51动漫

51动漫 Official Website

Keanekaragaman Ikan laut dari Pelabuhan Kutaraja, Banda Aceh

Foto by Serambi news com

Aceh adalah provinsi paling barat Indo-Malaya Archipelago (IMA) yang dikenal sebagai hot spot keanekaragaman hayati laut tropis. Provinsi ini memiliki potensi perikanan yang cukup besar dengan luas perairan mencapai 295.370 km2 dan panjang garis pantai mencapai 2.666,3 km2. Salah satu pusat kegiatan penangkapan ikan sekaligus tempat pendaratan ikan terbesar di Aceh adalah Pelabuhan Perikanan Kutaradja. Produksi perikanan laut di pelabuhan perikanan ini meningkat dari 8.922 ton pada tahun 2013 menjadi 12.305 ton pada tahun 2017. Pendaratan ikan mengalami kerusakan parah akibat tsunami yang melanda Provinsi Aceh dan dibangun kembali pada tahun 2004. Pembangunan kembali pelabuhan perikanan Kutaradja telah menghidupkan kembali perekonomian dan kegiatan perikanan di wilayah Banda Aceh. Mengenai daerah penangkapan ikan bagi nelayan di pelabuhan perikanan ini, semua zona penangkapan ikan meliputi Samudera Hindia, Laut Andaman, dan Selat Malaka. Dua dari tiga wilayah tersebut masuk dalam Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 571 dan 572. Tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan pelagis dan demersal di kedua WPP ini termasuk dalam kategori overexploited.

Penelitian sebelumnya tentang jenis ikan yang banyak didaratkan oleh nelayan tradisional di Pelabuhan Perikanan Kutaradja masih dilakukan secara konvensional. Dari inventarisasi yang dilakukan di Pelabuhan Perikanan Kutaradja telah teridentifikasi 11 spesies. Namun laporan lain tentang jenis spesies ikan laut di Banda Aceh (Pulau Simeuleu) mengidentifikasi sekitar 77 spesies ikan laut yang termasuk dalam 54 genus, 26 famili, dan tujuh ordo. Inventarisasi ikan berasosiasi dengan terumbu karang di Ulee Lheue, Banda Aceh, juga menyebutkan terdapat 87 spesies ikan karang dari 28 famili di lokasi ini. Di daerah yang berbeda, Pantai Lhoknga dan Lhok Mata Ie, tercatat delapan ordo, 11 famili, 19 genera, dan 25 spesies dari 51 sampel ikan. Pendekatan morfologi merupakan metode yang paling banyak digunakan di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di Banda Aceh. Penelitian ini mengidentifikasi ikan laut molekuler pada regio Cytochrome C Oxidase subunit I (COI) dari gen mitokondria untuk melengkapi identifikasi morfologi yang juga dilakukan. Region COI ini merupakan region yang telah disepakati oleh beberapa penanda gen dalam identifikasi molekuler secara global. Penelitian tentang barcode pada beberapa biota perairan telah dilakukan seperti ikan laut di Australia, ikan laut di India, ikan laut di Turki, ikan laut di Tiongkok, dan ikan laut di Taiwan. Sedangkan penelitian identifikasi molekuler ikan di Aceh telah dilakukan pada beberapa spesies seperti ikan kerapu, dan Scomber spp. Penelitian identifikasi ikan laut yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Kutaradja ini merupakan penelitian pertama yang melakukan identifikasi molekuler. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi spesies ikan laut hingga tingkat spesies dengan menggunakan pendekatan molekuler untuk meminimalkan kesalahan identifikasi. Selain itu, penelitian ini juga melakukan identifikasi haplotipe Aceh pada kelompok Scombridae, Serranidae, dan Carangidae yang merupakan sumber daya ikan pelagis yang memiliki nilai ekonomi signifikan.

Dari penelitian ini, identifikasi ikan laut yang didaratkan di pelabuhan perikanan Kutaradja di Aceh mengkonfirmasi 47 spesimen (33 genera) ikan laut. Hampir semua jenis ikan menjadi komoditas perikanan dan menjadi target utama ekspor Provinsi Banda Aceh, antara lain ikan Tuna (Thunnus albacares) dan ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis). Pada penelitian ini, kelompok Scombridae menemukan satu haplotipe Aceh pada spesies Auxis thazard (MN257554). Sebaliknya, pada kelompok Carangids diketahui bahwa spesies Elagatis bipinnulata (MN257553) memiliki sekuen yang mirip dengan spesies yang sama dari Alabama USA (KF461174). Spesies lain dalam ordo Carangidae yaitu Decapterus macarellus dari Aceh memiliki kemiripan dengan sekuen dari China (MH638794) dan Malaysia (KY570732). Pada ikan karang jenis ini, penelitian ini menemukan spesies Variola albimarginata (India KM226315) yang memiliki kemiripan dengan sampel Aceh. Sebaliknya, Cephalopholis sonnerati (MN257517) memiliki kesamaan dengan spesies urutan yang sama dari Filipina (KU668631) dan Australia (DQ107928). Penelitian lebih mendalam tentang haplotipe ikan laut tersebut di atas sangat diperlukan untuk menjaga keanekaragaman hayati genetik di perairan Banda Aceh yang merupakan aset berharga bagi Indonesia.

Penulis Dr. Eng. Sapto Andriyono

Tulisan lengkap pada link:

Sitasi: Andriyono, S., Damora, A., & Kim, H. W. (2022). Molecular Identification and Phylogenetic Tree Reconstruction of Marine Fish Species from the Fishing Port of Kutaradja, Banda Aceh. Journal of Tropical Biodiversity and Biotechnology7(3), 71955.

AKSES CEPAT