51动漫

51动漫 Official Website

Kebiasaan Sarapan Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa SMP

Ilustrasi sarapan (sumber: Honestdoc)

Remaja diharapkan memiliki kinerja atau prestasi belajar yang baik serta mampu menghadapi tantangan yang ada, baik sekarang maupun di masa depan. Oleh karena itu, pendidikan sangat diperlukan karena adalah kunci penting dalam meningkatkan kualitas bangsa di masa depan. Kemampuan akademik selama pendidikan dapat dilihat dari prestasi belajar siswa, yang juga bisa menjadi standar keberhasilan anak di sekolah. Faktor gizi memiliki peran signifikan pada perkembangan otak dan perilaku, kemampuan kerja dan produktivitas, serta kekebalan terhadap penyakit infeksi. Umumnya, individu dengan status gizi yang baik cenderung memiliki tingkat aktivitas yang lebih tinggi, yang pada gilirannya mendukung prestasi belajar. Prestasi belajar memiliki hubungan erat dengan tingkat kecerdasan.

Asupan gizi yang kurang selama masa remaja dapat mempengaruhi aktivitas siswa di sekolah, seperti mudah lelah, terlihat lemah, pertumbuhan terganggu, kekurangan gizi pada masa dewasa, dan menurunkan prestasi di sekolah. Kekurangan gizi pada anak-anak akan membuat mereka mengalami perubahan metabolisme yang berdampak pada kemampuan kognitif dan kemampuan otak. Perilaku makan sehari-hari dapat mempengaruhi status gizi anak, termasuk perilaku sarapan. Remaja memerlukan sarapan sebelum pergi ke sekolah agar dapat memenuhi kebutuhan gizi mereka dan sebagai cadangan energi agar dapat menjalankan kegiatan dengan baik dan berkonsentrasi saat belajar. Sarapan mengandung karbohidrat yang siap digunakan untuk meningkatkan glukosa darah. Setelah makan malam, tubuh memasuki keadaan puasa selama 10-12 jam dengan cadangan glukosa darah yang cukup untuk digunakan selama dua hingga tiga jam di pagi hari, sehingga siswa memerlukan sarapan untuk memberikan energi agar tidak merasa lesu atau lemah.

Berdasarkan penelitian Said, et al (2024), hasil prestasi belajar siswa SMP Strada Nawar Bekasi menunjukkan bahwa hampir separuh responden (48,1%) memiliki prestasi belajar yang baik, dan 12,4% memiliki prestasi belajar yang sangat baik. Sebanyak 54,3% memiliki status gizi yang baik, tetapi 40,8% responden memiliki status gizi berlebih yang terdiri dari kelebihan berat badan dan obesitas. Sebagian besar siswa yang memiliki kebiasaan sarapan yang baik memiliki prestasi belajar yang baik (52,4%), sementara sebagian besar siswa yang memiliki kebiasaan sarapan kurang baik memiliki prestasi belajar yang cukup (60,0%). Penelitian tersebut menemukan bahwa terdapat hubungan antara kebiasaan sarapan dan prestasi belajar. Kebanyakan siswa yang memiliki kebiasaan sarapan yang baik dapat mencapai prestasi belajar yang baik.

Sarapan adalah kebiasaan yang dilakukan secara teratur di pagi hari dan memainkan peran penting bagi anak-anak sekolah dalam pertumbuhan dan perkembangan serta dalam memenuhi kebutuhan gizi sehingga mereka dapat menjalani berbagai aktivitas di sekolah secara optimal. Meskipun kebiasaan sarapan kebanyakan responden baik, masih ada beberapa responden yang memiliki kebiasaan sarapan yang buruk. Beberapa responden menyatakan alasan untuk melewatkan sarapan, yaitu malas untuk sarapan, terburu-buru karena takut terlambat, tidak terbiasa sarapan, dan merasa mual. Jika anak tidak sarapan, anak akan menjadi lemah karena kekurangan makanan, menyulitkan anak untuk berkonsentrasi belajar. Hal ini dapat berpengaruh terhadap pencapaian prestasi belajar yang optimal.

Sarapan yang baik terdiri dari makanan yang menjadi sumber energi, sumber zat pembangun, dan sumber zat regulasi. Sarapan merupakan makanan terpenting dalam sehari. Menu sarapan kebanyakan responden terdiri dari makanan pokok, lauk pauk, sayuran, dan buah. Kebanyakan responden mengatakan bahwa menu sarapan mereka selalu berubah setiap hari. Banyak orang percaya bahwa sarapan adalah makanan penting dan harus diberikan perhatian ekstra, terutama untuk anak-anak. Sarapan secara teratur terkait dengan mengonsumsi lebih banyak zat gizi penting, mengikuti diet yang lebih sehat yang mencakup buah-buahan dan sayuran, serta mengonsumsi minuman manis lebih sedikit. Ada dua manfaat sarapan bagi siswa. Pertama, sarapan mengandung karbohidrat yang digunakan untuk meningkatkan glukosa dalam darah. Kadar glukosa normal menyebabkan semangat dan konsentrasi belajar yang lebih baik, yang dapat mempengaruhi prestasi belajar. Kedua, sarapan memberikan kontribusi terhadap zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh, seperti protein, lemak, vitamin, dan mineral.

Penulis: Lailatul Muniroh – Departemen Gizi FKM UNAIR
Link:

AKSES CEPAT