UNAIR NEWS Predikat sebagai seorang ayah tak menyurutkan William Sayogo untuk menyelesaikan program magister. Terbukti, ia berhasil menyelesaikan pendidikan dengan menyandang gelar wisudawan terbaik. Tantangan terbesar baginya selama kuliah S-2 adalah mengatur waktu antara kuliah, pekerjaan, dan keluarga.
淭entu itu bagian dari risiko, misalnya perhatian terhadap pekembangan anak yang berkurang. Namun setelah saya jalani semua, akan ada jalan keluar ya walaupun harus berpikir keras, kata William yang juga dosen di sebuah universitas ini.
Dosen muda ini mengambil judul tesis 淧otensi Dalethyne+ terhadap Peningkatan Epitelisasi dan Penurunan Ekspresi Tumor Necrosis Faktor-伪 pada Luka di Kulit Rattus novergicus yang Diinfeksikan Bakteri Methilillin Resistant Staphylococus Aureus (MRSA).
Penelitiannya dilatarbelakangi oleh resistensi bakteri terhadap sejumlah jenis antibiotik. Akibatnya, angka kesakitan dan angka kematian pasien yang terinfeksi bakteri cenderung meningkat. Salah satu bakteri yang mampu menimbulkan resistensi terhadap beberapa antibiotik adalah MRSA.
Bakteri ini juga merupakan bakteri penyebab infeksi pada kulit yang mengalami luka. Oleh karena itu diperlukan obat alternatif yang mampu membunuh MRSA. Lulusan program studi S-2 Imunologi ini meneliti obat baru Dalethyne+ yang diekstrak dari minyak zaitun.
淪aya meneliti tentang obat baru Dalethyne+ yang diekstrak dari minyak zaitun. Kesimpulannya, obat baru ini dapat membunuh bakteri MRSA dan mempercepat proses penyembuhan luka pada kulit tikus yang terinfeksi MRSA, tegas William.
Bagi William, keberhasilan yang ia raih tak lepas dari peran keluarga. Baginya, keluarga menjadi penyemangat untuk terus bekerja.
淒oa, nasihat, dan semangat tercurahkan pada keluarga, ucap William.
Ia lantas berpesan agar anaknya serta generasi penerus dapat memiliki jiwa kompetitif untuk mengembangkan intelektualitas dalam diri. (*)
Penulis : Helmy Rafsanjani
Editor : Defrina Sukma S.





