51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Kelangsungan Hidup, Perubahan Osmoregulasi dan Hemosit pada Postlarva Litopenaeus Vannamei yang Diaklimatisasi pada Interval Penurunan Salinitas yang Berbeda

Foto oleh Pinterest

Budidaya udang di Indonesia berkembang pesat, terutama setelah introduksi udang vaname (Litopenaeus vannamei) dari perairan Pasifik Selatan pada tahun 2001. Udang ini biasanya dibudidayakan dengan sistem semi intensif di sepanjang garis pantai. Udang ini dapat meningkatkan produksi tambak karena tingkat kelangsungan hidup yang tinggi dan kemampuan hidup pada padat tebar yang tinggi. Namun, peningkatan produksi udang vaname saat ini terkendala oleh lahan pesisir yang terbatas dan mahal. Produksi udang di daratan jauh dari pantai dan halaman belakang rumah menggunakan air akuifer salinitas rendah merupakan alternatif yang cocok untuk budidaya pesisir dan diversifikasi pertanian. Banyak negara, termasuk Indonesia, saat ini menggunakan air akuifer salinitas rendah untuk budidaya udang.

L. vannamei, dianggap sebagai salah satu pilihan terbaik untuk budidaya di daratan karena toleransi yang lebih kuat terhadap salinitas rendah dibandingkan spesies lain seperti L. setiferus, L. stylirostris, dan P. chinensis. Penelitian sebelumnya telah melaporkan bahwa L. vannamei dapat tumbuh dengan sukses dalam kondisi salinitas rendah. Kelangsungan hidup pada fase awal pemeliharaan, di sisi lain, sebagian besar tergantung pada aklimatisasi pengaturan salinitas rendah. Postlarva (PL) dari hatchery komersial biasanya diangkut pada salinitas tinggi. Agar berhasil mentransfer dan membudidayakan PL ini di salinitas rendah, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengembangkan teknik aklimatisasi salinitas. Kemampuan untuk merespon perubahan fisiologis pada PL merupakan fungsi penting dari manajemen untuk mentransfer PL dari pembenihan ke tambak udang.

Perubahan salinitas ambien dapat mengganggu keseimbangan osmotik udang. Udang mungkin harus mengeluarkan sejumlah besar energi untuk menyesuaikan keseimbangan osmotik. Osmoregulasi sangat bergantung pada aktivitas Na+-K+-ATPase (NKA) dan konsentrasi ionik hemolimpha air seperti Na+, K+, dan Cl. Insang menyediakan sebagian besar fungsi osmoregulasi ketika hewan berpindah dari perairan salin tinggi ke rendah. Selanjutnya, stres salinitas dapat melemahkan kekebalan udang, yang mungkin terkait dengan penurunan jumlah total hemosit, membuat udang lebih rentan terhadap infeksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi cekaman osmotik pada PL L. vannamei  mulai dari air laut (35°) hingga salinitas rendah (5°) dengan tingkat cekaman osmotik progresif yang berbeda. Kelangsungan hidup, osmolalitas hemolimfa, tingkat ion (Na+, K+, Cl), Na+-K+-ATPase, dan jumlah total hemosit termasuk di antara parameter yang dievaluasi.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai cekaman osmotik pada postlarva (PL12) Litopenaeus vannamei pada tiga tingkat cekaman osmotik progresif yang berbeda mulai dari air laut (35°) hingga salinitas rendah (5°). Kelangsungan hidup PL12 berkurang karena salinitas sedang menurun. PL12 yang diaklimatisasi secara bertahap 5 menunjukkan kelangsungan hidup yang jauh lebih tinggi (dengan persentase kelangsungan hidup (SP) 90%) daripada yang diaklimatisasi secara bertahap 10 (SP = 80 %) dan 15 (SP = 58%) . Pada akhir periode aklimatisasi (pada 5 ppt), PL12 yang diaklimatisasi dengan aklimatisasi bertahap 15 ppt (Percobaan 3) menunjukkan osmolalitas hemolimfa yang jauh lebih besar (696 mOsm/kg H2O) daripada yang secara bertahap diaklimatisasi dengan aklimatisasi bertahap 10 ppt (546 mOsm/kg H2O, Percobaan 2) dan 5 ppt (450 mOsm/kg H2O, Percobaan 1). Kadar Na+, K+ dan Cl- pada hemolimfa PL12 menurun dengan menurunnya salinitas pada ketiga percobaan. Tingkat Na+-K+-ATPase dari PL12 meningkat seiring dengan penurunan salinitas. Jumlah total hemosit menurun ketika salinitas menurun dari 35 ppt menjadi 5 ppt. Waktu aklimatisasi yang lebih lama dapat menjelaskan tingkat kelangsungan hidup yang lebih besar, karena kemungkinan memastikan keseimbangan ion antara hemolimfa udang dan lingkungan sekitarnya sehingga meminimalkan tekanan osmoregulasi.

Authors: Mohsan Abrori, Agoes Soegianto, Dwi Winarni

Website:

Journal: Aquaculture Reports 25 (2022) 101222

AKSES CEPAT