51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Kecemasan dan Aktivitas Spiritual Mempengaruhi Motivasi untuk Sembuh Penderita Tuberkulosis Paru

Foto by EMC

Penyakit Tuberkulosis Paru (TB) masih menjadi salah satu penyakit yang mendapatkan perhatian di dunia secara global. Penyakit ini mengakibatkan kesakitan sekitar 10 juta orang pada setiap tahun dan menjadi salah satu dari sepuluh penyebab kematian di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Mulai tahun 1995 upaya dalam pengendalian TB Paru menggunakan strategi DOTS (Direct Observed Treatment Short-course) telah diterapkan di berbagai Negara yang memerlukan waktu relatif lama dan membutuhkan keteraturan dalam menjalani pengobatan, hal ini bisa mengakibatkan kejenuhan penderita dalam menjalani pengobatan. Pengobatan yang tidak teratur menyebabkan penderita mengalami kasus MDR (multidrug resistant) pada obat anti TB (OAT) sehingga menurunnya angka kesembuhan pada klien.

Perilaku untuk sembuh pada penderita TB Paru dipengaruhi oleh motivasi yang ada dalam diri mereka, dimana motivasi sembuh ini erat kaitannya dengan faktor psikologi yang dimiliki individu diantaranya kecemasan dan spiritualitas. Penderita TB paru memiliki tingkat kecemasan yang tinggi kemungkinan karena kronisitas penyakitnya sehingga motivasinya juga rendah, kondisi tersebut dapat mempengaruhi kondisi imunologis dan peningkatan aktifitas bakteri TB dalam tubuh. Seseorang dengan tingkat kecemasan yang ringan akan memiliki sikap positif yang mana juga memiliki kepercayaan dan perencanaan diri yang tinggi, sehingga hal ini akan memunculkan motivasi yang tinggi juga.

Nilai dan keyakinan agama meski tidak dapat dengan mudah dievaluasi tetapi pengaruh keyakinan tersebut dapat di amati dengan kemampuan seseorang dalam mengatasi kondisi stress. Penderita TB paru yang tidak percaya bisa sembuh dari penyakitnya, penderita yang merasa tidak berguna dan tidak ada artinya untuk hidup (tidak ada motivasi) cenderung memiliki spiritual yang buruk. Penderita TB paru yang tidak mampu membangun aspek spiritualnya maka tidak mempunyai kemampuan untuk mengetahui dasar hidupnya, tidak memiliki kedamaian, bahkan tidak ada motivasi untuk menolong diri sendiri sehingga akan berdampak pada kondisi fisik yang akan memperburuk kondisinya.

Penulis: Ika Nur Pratiwi, Laily Hidayati, Novela Ikko Alviani

Untuk informasi lebih lanjut bisa melalui link berikut:

Pratiwi IN, Hidayati L, Ikko N, Mckenna L. The correlation between anxiety levels and spiritual activities with motivation to recover in pulmonary tuberculosis. Enfermería Clínica [Internet]. 2021;31:535“9. Available from: https://doi.org/10.1016/j.enfcli.2020.10.037

AKSES CEPAT