51动漫

51动漫 Official Website

Kegagalan dalam Pernikahan

Baru-baru ini, terdapat banyak kasus tentang perceraian di Indonesia. Berdasarkan data laporan Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2023 terdapat 463.654 kasus perceraian di Indonesia, turun 10,2% dibanding 2022 yang mencapai angka 516.334. Pada tahun 2023, mayoritas perceraian di Indonesia merupakan cerai gugat, yaitu cerai yang diajukan oleh istri dan telah diputus di pengadilan. Jumlahnya mencapai angka 352.403 kasus atau 76% dari total kasus perceraian nasional. Kemudian sisanya terjadi karena cerai talak, yaitu cerai yang diajukan oleh suami dan telah diputus di pengadilan.

Lantas, apakah faktor yang mendasari banyaknya kasus perceraian di Indonesia? Menurut data Badan Pusat Statistik, faktor penyebab utama perceraian pada tahun 2022 yaitu perselisihan dan pertengkaran yang terjadi secara terus-menerus. Adapun jumlahnya sebanyak

284.169 kasus atau 63,41% dari total penyebab kasus perceraian lainnya. Perselisihan dan pertengkaran dapat terjadi saat pasangan suami istri memiliki perbedaan pendapat. Hal ini memang sifat dasar manusia yang memiliki pemikiran bahwa argumennya yang paling benar. Namun, jika tidak ada yang mau mengalah, maka akan terjadi pertengkaran. Bahkan, masalah yang awalnya kecil bisa menjadi besar karena keegoisan masing-masing. Selain itu, faktor penyebab lainnya yaitu perselingkuhan dan alasan ekonomi. Di dalam artikel ini akan saya bahas tentang faktor-faktor penyebab perceraian tersebut.

Faktor kedua yang menyebabkan perceraian yaitu perselingkuhan. Tidak heran jika salah satu pihak memilih untuk bercerai karena faktor ini. Siapa sih yang mau diduakan? Namun, terkadang kita juga perlu introspeksi diri, kira kira apa yang membuat pasangan kita selingkuh. Hal itu bisa saja terjadi jika kita kurang memperhatikan pasangan kita dan akibatnya pasangan kita mencari perhatian lebih di luar sana. Alasan lain yang mendasari perselingkuhan yaitu kurangnya rasa dihargai. Ketika seseorang dalam kondisi tersebut dan ada orang lain yang bisa memenuhi kebutuhan emosional dengan cara memberikan perhatian lebih, itulah awal dimulainya perselingkuhan.

Faktor terakhir yang menyebabkan perceraian yaitu faktor ekonomi. Faktor ini sudah tidak asing lagi menjadi penyebab perceraian dalam rumah tangga. Kebanyakan, faktor ekonomi didasari oleh rendahnya penghasilan suami untuk mencukupi kehidupan rumah tangga dan status istri yang menjadi tulang punggung keluarga. Rendahnya penghasilan suami membuat istri merasa tidak cukup karena sekarang semuanya membutuhkan biaya yang semakin besar jika hanya mengandalkan satu sumber penghasilan. Hal ini membuat seorang istri tergerak untuk bekerja agar kebutuhan rumah tangga tetap tercukupi. Namun, lama kelamaan seorang istri akan menuntut kepada sang suami agar bisa memberikan pemasukan yang lebih tinggi dari penghasilannya. Perkara inilah yang dapat menyulut konflik sehingga mengakibatkan perceraian.

Adanya faktor-faktor tersebut membuat sebagian orang takut untuk menikah. Berdasarkan data laporan Badan Pusat Statistik, angka pernikahan di Indonesia pada tahun 2022 yaitu 1.705.348 sedangkan pada tahun 2023 mengalami penurunan menjadi 1.577.255. Menurunnya angka pernikahan ini juga menyebabkan ketakutan sebagian perempuan untuk menjalin sebuah hubungan rumah tangga. Apalagi diperkuat dengan tingginya angka

perceraian bisa menjadi faktor untuk seseorang tetap melajang. Adakah dampak lain yang disebabkan oleh faktor perceraian ini?

Selain hal di atas, ada dampak paling parah yang disebabkan oleh perceraian, yaitu anak. Perceraian orang tua dapat menyisakan luka bagi anak. Bahkan, luka yang dialami anak bisa terus terbawa sampai dewasa. Anak bisa merasa takut dan cemas akan kehilangan kasih sayang dari orang tuanya. Selain itu, anak juga memikirkan apa yang akan terjadi ke depannya, seperti, 淎ku harus tinggal dengan siapa? Apakah masih bisa berkomunikasi dengan orang tua? Apakah orang tuaku masih sayang kepadaku? Apakah aku akan ditelantarkan?. Hal ini membuat anak menjadi cemas karena tidak tahu apa yang akan terjadi.

Mengutip Repositori Kemendikbud, perubahan perilaku juga seringkali terjadi pada anak dan bentuknya pun bisa bermacam-macam. Pada anak laki-laki biasanya menjadi lebih ribut, lebih pemarah, dan seperti tidak kehabisan energi sehingga selalu bergerak. Ada juga anak yang menarik diri dari teman-temannya dan lebih suka duduk sendiri. Sedangkan pada anak perempuan biasanya lebih diam. Mereka menjadi sangat memperhatikan kerapihan, berusaha menjadi anak baik, dan meniru orang tua atau guru saat menggurui atau memarahi orang lain. Akan tetapi pada dasarnya, anak laki-laki maupun perempuan pasti merasa sedih, menangis lebih banyak, dan lebih menuntut.

Penulis: Eka Febriani, Mahasiswa Akuntasi, Fakultas Vokasi

AKSES CEPAT