat ini, ujarnya saat memberikan paparan dalam Gelar Inovasi Guru Besar bertema 漃eran Perempuan di Era Milineal.
Enterpreneurship menjadi hal yang mesti dijajaki dan didalami perempuan untuk saat ini. Khususnya dalam upaya terlibat dalam membangun perekonomian dan menumbuhkan kesejahteraan untuk masayarakat.
Sebab, hal itu sesuai dengan gagasan perjuangan perempuan yang disuarakan oleh Kartini sejak dulu. Yakni, soal memerangi kebodohan, memerangi kemiskinan, dan memerangi ketidakadilan. Perang terhadap kemiskinan melalui pembangunan ekonomi itu menjadi sangat penting. Terutama untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat.
Enterpreneurship mengandung arti ship atau jiwa. Yakni, proses kreativitas dan inovasi dalam menciptakan perubahan dengan memanfaatkan peluang serta sumber-sumber yang ada untuk menghasilkan nilai tambah bagi dirisendiri dan orang lain, tuturnya.
Kreativitas dan nilai kebermanfaatan tersebut menjadi nilai yang mesti ditonjolkan. Ditambah, akses dan laju perkembangan sosial budaya saat ini menunjukkan kemudahan dan ketidakterbatasan akses terhadap apa pun. Meski demikian, entrepreneurship mesti dibarengi dengan penumbuhan sikap leadership.
滽eduanya (entrepreneurship dan leadership, Red) sangat berkaitan. Ibarat dua mata uang, sebut Prof. Anis di Aula Amerta, Kantor Manajemen UNAIR.
Leadership, lanjut dia, berkenaan dengan keberanian mengambil keputusan, memilih terjun dalam dunia entrepreneurship. Juga, berkenaan dengan jiwa visioner, memiliki visi jangka panjang atau orientsi masa depan.
滽ita mesti memanfaatkan momentum Revolusi Indutri 4.0 untuk membuat, memberikan, dan menciptakan nilai tambah sesuatu agar berdampak lebih luas, ujarnya.
滽alu kita tahu, Indonesia merupakan pasar e-commerce terbesar di ASEAN. Untuk kali pertama, Indonesia melampaui Thailand dan Singapura dengan nilai transaksi USS 1,1 miliar pada 2014. Potensi perkembangan e-commerce Indonesia kian besar seiring peningkatan jumlah penduduk dan pertumbuhan ekonomi. Ini mesti dimanfaatkan, tuturnya. (*)
Penulis: Feri Fenoria Rifa檌
Editor: Binti Q. Masruroh





