51

51 Official Website

Ke UNAIR, Luhut: Mahasiswa Harus Biasakan Bekerja Terintegrasi

MENTERI Koordinator Kemaritiman Luhut Binsat Pandjaitan dalam kuliah umum bertema Wawasan Kebangsaan Menuju Kedaulatan Pangan, Maritim, dan Daya Saing Bangsa di Aula Amerta, Lantai 4, Rektorat Universitas Sabtu sore (8/9). (Foto: Feri Fenoria Rifai)
MENTERI Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan dalam kuliah umum bertema Wawasan Kebangsaan Menuju Kedaulatan Pangan, Maritim, dan Daya Saing Bangsa di Aula Amerta, Lantai 4, Rektorat Universitas Sabtu sore (8/9). (Foto: Feri Fenoria Rifai)

UNAIR NEWS Problem perekonomian yang melanda Indonesia membutuhkan integrasi kinerja setiap lembaga untuk menghadapinya. Itulah salah satu hal yang ditekankan Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsat Pandjaitan dalam kuliah umum bertema Wawasan Kebangsaan Menuju Kedaulatan Pangan, Maritim, dan Daya Saing Bangsa di Aula Amerta, Lantai 4, Rektorat Universitas Sabtu sore (8/9).

Kepada para mahasiswa, Luhut berpesan untuk membiasakan diri bekerja secara terintegrasi. Dalam paparannya, Luhut mencontohkan beberapa keberhasilan capaian bidang ekonomi yang diraih pemerintah. Hal itu, lanjut dia, merupakan buah dari integrasi kinerja yang dilakukan melalui kepemimpinan presiden.

Luhut juga mengimbau mahasiswa untuk bekerja dengan berbasis data. Data memungkinkan risiko terjadinya kebijakan yang keliru berkurang. Mahasiswa juga harus membiasakan diri untuk menjadi pemimpin yang jujur, tidak berbohong.

Jangan bebicara berdasar perasaan. Tapi bicaralah sesuai dengan data, tuturnya.

Jadi, pemimpin itu jangan pernah berbicara bohong. Kalau berbicara bohong, itu akan merusak generasi ke bawah. Dan, itu akan meracuni anak-anak muda, imbuhnya.

Selain itu, menurut Luhut, keberanian seluruh pihak untuk mengambil sikap demi kemajuan bangsa dan negara sangat diperlukan. Khususnya bagi anak muda yang bakal menjadi pemimpin Indonesia.

Persatuan dan Kesatuan

Luhut juga menekankan pentingnya persatuan dan kesatuan seluruh elemen bangsa. Terutama dalam upaya secara bersama-sama mendorong kemajuan Indonesia. Luhut yakin para generasi muda saat inilah yang bakal mengantarkan Indonesia merengkuh masa keemasannya.

Negara Republik Indonesia ini bukan milik sesuatu golongan. Bukan milik sesuatu agama. Bukan milik sesuatu suku. Bukan milik sesuatu golongan adat-istiadat. Tapi milik kita semua dari Sabang sampai Merauke. Itulah pernyataan pembuka ujarnya.

Pendiri bangsa telah menyadari akan potensi disintegrasi yang membayangi Indonesia. Karena itu, pendiri bangsa ini telah membuat dasar Indonesia menjadi satu dari Sabang hingga Merauke.

Kepada kalian sebagai anak muda (mahasiswa, Red), saya titip pegang betul itu (persatuan dan kesatuan). Karena, kalau tidak, pecah negeri ini, ucapnya.

Masalah Ekonomi Indonesia

Luhut menyampaikan, Indonesia menjadi satu-satunya negara anggota G20 di Asia Tenggara dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata berada di angka 5,7 persen selama sepuluh tahun terakhir. Meski, dalam masa itu hingga saat ini kondisi ekonomi global mengalami kelesuan, ketidakpastian.

Capaian positif tersebut bukan tanpa sebab. Di antaranya, fakta bahwa Indonesia sangat kaya dengan sumber daya alam (SDA). Terlebih, Indonesia berkomitmen memberikan nilai tambah produksi SDA yang sebesar-besarnya ditujukan untuk kesejahteraan seluruh rakyat.

Tapi, kalau saya boleh bilang, kita kurang manage dan integrasikan. Untuk itu, saya minta kepada rektor dan para guru besar untuk belajar membuat bagaimana mengintegrasikan satu program, sebutnya.

Menuju Poros Maritim Dunia

Program Indonesia menjai poros maritim dunia yang digaungkan pemerintah juga dibahas Luhut. Indonesia, jelas Luhut, memiliki visi dan misi menjadi negara maritim yang berdaulat, maju, mandiri, kuat, serta mampu memberikan kontribusi positif bagi perdamaian di kawasan dan dunia sesuai kepentingan nasional.

Meski demikian, menurut dia, hal tersebut terlambat dieksekusi. Baru pada masa Presiden Joko Widodo, kebijakan terkait dengan itu benar-benar diupayakan serta direalisasiakan. Yakni, mengambil langkah untuk menjadikan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia.

Sejak saya masih menjadi perwira, selalu diumumkan posisi silang. Tapi, tidak pernah ada eksekusinya. Baru di era ini (Presiden Jokowi, Red). Untuk itulah, kami buat Perpres mengenai visi dan misi maritim ini, ungkap Luhut.

Anak Muda

Luhut juga mengakui diperlukan dan pentingnya kolaborasi serta pikiran-pikiran segar anak muda. Dia mencontohkan anak-anak muda yang berada di balik tim Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman.

Atas fakta tersebut, Luhut berharap segenap anak muda dan mahasiswa, terutama UNAIR, berani berproses dengan benar. Di bidang akademik, mahasiswa sebisa mungkin mampu meraih indeks prestasi kumulatif (IPK) cum laude. Yang selanjutnya, berikan pemikiran dan tenaga untuk bersama-sama membangun Indonesia melalui keahlian masing-masing.

Kalo kalian tahu, ini tim adalah anak-anak muda. Rata-rata mereka berumur 22 sampai 27 tahun, ujarnya.

Belajarlah dengan benar, IPK minimal 3,00. Kalo bisa, IPK minimal 3,50. Kemudian persiapkan bahasa Inggris untuk melajutkan pendidikan ke luar negeri, tambahnya. (*)

 

Penulis: Feri Fenoria Rifai

AKSES CEPAT