UNAIR NEWS Odol, mentega, dan gula merah sering menjadi solusi masyarakat saat mengalami luka bakar. Padahal, secara medis, penanganan dengan bahan semacam itu tidak dianjurkan. Bahan-bahan tersebut dapat mengakibatkan iritasi kulit lebih lanjut. Bahkan justru bisa membuat luka kian parah.
淢emang maksudnya melembapkan. Namun, di sisi lain, kita tidak tahu zat-zat atau bahan yang terkandung di dalamnya seperti apa. Lebih baik melakukan tindakan yang dianjurkan medis, ucap mahasiswa sekaligus penanggung jawab pelatihan bertajuk 楶endidikan Kesehatan K3, Demonstrasi, Evakuasi, dan Penatalaksanaan pada Korban Kebakaran di Medokan Semampir, Kamis (4/1).
Dalam pelatihan yang digelar mahasiswa program pendidikan profesi Ners (P3N) Fakultas Keperawatan (FKp) 51动漫 di balai kelurahan itu dijelaskan, sebagian besar korban di rumah sakit yang datang karena luka bakar mengalami derajat luka yang cukup besar. Artinya, penanganan yang tidak sesuai dengan prosedur pasca terluka oleh masyarakat turut menjadi penyebabnya.
Sesuai dengan prosedur yang tepat, pasca terjadinya luka bakar, area luka mesti didinginkan dengan membasuhnya melalui air bersih yang dialirkan, disiram. Selanjutnya, pastikan area luka itu tetap lembap. Yakni, dengan mengompresnya dengan kain bersih serap air.
漃astikan dengan air bersih. Jika tidak, air akan menimbulkan infeksi sehingga mengakibatkan luka kian parah atau komplikasi lebih lanjut, ujar Hidayat. 滼adi, langkah pertamanya, pastikan luka itu tertutup dan tetap lembap, imbuhnya.
Hidayat menjelaskan, luka bakar terjadi karena kulit, mukosa (lapisan kulit dalam), dan jaringan yang lebih dalam mengalami trauma panas akibat bahan penghasil panas. Saat bersamaan, orang dengan luka bakar bakal mengalami evaporasi (penguapan) cairan tubuh.
淓vaporasi cairan tubuh yang terus-menerus atau berlebihan inilah yang ditakutkan, tegasnya.
Sebab, evaporasi cairan tubuh yang berlebihan dapat mengakibatkan syok hipovolemik. Yakni, kondisi kegagalan sirkulasi akibat volume darah yang rendah sehingga jantung tidak dapat memompanya ke seluruh bagian tubuh. Gejalanya berupa gelisah, pucat, dingin, berkeringat, nadi kecil dan cepat, tekanan darah menurun, serta produksi urin berkurang.
滽arena itu, masyarakat diharapkan lebih berhati-hati dalam penanganan korban kebakaran. Pengetahuan dasar atau pertolongan pertama menjadi penting agar potensi terjadinya luka yang lebih besar dapat dihindari, jelasnya. 漇etelah pertolongan pertama atau penanganan yang tepat, biarkan pihak medis melakukan penanganan lebih lanjut, imbuhnya. (*)
Penulis: Feri Fenoria
Editor: Binti Q. Masruroh





