UNAIR NEWS Langkah dan gebrakan menuju 500 kampus kelas dunia terus dilakukan seluruh elemen di lingkungan 51动漫. Salah satunya, Lembaga Penelitian dan Inovasi (LPI). Sebagai salah satu lembaga yang menaungi urusan riset dan inovasi, LPI telah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk mendorong para peneliti, terutama dosen, untuk terus melakukan riset dan inovasi.
Menanggapi hal tersebut, Ketua LPI UNAIR Prof. Hery Purnobasuki, MSi., PhD., yang ditemui UNAIR News pada pekan lalu menyatakan bahwa hasil riset dan inovasi para dosen diharapkan tidak berhenti pada laporan penelitian. Lebih jauh dari itu, pihaknya berupaya mendorong riset para dosen peneliti bisa sampai pada tahap hilirisasi serta terpublikasi.
滺al ini terus kami dorong. Agar luaran yang kami miliki bisa dikenal negara lain. Caranya, ya melalui publikasi, terangnya.
Mengenai publikasi, Hery menegaskan bahwa tantangan yang dihadapi ke depan semakin berat. Sebagai ketua, dia memang ditarget pimpinan untuk bisa menghasilkan publikasi internasional. Terutama publikasi yang terindeks Scopus.
滽ami ditarget bisa menghasilkan publikasi 400 karya. Hingga Oktober ini, riset kami sudah berada di angka lebih dari 300 karya. Ini harus terus ditingkatkan agar sesuai dengan target pada akhir tahun nanti, paparnya.
Tidak hanya mendukung publikasi, Hery juga berupaya meningkatkan kualitas peneliti. Karena itu, pihaknya bersama Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan serta Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi dengan Reviewer Penelitian Nasional (RPN), bersama Quantum HRM Internasional dan Badan Standarisasi Nasional menggelar Pelatihan Reviewer Penelitian Bersertifikat bagi dosen UNAIR pada akhir Oktober.
Pada acara di Hotel Swiss-Belinn Surabaya itu, 50 dosen peneliti yang telah menjadi reviewer ditunjuk secara langsung oleh pihak LPI UNAIR. Menurut Hery, kegiatan kerja sama dengan pemerintah pusat tersebut ditujukan untuk menghasilkan reviewer penelitian yang jujur dan profesional dalam menilai kelayakan proposal serta keluaran penelitian.
漇emua ini kan harus terstandardisasi. Kami memilih dosen peneliti tentu dengan berbagai pertimbangan yang sudah matang, ucapnya.
Peningkatan kualitas peneliti bukan tanpa alasan. Bagi Hery, dengan tersertifikasinya para dosen peneliti, ke depan hasil proposal penelitian yang dihasilkan bisa lebih maksimal.
Selain itu, guru besar FST UNAIR itu menambahkan bahwa dengan memiliki sertifikat, dosen peneliti yang nanti menjadi reviewer bisa mendorong para peneliti UNAIR untuk menghasilkan riset yang bagus. Termasuk dosen peneliti sebagai reviewer yang terpakai secara nasional bakal banyak.
滵engan menjadi reviewer bersertifikat, tuntutannya memang lebih besar. Kalau sudah seperti itu, kan proposal penelitian benar-benar menghasilkan hasil yang riil dan tidak merugikan negara, pungkasnya.
Penulis: Nuri Hermawan
Editor: Feri Fenoria





