Kanker hingga saat ini masih menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar di dunia. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), penyakit ini merupakan salah satu penyebab kematian utama secara global. Dalam upaya menjawab tantangan ini, para peneliti terus mengeksplorasi kekayaan alam sebagai sumber obat-obatan baru. Salah satu potensi besar ditemukan pada pohon Calophyllum calaba L., atau yang di Thailand dikenal dengan nama lokal Thunghoon (ถุงฮุน).
Penelitian mengenai senyawa anti-kanker dari bahan alam merupakan kontribusi nyata terhadap Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 3, yaitu menjamin kehidupan yang sehat dan meningkatkan kesejahteraan seluruh penduduk di semua usia. Fokus utama dari target ini adalah mengurangi angka kematian dini akibat penyakit tidak menular, termasuk kanker, melalui pencegahan dan pengobatan. Dengan ditemukannya kandidat senyawa baru dari alam, kita selangkah lebih dekat dalam menyediakan akses pengobatan yang lebih efektif dan terjangkau bagi masyarakat luas.
Pohon dari genus Calophyllum (suku Calophyllaceae) memang sudah lama dikenal kaya akan senyawa metabolit sekunder, khususnya golongan kromanon, xanton, dan kumarin. Senyawa-senyawa ini memiliki struktur molekul yang beragam dan menyimpan potensi farmakologis, mulai dari anti-mikroba hingga anti-virus seperti HIV.
Dalam penelitian terbaru terhadap kulit batang C. calaba yang dikumpulkan dari Distrik Buachet, Provinsi Surin, Thailand, tim peneliti berhasil mengisolasi sepuluh senyawa kimia. Delapan di antaranya merupakan temuan baru yang belum pernah dilaporkan sebelumnya, yang kemudian diberi nama Calabanones A hingga H.
Menariknya, dua dari senyawa tersebut”Calabanone G dan H”merupakan struktur hibrida antara kromanon dan steroid yang terhubung melalui ikatan ester. Ini adalah laporan pertama di dunia mengenai keberadaan struktur hibrida unik tersebut di dalam tumbuhan. Penemuan ini tidak hanya memperkaya perpustakaan kimiawi bahan alam, tetapi juga menjadi penanda penting dalam studi taksonomi tumbuhan.
Bagaimana Senyawa Ini Melawan Sel Kanker?
Untuk menguji potensinya, senyawa-senyawa yang berhasil diisolasi diuji di laboratorium menggunakan metode MTT assay. Pengujian ini dilakukan terhadap beberapa lini sel kanker manusia, di antaranya:
- Sel KB: Sel kanker karsinoma epidermoid.
- Sel HeLa S3: Sel kanker serviks.
- Sel HepG2: Sel kanker hati.
Hasilnya cukup menjanjikan. Senyawa Calabanone F dan salah satu analognya, (-)-isocalomembranone P, menunjukkan aktivitas sitotoksik (kemampuan menghambat sel kanker) yang moderat terhadap sel kanker serviks (HeLa) dan sel KB. Sementara itu, beberapa senyawa lainnya secara selektif mampu menghambat pertumbuhan sel KB
Keberhasilan identifikasi senyawa-senyawa rumit ini tidak lepas dari teknologi canggih. Para peneliti menggunakan alat spektroskopi seperti Nuclear Magnetic Resonance (NMR) dan Mass Spectrometry (HRESIMS) untuk membedah susunan atom dalam molekul tersebut. Tak hanya itu, aspek mutakhir dari penelitian ini adalah penggunaan kimia komputasi. Metode perhitungan DP4+ dan simulasi Electronic Circular Dichroism (ECD) berbasis Density Functional Theory (DFT) digunakan untuk memastikan bentuk tiga dimensi (konfigurasi absolut) dari molekul-molekul tersebut secara akurat. Hal ini krusial karena perbedaan orientasi atom dalam ruang dapat menentukan efektivitas senyawa tersebut sebagai obat.
Meski penelitian ini masih berada pada tahap laboratorium, penemuan Calabanones A“H memberikan titik terang dalam pencarian obat kanker masa depan. Hutan tropis kita adalah laboratorium raksasa yang menyimpan rahasia penyembuhan berbagai penyakit.
Dukungan terhadap penelitian bahan alam bukan hanya sekadar urusan sains, melainkan investasi nyata untuk mencapai target SDGs dalam mewujudkan dunia yang lebih sehat. Dengan penelitian yang berkelanjutan, molekul unik dari kulit batang pohon ini diharapkan dapat dikembangkan menjadi terapi kanker yang lebih ampuh dan selektif di masa depan.
Penelitian ini merupakan hasil kolaborasi internasional yang melibatkan peneliti dari tiga negara: Thailand, Indonesia, dan Jepang. Peneliti dari 51¶¯Âþ memegang peran krusial dalam aspek pemodelan komputasi, yang mencakup perhitungan Density Functional Theory (DFT) serta analisis spektroskopi ECD dan NMR untuk memastikan akurasi struktur molekul yang ditemukan.
Referensi:
Kaennakam, Sutin, Fadjar Mulya, Manussada Ratanasak, Kitiya Rassamee, Pongpun Siripong, Yasuteru Shigeta, Preecha Phuwapraisirisan, and Edwin R. Sukandar. “Calabanones A’H, chromanone derivatives from the stem bark of Calophyllum calaba and their cytotoxic activities against cancer cells.” Natural Products and Bioprospecting 16, no. 1 (2026): 43.





