Bencana sosial memiliki beberapa dimensi, salah satunya yang pernah dialami umat manusia di seluruh dunia adalah wabah virus atau pandemi COVID-19. Studi ini berupaya menggambarkan bagaimana perempuan miskin di perkotaan攕ecara status sosial-ekonomi攂erada pada posisi terbawah, namun mereka dihadapkan pada situasi yang tidak menguntungkan akibat kebijakan yang tidak berpihak pada kaum miskin.
Beberapa penelitian yang dilakukan sebelum era pandemi COVID-19 mengungkapkan bahwa ketika perempuan dihadapkan pada tekanan ekonomi dan harus ikut mencari nafkah bagi keluarga, mereka cukup mampu menjalankan perannya, baik di sektor domestik maupun publik (Kusumawati, 2012; Ismanto & Suhartini, 2014; Sopamena & Pattiselanno, 2018; Wibowo, 2012). Menurut berbagai penelitian, ketika wanita dapat bekerja di luar rumah, mereka dapat menyeimbangkan pekerjaan di luar rumah dengan peran domestiknya. Namun ketika bencana sosial melanda, dalam hal ini adalah pandemi COVID-19, perempuan yang memiliki kemampuan bertahan dari berbagai tekanan, pada akhirnya juga dihadapkan pada dilemma dan beban yang harus ditanggung bersama anggota keluarga lainnya. Kehidupan perempuan menjadi semakin sulit sebagai akibat dari berbagai faktor yang disebabkan oleh pandemi, mulai dari kerentanan ekonomi hingga kekerasan dalam rumah tangga (Mas’udah dkk., 2022; Kekuasaan, 2020; Sharma & Borah, 2020).
Studi ini bertujuan untuk mendeskripsikan kerentanan perempuan miskin akibat bencana pandemi COVID-19 dan reaksi adaptif mereka dalam menghadapi ketidakpastian. Penelitian ini berfokus terutama pada perempuan miskin di Jawa Timur. Penelitian ini dilakukan pada pertengahan tahun 2020 di 22 kabupaten di Provinsi Jawa Timur dengan responden sebanyak 457 perempuan menikah dari keluarga berpenghasilan rendah. Untuk memahami kemampuan beradaptasi perempuan ketika menghadapi bencana maka teori ketahanan dari Marshall dan Marshall (Alam & Rahman, 2018) digunakan dalam studi ini. Teori ini menjelaskan bahwa ketika terjadi bencana atau tekanan sosial, masyarakat akan berupaya berdaptasi dengan memberikan reaksi terhadap bencana tersebut. Mulai dari kutub negatif, di mana seseorang tidak mampu bangkit dan pulih hingga pada kutub positif, yaitu upaya untuk bangkit kembali dan berusaha menjadi lebih baik pasca bencana.
Temuan studi ini menunjukkan, bahwa perempuan miskin adalah kelompok yang paling rentan dalam menghadapi bencana sosial. Kemandirian dan kelangsungan hidup mereka dan keluarganya terancam karena kebijakan yang tidak berpihak pada kelompok miskin (pro poor). Namun demikian, perempuan memiliki kekuatan spritual dan mampu memelihara ikatan kekerabatan yang cukup kuat, sehingga mereka mampu bangkit dari keterpurukan akibat bencana sosial tersebut. Kondisi ini menunjukkan kekuatan perempuan dalam upayanya untuk mewujudkan kesetaraan gender dalam situasi sulit.
Penulis: Tuti Budirahayu, Emy Susanti, Siti Mas檜dah
Link:
Baca juga: Mewacanakan Kurikulum Pendidikan Lingkungan yang Kritis dan Memberdayakan Siswa





