Mikroplastik (MP), potongan plastik kecil berukuran kurang dari 5 mm (Arthur et al., 2008), telah terakumulasi di lautan dalam skala global (Thompson et al., 2004) dan dianggap sebagai bahaya besar karena penyebarannya yang luas. di berbagai ekosistem perairan (Nithin et al., 2022), mulai dari air permukaan laut hingga dasar sedimen (Gomiero et al., 2018). Akibat pengelolaan sampah yang buruk, sebagian besar sampah plastik di lingkungan laut berasal dari sumber terestrial akibat aktivitas antropogenik (Jambeck et al., 2015; Squillante et al., 2023). Saat ini terdapat 4.066 spesies yang diketahui terkena dampak sampah laut (Zhang et al., 2023), termasuk ikan. Informasi komprehensif mengenai keberadaan mikroplastik pada ikan di seluruh dunia telah disediakan oleh beberapa penelitian (Carbery et al., 2018; Jacob et al., 2020). MP yang tertelan secara fisik dapat membuat usus ikan berlubang, menghambat sistem pencernaannya, serta menurunkan aktivitas makan dan asupan nutrisinya sekaligus memberikan rasa kenyang yang palsu (Walkinshaw et al., 2020). Usus dan jaringan lain dapat menyerap partikel berukuran mikro lebih kecil dari 25 碌m atau 10 碌m (Abbasi et al., 2018), yang dapat terakumulasi di berbagai organ (Ivleva et al., 2017). Selain itu, logam berat (Brennecke et al., 2016; Li et al., 2022), kontaminan organik yang persisten (Bhagat et al., 2022; Verd煤 et al., 2023), dan bahan tambahan plastik seperti plasticizer (Corami et al. , 2022) juga dapat diangkut melalui akumulasi mikroplastik. Bahan aditif ini sengaja ditambahkan ke dalam plastik untuk mengubah sifat fisik dan kimianya serta meningkatkan kinerjanya, serta memangkas biaya produksinya (Mafuta et al., 2021). Jumlahnya banyak dalam kimia dan melakukan berbagai fungsi seperti penstabil cahaya, penstabil panas, zat pigmen, penghambat api, antistatis, dll. (Costa et al., 2023). Namun, polimer yang tersusun dalam mikroplastik, dan adanya monomer, kontaminan, aditif, atau senyawa lain yang tidak bereaksi dalam matriks polimer seperti pemlastis, dapat memberikan risiko ekotoksikologi (ECHA, 2019). Selain itu, bahan aditif itu sendiri dapat terurai dan menghasilkan senyawa berbahaya lainnya saat masih menempel pada produk plastik atau setelah pencucian, yang dapat tertinggal di lingkungan dan terakumulasi dalam biota (Costa et al., 2023), dan pada akhirnya dapat meningkatkan efek berbahaya pada banyak organisme (Beiras et al., 2021). Misalnya saja, di(2-ethylhexyl) phthalate (DEHP) dan produk sampingannya, yang merupakan bahan pemlastis (plasticizer) yang paling banyak digunakan, telah dikaitkan dengan gangguan endokrin baik pada manusia maupun hewan, serta mempunyai efek merugikan pada perkembangan reproduksi pria (Jamarani et. al., 2018). Karena fenomena ini, dampak negatif mikroplastik terhadap kehidupan akuatik dan kemungkinan risikonya terhadap kesehatan manusia semakin mendapat perhatian (Fu et al., 2020; Zhou et al., 2020).
Ukuran partikel mikroplastik yang kecil serta warna dan daya apungnya yang menarik memungkinkan ikan pelagis mengonsumsinya dengan mudah. Ikan dapat dengan sengaja mengonsumsi mikroplastik karena salah mengiranya sebagai mangsa alaminya, misalnya plankton, atau dapat secara tidak sengaja menelan mikroplastik jika sudah berada atau menempel pada mangsanya (Jovanovi膰, 2017). Ikan merupakan salah satu biota yang umum digunakan sebagai biomonitor dan bioindikator terhadap residu atau kotoran di perairan karena sebarannya yang luas, nilai penting secara ekologis, dan masuknya ke dalam rantai makanan bagi manusia (Su et al., 2019b). Oleh karena itu, ikan belanak (Mugil cephalus) digunakan sebagai agen bioindikator dalam beberapa penelitian (G眉ven et al., 2017; Zhang et al., 2020a). M. cephalus sebagai ikan omnivora bentopelagis yang memakan plankton dengan tingkat mobilitas rendah (Ouali et al., 2018; Stancheva & Makedonski, 2013) berpotensi sebagai agen biomonitoring mikroplastik yang tersebar di badan air (Zhang et al., 2020a ).
