Clownfish atau ikan badut dikenal luas sebagai ikan hias laut yang populer sejak kemunculan karakter œNemo. Namun di balik kepopulerannya, sebagian besar ikan badut di Indonesia masih berasal dari alam, sehingga keberadaannya dihabiskan secara terus-menerus untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun ekspor. Melihat kondisi tersebut, sekelompok peneliti dari 51¶¯Âþ bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Universitas Indonesia melakukan studi genetik untuk mengungkap keragaman spesies ikan badut yang diperdagangkan di Pasar Ikan Hias Jatinegara, salah satu pusat perdagangan ikan hias terbesar di Indonesia.
Penelitian yang dipublikasikan di Egyptian Journal of Aquatic Research ini menganalisis tujuh spesies ikan badut dengan teknik DNA barcoding menggunakan gen 16S rRNA. Teknik ini memungkinkan identifikasi spesies secara akurat berdasarkan sidik jari DNA, sehingga sangat berguna untuk membedakan jenis-jenis ikan yang secara morfologi mirip dan sering salah dikenali. Sampel ikan diperoleh langsung dari pedagang di Jatinegara, lalu dianalisis di laboratorium untuk membaca urutan DNA dan membangun pohon kekerabatan antarspesies.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua spesies berhasil diidentifikasi dengan akurasi tinggi, yaitu Amphiprion ocellaris, A. percula, A. biaculeatus, A. clarkii, A. sandaracinos, A. melanopus, dan A. polymnus. Menariknya, tiga spesies yaitu A. sandaracinos, A. melanopus, dan A. polymnus merupakan ikan yang hingga kini belum dapat dibudidayakan di Indonesia dan masih sepenuhnya bergantung pada tangkapan alam. Temuan ini menegaskan perlunya pengawasan ketat terhadap perdagangan ikan badut agar tidak mengancam populasi liar di terumbu karang. Selain itu, penelitian ini juga mengungkap kedekatan hubungan evolusioner antarspesies, misalnya A. percula dan A. ocellaris yang secara genetik sangat mirip sehingga sering tertukar di pasaran.
Semua data DNA dari penelitian ini telah diunggah ke database internasional GenBank, sehingga dapat digunakan oleh peneliti lain untuk riset konservasi, pemuliaan ikan hias, dan pengembangan teknologi budidaya. Peneliti UNAIR, Darmawan Setia Budi, menegaskan bahwa pemanfaatan DNA barcoding sangat penting untuk mengendalikan perdagangan ikan hias, mencegah penyalahgunaan label spesies, dan mendukung keberlanjutan industri akuakultur. Ia menambahkan bahwa studi genetik seperti ini dapat menjadi dasar dalam menyusun kebijakan konservasi dan restocking, terutama bagi spesies yang masih sulit dibudidayakan.
Penelitian ini menjadi langkah awal menuju pemetaan genetik ikan hias laut Indonesia secara lebih luas. Dengan mengetahui keragaman genetik dan asal-usul spesies yang diperdagangkan, Indonesia dapat menjaga keberlanjutan sumber daya laut sekaligus meningkatkan kualitas budidaya ikan hias secara nasional.
Sumber:
Kusrini, E., Abinawanto, Wulandari, P.D., Nur, B., Priyadi, A., Permana, A., Santanumurti, M.B., Abu El-Regal, M.A., Budi, D.S., 2025. Genetic characterization of seven clownfish species from the Jatinegara ornamental fish market using 16S rRNA DNA barcoding. Egyptian Journal of Aquatic Research. In Press.
Oleh. Darmawan Setia Budi, S.Pi., M.Si.





