51动漫

51动漫 Official Website

Kearifan Lokal Jadi Strategi Mitigasi Bencana oleh Mahasiswa UNAIR

(Foto: Istimewa)
(Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Dalam lingkup kebijakan saat ini, mitigasi bencana sering kali dibingkai melalui teknologi dan sistem formal. Namun, bagaimana jika solusi yang paling efektif justru tidak ditemukan di dalam institusi, melainkan di dalam tradisi?

淜ita sering mengabaikan nilai-nilai tradisional dalam pembuatan kebijakan. Padahal, nilai-nilai itulah yang paling dekat dengan masyarakat – yang berakar pada kepercayaan, komunitas, dan pengalaman hidup turun-temurun, ujar Hayyundasari Brillianza Arintra, mahasiswa 51动漫.

Filosofi ini memandu tim peneliti dari UNAIR dalam melakukan studi lapangan yang berjudul Integrasi Kearifan Lokal dalam Kebijakan Mitigasi Bencana: Studi Resiliensi Masyarakat melalui Tradisi Kenduren di Trenggalek, Jawa Timur.

Pada tanggal 12 Mei 2025, tim mengunjungi Desa Sumberingin, Kecamatan Karangan, di mana mereka ikut serta dalam tradisi lokal masyarakat setempat, Kenduren. Dihadiri oleh 35 warga, acara ini merupakan acara makan bersama dan ritual doa – sebuah ekspresi budaya dari rasa syukur dan harapan akan perlindungan kepada Tuhan. Yang membuat Kenduren kali ini berbeda adalah adanya integrasi pendidikan mitigasi bencana. Selama acara berlangsung, para mahasiswa memperkenalkan pengetahuan yang mudah diakses tentang tanda-tanda peringatan tanah longsor, pentingnya respons dini masyarakat, dan pengurangan risiko bersama – semuanya disampaikan dengan cara yang sopan dan berlandaskan budaya.

Sebagai bagian dari penelitian yang sama, tim juga mengamati Larung Sembonyo, ritual sedekah laut berskala besar di Desa Tasikmadu. Meskipun tidak ada pendidikan kebencanaan formal yang disampaikan dalam acara ini, tim mendokumentasikan dan menganalisis tradisi ini untuk memahami bagaimana ritual komunal besar mencerminkan semangat yang sama dengan Kenduren – tetapi dalam skala yang lebih luas dan kolektif.

Pada tahun 2022, Larung Sembonyo menerima penghargaan MURI (Museum Rekor Dunia Indonesia) setelah lebih dari 1.000 porsi ayam lodho (hidangan ayam tradisional) dilarung ke laut. Ritual ini mewakili permohonan spiritual yang mendalam untuk perlindungan dan keseimbangan dengan alam, terutama bagi masyarakat nelayan pesisir.

Penulis: Muhammad Hilmy

AKSES CEPAT