Salah satu faktor pencemaran plastik di Laut Jawa bagian timur sebagian besar disebabkan oleh aktivitas antropogenik (Utami et al., 2021), terutama dari sampah organik (Yona et al., 2019) atau limbah industri (Hanif et al., 2021 ). Penelitian lain menunjukkan bahwa mikroplastik yang ditemukan di permukaan laut di wilayah yang dekat dengan aktivitas antropogenik yang intens memiliki konsentrasi yang lebih tinggi dibandingkan wilayah yang jauh dari aktivitas antropogenik (Fr猫re et al., 2017). Pesisir Utara dan Selatan Pulau Jawa memiliki perbedaan karakteristik geografis yang mempengaruhi aktivitas antropogenik masyarakat setempat, seperti aktivitas industri dan transportasi laut. Pesisir utara Jawa mempunyai wilayah perairan semi tertutup yang berhubungan langsung dengan Pulau Kalimantan dan masih dipengaruhi oleh pergerakan arus dari Pulau Madura, sedangkan pesisir selatan Jawa berhadapan dengan laut lepas yaitu Samudera Hindia. Selain itu, dua sungai terpanjang dan terbesar di Pulau Jawa yaitu Sungai Bengawan Solo dan Sungai Brantas mengalir ke Kabupaten Gresik dan Sidoarjo yang termasuk dalam wilayah Pantai Utara Jawa Timur. Sementara itu, Kabupaten Probolinggo merupakan salah satu daerah yang mengalami peningkatan aktivitas penambangan bahan galian yang rawan pencemaran. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa sungai terkontaminasi mikroplastik dalam berbagai kondisi, yang akan mempengaruhi konsentrasi mikroplastik yang terakumulasi di air laut (Horton et al., 2017; Mani et al., 2015; Vermaire et al., 2017). Berbeda dengan Pesisir Utara, Pesisir Selatan Jawa khususnya wilayah Lumajang tidak didominasi oleh sungai-sungai besar. Aktivitas antropogenik di wilayah selatan Jawa Timur tidak sepadat di wilayah utara. Selain itu, pembangunan infrastruktur di wilayah selatan belum besar dibandingkan wilayah utara (Hamid, 2014). Hal ini mengindikasikan kemungkinan besar akan terdapat perbedaan karakteristik pencemaran mikroplastik di Pantai Utara dan Selatan Jawa Timur sehingga akan mempengaruhi kondisi pencemaran mikroplastik pada tubuh ikan belanak yang hidup disekitarnya.
Penelitian terkait identifikasi kelimpahan mikroplastik di lingkungan perairan Indonesia sudah dimulai, meski masih dilakukan secara parsial. Belum ditemukan informasi yang lengkap mengenai kelimpahan mikroplastik pada biota perairan di Jawa Timur (Sari et al., 2021), sehingga karakteristik pencemarannya di berbagai wilayah dan biota tidak dapat diidentifikasi dan dibandingkan dengan baik. Informasi yang komprehensif diperlukan untuk memetakan kondisi lingkungan dan biota laut di Indonesia serta meningkatkan pengetahuan masyarakat umum untuk merencanakan dan mengembangkan upaya mitigasi pencemaran mikroplastik. Oleh karena itu, informasi komprehensif mengenai pencemaran mikroplastik termasuk kelimpahan, warna, bentuk, ukuran, dan jenis polimer, serta senyawa kimia pada biota Indonesia, khususnya ikan belanak (M. cephalus) di Jawa Timur, sangat diperlukan.
Penelitian ini merupakan penelitian pertama yang mengkaji keberadaan dan sifat fisikokimia mikroplastik pada ikan belanak (Mugil cephalus) dari empat wilayah pesisir di Jawa Timur, Indonesia. Tiga lokasi di pesisir utara terdampak oleh dua sungai terbesar yakni Sungai Bengawan Solo dan Sungai Brantas, sedangkan satu lokasi di pesisir selatan sedikit terdampak aliran sungai. Kelimpahan, warna, bentuk, dan ukuran diperiksa pada sampel insang, lambung, dan usus ikan. Rata-rata kelimpahan mikroplastik pada insang sebesar 10,87 partikel/individu, lambung sebesar 7,43 partikel/individu, dan usus sebesar 4,35 partikel/individu. Hitam (72,4%) dan pelet (62,7%) merupakan mikroplastik yang paling banyak ditemukan. Sebagian besar berukuran kurang dari 100 m (71,0%). Polimer jenis mikroplastik diidentifikasi dengan spektroskopi inframerah transformasi Fourier (FTIR), sedangkan senyawa kimia termasuk bahan tambahan seperti pemlastis yang terkandung dalam sampel MPs dianalisis menggunakan kromatografi gas-spektrometri massa (GCMS). Tujuh jenis polimer berbeda telah diidentifikasi, termasuk polietilen, poliuretan, polietilen tereftalat, polipropilen, polivinil klorida, polistirena, dan polikarbonat. Sikloheksadiena, salah satu bahan pemlastis yang terdeteksi memiliki konsentrasi tertinggi yaitu 81,82%.
Ditulis ke dalam Bahasa Indonesia oleh: Agoes Soegianto
Dimuat pada journal: Water, Air and Soil Pollution (2023) 234:600 (Publisher: Springer Nature)
Link website:





