51动漫

51动漫 Official Website

Kebiasaan Olahraga dan Jenis Kelamin sebagai Faktor Risiko Stres Kerja

Olahraga Intensitas Sedang dan Kontinu Dapat Mempercepat Penyembuhan Luka
Ilustrasi Olahraga Ringan (sumber: Kompas)

Keberhasilan sebuah instansi atau organisasi tidak hanya dipengaruhi oleh faktor tunggal integrasi manajemen organisasi. Faktor lain dalam meningkatkan kualitas organisasi adalah kinerja setiap karyawan yang terlibat di dalamnya. Kinerja tersebut meliputi kinerja dari karyawan tingkat atas  hingga karyawan tingkat bawah (Yasa, 2017). Kinerja karyawan tentunya dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya lingkungan kerja, budaya organisasi, gaji, kepemimpinan dan motivasi, disiplin kerja, kepuasan kerja, komunikasi, dan faktor lainnya (Farisi dan Utari, 2020). Faktor kinerja karyawan merupakan fondasi dari kualitas perusahaan atau instansi. Perusahaan atau instansi yang memiliki karyawan yang berprestasi dapat menstimulasi peningkatan kinerja perusahaan. Instansi perlu menciptakan budaya organisasi dan lingkungan kerja yang kondusif demi kenyamanan karyawannya. Seorang pekerja dalam suatu organisasi atau instansi yang sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja  cenderung mengalami stres kerja (Pongantung, Kapantouw dan Kawatu, 2018).

Stres dapat diartikan sebagai hasil atau akumulasi dari suatu beban stimulus atau tindakan yang berlebihan yang diberikan oleh lingkungan terhadap kondisi psikologis seseorang. Sedangkan stres kerja dapat diartikan sebagai ketegangan yang ditimbulkan oleh ketidakseimbangan antara kondisi fisik dan kondisi psikis pada karyawan yang dapat mempengaruhi cara berpikir, emosi, dan kondisi karyawan (Aldi dan Susanti, 2019). Berdasarkan survei yang dilakukan di Perancis, 74% tenaga kesehatan khususnya perawat mengalami stres kerja. Keluhan stres kerja tersebut diakibatkan oleh tuntutan yang berlebihan terhadap fisik dan keterampilan perawat (Ansori dan Martiana, 2017). Selain itu, pegawai Dinas Kesehatan Kota Manado mengalami stres kerja dengan akumulasi 27,7% stres rendah dan 72,3% stres sedang. Kondisi ini secara langsung mempengaruhi produktivitas karyawan (Sorongan, Suoth dan Boky, 2019).

Stres kerja memiliki berbagai macam efek termasuk pada aspek kognitif dan perilaku. Pada aspek kognitif, stres kerja mengakibatkan meningkatnya distraksi, berkurangnya kapasitas memori jangka pendek, dan menurunnya konsentrasi. Sedangkan pada aspek perilaku, stres kerja mengakibatkan menurunnya kualitas kerja, terganggunya pola tidur, dan meningkatnya ketidakharmonisan kerja (Ansori dan Martiana, 2017). Gejala lain dari stres kerja antara lain gejala fisiologis seperti peningkatan tekanan darah, sakit kepala, perubahan metabolisme, dan lain sebagainya (Amsar, 2018).

Stres kerja yang dipengaruhi oleh tingkat pekerjaan yang diberikan kepada karyawan pria dan wanita memiliki dampak yang cukup besar terhadap kondisi psikologis karyawan. Sesuai dengan prinsip kesetaraan dan keadilan gender di Indonesia, telah ditetapkan kondisi yang sama bagi pria dan wanita untuk memiliki kesempatan yang sama dalam partisipasi mereka di bidang pembangunan dan pekerjaan. Penelitian yang dilakukan terhadap 124 karyawan (responden) di PT Telekomunikasi Indonesia Tbk menemukan bahwa terdapat perbedaan antara stres kerja laki- laki dan perempuan dimana karyawan perempuan lebih banyak mengalami stres kerja dibandingkan dengan karyawan laki-laki (Amsar, 2018). Selain itu, penelitian lain menemukan bahwa karyawan wanita lebih rentan mengalami stres karena pengaruh hormon oksitosin, estrogen, dan seksual (Rohmatillah dan Kholifah, 2021).

Stres kerja yang dialami karyawan dapat dengan mudah dikendalikan. Salah satu caranya adalah dengan berolahraga secara teratur. Menurut sebuah penelitian yang berjudul “Hubungan Antara Aktivitas Fisik, Psychological Well-being, and Stress in a College Population,” aktivitas fisik dan olahraga memiliki efek yang baik terhadap pengendalian stres mahasiswa (Bayk枚se dan Erdogan, 2021). Olahraga teratur membantu orang menetralisir stres. Hal ini karena berolahraga dapat merangsang hormon kebahagiaan, yaitu endorfin, yang menciptakan perasaan tenang, mengurangi rasa sakit, dan melepaskan ketegangan. Endorfin yang dihasilkan dari olahraga dapat menggantikan hormon stres sehingga emosi dapat dikendalikan dengan stabil oleh seseorang. Selain itu, endorfin juga berperan dalam mengurangi rasa cemas yang berlebihan, stres, dan depresi (Poluakan dan  Manampiring, 2020).

Salah satu hasil penelitian di perkantoran menunjukkan adanya hubungan antara stres kerja dengan jenis kelamin dan kebiasaan olahraga. Hasil uji statistik yang dilakukan terhadap variabel jenis kelamin dan stres kerja menunjukkan bahwa terdapat korelasi yang cukup kuat antara keduanya. Hasil ini relevan dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa pria memiliki kemampuan fisik yang berbeda dengan wanita. Fenomena stres kerja lebih sering terjadi pada wanita. Siklus menstruasi pada wanita juga menambah stres kerja mereka dengan meningkatkan emosi yang tidak stabil. Emosi yang tidak terkontrol dengan baik ini akan menambah beban kerja yang mereka rasakan (Mulfiyanti, Muis dan Rivai, 2019).

Pegawai perempuan juga dituntut untuk mempersiapkan kebutuhan suami, keluarga, pengasuhan anak, dan kebutuhan rumah tangga lainnya sebelum berangkat ke kantor. Dengan demikian, tren beban kerja semakin meningkat sehingga menimbulkan stres kerja (Ansori dan Martiana, 2017). Selain itu, setiap orang memiliki kepribadian masing-masing yang juga akan mempengaruhi respon mereka dalam menerima stimulus stres kerja. Kepribadian sangat berpengaruh terhadap kemampuan orang dalam mengelola stresor sehingga dampak yang dirasakan dapat dikurangi secara optimal (Muhmmad, 2018).

Hasil uji statistik yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan bahwa variabel kebiasaan berolahraga dan stres kerja memiliki korelasi yang cukup kuat. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa olahraga membantu mengurangi risiko penyakit dan menjaga kebugaran tubuh dari rasa cemas, depresi, dan stres (Bernstein, 2018). Tidak hanya pada orang dewasa, olahraga juga perlu dioptimalkan pada anak-anak dan remaja. Stres dapat dinetralisir dengan kebiasaan berolahraga karena otak memberikan respon kimiawi yang spesifik ketika berolahraga. Reseptor neuron di otak diikat oleh hormon endorfin, sehingga dapat meredakan stres (Putri, 2022).

Title:  Gender and Exercise Habits as Factors Causing Work Stress in Surabaya City Health Office Employees

Link:

AKSES CEPAT