UNAIR NEWS 淪ebuah pertarungan politik idealnya haruslah terlepas dari isu gender yang bersifat tradisional dan mengekang, begitu ungkap Nurul Fitri Hapsari, S.S., M.A. Dosen Fakultas Ilmu Budaya UNAIR ketika membahas mengenai perempuan dan politik di Indonesia. Dia mengungkapkan bahwa konstruksivitis atas identitas gender seorang politikus ternyata masih mempengaruhi citra diri mereka di arena pertarungan politik lintas gender.
Dia melanjutkan, pemilihan gubernur Jawa Timur tahun 2018 lalu pun tak terlepas dari polemik konstruksi identitas gender yang masih bersifat tradisional. Bahkan, kata dia, persoalan yang sama juga terjadi di Amerika Serikat. 淭ernyata di sana, peran gender tradisional perempuan membuat perempuan enggan berpartisipasi dalam arena politik, tuturnya.
Contohnya saja, Khofifah Indar Parawansa. Menurut Nurul, sebagai seorang politikus perempuan, tentu tidak mudah bertarung dalam sebuah arena pertarungan gurbernur Jawa Timur yang secara budaya dan historis selalu didominasi oleh pria.
Nurul mengatakan, kehadiran media sosial dianggap solutif untuk menunjukan eksistensi politikus perempuan. 淢edia sosial sekarang dianggap sebagai kendaraan politik yang sangat diperlukan dalam membangun citra identitas politikus, ungkapnya.
Berdasarkan penelitian sebelumnya, Khofifah selalu mengkonstruksikan citra dirinya di media sosialnya sebagai pemimpin dengan karakter dan peran wanita ideal untuk masyarakat patriarki. 淜hofifah bahkan cenderung merepresentasikan dirinya sebagai the second leader setelah wakilnya yang merupakan seorang laki-laki, paparnya.
Selain itu, imbuh Nurul, saat ini meme juga menjadi salah satu bentuk partisipasi politik kaum milenial. 淏ahkan tak jarang, dengan memadukan budaya pop dan politik, meme mampu mengarahkan pemilih ke sebuah konstruksi identitas politikus yang berbeda dari apa yang mereka citrakan di media sosial selama ini, ujarnya.
Nurul menjelaskan, ternyata hal itu juga terjadi pada konstruksi identitas Khofifah sebagai seorang kandidat Gubernur Jawa Timur. Berdasarkan kajian yang Nurul lakukan, dalam meme yang ada, identitas keibuan Khofifah dikonstruksikan dengan sifat feminin yang ideal. Namun dengan sifat pemimpin yang kuat dan berani serta meniru sifat-sifat maskulin.
Faktanya, arena politik masih dianggap sebagai dominasi laki-laki. Sehingga untuk memenangkan arena politik, perempuan harus meminjam sifat-sifat maskulinitas. 淧emilih milenium di Indonesia tampaknya lebih mudah terkena dampak popularitas dalam mendefinisikan identitas para pemimpin politik daripada prestasi para pemimpin tersebut, tutupnya. (*)
Penulis: Erika Eight Novanty
Editor: Khefti Al Mawalia
Referensi:
Nurul Fitri Hapsari et. al. 2019. Memes and millennial voters: Identities of an
indonesian female political leader. Apci贸n, A帽o 35, Especial No. 19: 2066-2087





