UNAIR NEWS – Angka kematian akibat Penyakit Tidak Menular (PTM) terus menunjukkan peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Gaya hidup yang tidak sehat menjadi salah satu faktor utama yang kini turut mengancam kelompok usia muda dan produktif.
Menanggapi kondisi tersebut, 51动漫 Banyuwangi menyelenggarakan Seminar Nasional bertema Strategi dan Kebijakan Nasional dalam Menekan Epidemi Penyakit Tidak Menular (PTM) pada kamis (30/10/2025). Kegiatan itu berlokasi di Aula Kampus Mojo, Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) UNAIR.
Kegiatan ini adalah salah satu rangkaian Dies Natalis ke-11 Prodi Kesehatan Masyarakat FIKKIA UNAIR yang dihadiri oleh 80 peserta. Di antaranya, perwakilan puskesmas se-Kota Banyuwangi, STIKES Banyuwangi, STIKES Rustida, SMA Negeri 1 Glagah, SMA Negeri 1 Banyuwangi, mahasiswa kesehatan masyarakat, hingga masyarakat umum.
Ketua Pelaksana, Alfia Rizky dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi wadah penting bagi mahasiswa dan masyarakat untuk memperluas wawasan terkait strategi pencegahan PTM. 淢elalui seminar ini, kami ingin menumbuhkan kesadaran bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah kecil, seperti rutin berolahraga, makan sehat, dan melakukan skrining kesehatan, tuturnya.
Transformasi Kesehatan Cegah PTM
Dalam Seminar Nasional ini hadir sebagai narasumber utama, Hakimi S KM M Sc, Epidemiolog Ahli Madya dari Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan RI. Dalam paparannya, ia menyoroti bahwa penyakit tidak menular seperti jantung, stroke, kanker, ginjal, dan diabetes kini menjadi penyebab kematian serta disabilitas tertinggi di Indonesia.
淢asalah penyakit tidak menular kini tidak hanya menyerang usia lanjut, tetapi juga usia muda yang produktif. Ini menjadi alarm bagi kita semua untuk mulai menerapkan pola hidup sehat sejak dini, ujar Hakimi.
Ia menjelaskan bahwa data Kemenkes RI tahun 2023 menunjukkan hanya 39,8 persen penduduk usia di atas 20 tahun yang pernah melakukan skrining PTM. Selain itu, empat penyakit katastropik jantung, stroke, kanker, dan ginjal menyerap biaya pengobatan lebih dari Rp34,8 triliun pada tahun yang sama.
Lebih lanjut, Hakimi menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menekan epidemi PTM. 淯paya pencegahan tidak bisa hanya dilakukan oleh tenaga kesehatan. Dibutuhkan peran aktif dari sektor pendidikan, transportasi, industri, hingga pemerintah daerah dalam membangun lingkungan yang mendukung gaya hidup sehat, tambahnya.
Melalui seminar ini, diharapkan peserta dapat memahami pentingnya pendekatan promotif dan preventif dalam mengendalikan PTM, sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam mendukung SDGs poin ke-3: Good Health and Well-Being menuju masyarakat Indonesia yang lebih sehat dan produktif.
Penulis : Dheva Yudistira Maulana
Editor : Khefti Al Mawalia





