UNAIR NEWS – Serangan jantung merupakan suatu kondisi di mana terjadi penyempitan pembuluh darah secara tiba-tiba. Kondisi ini penyebabnya bisa karena kelelahan, udara dingin, serta peningkatan aktivitas seperti saat berolahraga. Tak hanya berhubungan secara fisik, namun serangan jantung juga dapat dipicu oleh stres dan emosi yang tak stabil.
淜adang-kadang, ada beberapa pasien yang lagi kepikiran tugas yang berat dan lain sebagainya. Sampai, somehow akhirnya mengeluhkan nyeri dada yang menandakan satu serangan jantung, terang dr M Yusuf Alsagaff Sp JP(K) PhD FIHA FESC FAsCC FACC pada gelaran bertajuk Pertolongan Pertama Saat Terjadi Serangan Jantung, Jumat (11/8/2023).
dr Yusuf menyebutkan, secara epidemiologi, serangan jantung rentan pada kelompok orang usia produktif yakni antara 40 hingga 65 tahun. Namun, belakangan ini serangan jantung banyak terjadi pada pasien yang berusia di bawah 40 tahun. Hal ini pemicu utamanya adalah berbagai penyakit seperti darah tinggi, kencing manis, kolesterol, hingga gaya hidup tidak sehat seperti merokok dan jarang berolahraga.
Gejala-gejala Serangan Jantung
Seseorang yang terkena serangan jantung biasanya akan merasakan beberapa keluhan seperti perasaan yang tidak nyaman di area dada. 淜alau dulu kan, bilangnya nyeri dada gitu, ya. Sekarang agak diperhalus. Keluhannya adalah dada tidak nyaman, terang dr Yusuf.
Perasaan tidak nyaman ini dapat berupa nyeri, sesak, tertekan, bahkan ada yang merasa seperti tertimpa benda berat. Kondisi ini muncul saat istirahat dan kurang lebih terjadi sekitar 20 menit. Selanjutnya, perasaan tidak nyaman di area dada ini akan muncul setelah beraktivitas normal dan bahkan akan meningkat frekuensinya atau biasa disebut keluhan crescendo.
Pemberian Pertolongan Pertama
Bagi siapa saja yang merasakan gejala-gejala di atas, dr Yusuf menghimbau agar segera menuju ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) terdekat. 淢ereka dengan keluhan ini, tolong jangan ke dokter praktik dan jangan ke poliklinik. Tapi, mampirlah ke IGD karena di IGD itu akan ada analisa, tegas dosen Fakultas Kedokteran UNAIR itu.
Pertolongan pertama harus sesegera mungkin. Hal itu untuk menghindari kemungkinan yang lebih buruk. dr Yusuf mengimbau jika seseorang mengalami keluhan jantung yang menetap lebih dari 20 menit agar segera menuju IGD dalam waktu kurang dari dua jam.
淜enyataan di lapangan, memang umumnya mereka baru ke rumah sakit rata-rata 6 jam dan tidak jarang ketika sudah lebih dari 24 jam. Alhasil, ketika kita menolong otot yang diselamatkan menjadi lebih sedikit dan risikonya menjadi lebih besar karena berhadapan dengan komplikasi-komplikasi yang bisa mengakibatkan henti jantung, ujar dr Yusuf. (*)
Penulis: Agnes Ikandani
Editor: Binti Q. Masruroh





