UNAIR NEWS – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tahun 2008-2015 Prof. Syamsul Ma檃rif hadir dalam seminar nasional bertajuk Antisipasi dan Penanganan Bencana yang diselenggarakan oleh 51动漫 (UNAIR), pada Selasa (08/10). Seminar itu digelar di di Aula Garuda Mukti Kantor Manajemen UNAIR.
Prof. Syamsul Arief membuka diskusi dengan menjelaskan pandangan teknikalitis. Dia menjelaskan bahwa terjadinya bencana itu sebetulnya tergantung dari masyarakat. 淪ebenarnya bencana itu bisa kita hindari, tutur Prof. Syamsul.
Lalu dia menjelaskan betapa pentingnya socio scince dipadukan dengan neuro science. Menurutnya, socio science perlu dimasukkan di semua kompetensi bidang keilmuan. Ia juga mengungkapnya perlunya sistem dimana orang-orang bidang sosial memasuki sektor di bidang sains.
Prof. Syamsul menegaskan bahwa procedure heavy jangan sampai mengurangi semangat terhadap substance heavy. 淏ayangkan kalau kita mau menolong orang tetapi takut terhadap prosedur, ujarnya.
Berani Ambil Risiko
Kriteria pemimpin menurut Prof. Syamsul adalah harus berani mengambil risiko. 滽alau pemimpinnya itu tipe orang yang cari selamat, terus kapan budale, tambahnya.
Dalam kesempatan itu, Prof. Syamsul menyarankan narasi baru untuk Jawa Timur perihal penanganan bencana, yaitu JATIM SIGAP yang bermakna Jawa Timur Siaga Bencana. 淛ATIM SIGAP tersebut nantinya menggabungkan antara procedure heavy dengan substance heavy, tuturnya.
Dikatakan Prof. Syamsul bahwa terdapat Gerakan Memanen Air Hujan Indonesia. Yakni gerakan yang percaya bahwa air hujan itu bisa dimanfaatkan. 淎ir hujan itu anugerah dari Tuhan, harus dimanfaatkan sebaik mungkin, ucapnya.
Saat ini, kebanyakan masyarakat meninggikan bangunan demi terhindarnya banjir. 淩umah ditinggikan, air hujannya dibuang ke tetangganya. Harus ada sumber resapan, tegasnya.
Jika mendiskusikan tentang gempa, Prof. Syamsul berpendapat seharusnya masyarakat harus mengubah mindset bahwa gempa tidak mematikan. Namun bangunannya yang bisa mematikan. 淜ampanyenya itu bukan gempanya yang mematikan, tetapi bangunannya, tegasnya.
Di akhir, Prof. Syamsul menarik kesimpulan arti bencana dari bahasa Cina. Bahwa bencana itu sebuah opportunity sebagai ilmu untuk masa depan. (*)
Penulis : R. Dimar Herfano Akbar
Editor : Binti Q Masruroh





