Apakah kehilangan pekerjaan bisa berdampak pada keselamatan anak-anak di rumah? Jawabannya adalah ya攄an dampaknya mungkin jauh lebih besar dari yang kita kira. Penelitian terbaru dari Malaysia menemukan bahwa pengangguran perempuan memiliki hubungan yang kuat dengan meningkatnya kasus kekerasan terhadap anak. Tidak hanya itu, inflasi atau kenaikan harga barang kebutuhan pokok ternyata ikut memperburuk kondisi ini, menciptakan tekanan ganda bagi keluarga yang rentan.
Penelitian yang dilakukan oleh Shaari, Mohamad, Esquivias, dan Lee ini menggunakan data selama lebih dari tiga dekade, dari tahun 1989 hingga 2021. Dengan pendekatan ekonometrika Autoregressive Distributed Lag (ARDL), mereka menganalisis hubungan antara pengangguran perempuan, inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan jumlah kasus kekerasan terhadap anak. Hasilnya sangat jelas: ketika perempuan kehilangan pekerjaan dan harga barang naik, risiko kekerasan terhadap anak meningkat tajam.
Pengangguran Perempuan jadi Faktor Penting
Selama ini, banyak penelitian lebih menyoroti pengangguran laki-laki. Padahal, dalam realitas rumah tangga, perempuan terutama ibu memegang peran kunci dalam pengasuhan anak. Ketika mereka kehilangan pekerjaan, bukan hanya pendapatan yang hilang, tetapi juga stabilitas emosional dalam rumah tangga terguncang. Tekanan sosial, beban rumah tangga yang meningkat, serta minimnya dukungan membuat ibu yang menganggur lebih rentan mengalami stres berat攜ang bisa berdampak langsung pada pola asuh mereka terhadap anak. Studi ini menunjukkan bahwa pengangguran perempuan bukan sekadar isu ekonomi, tapi juga sosial dan psikologis. Dan anak-anak adalah pihak yang paling terdampak secara diam-diam.
Inflasi Perburuk Efek Penganguran Perempuan
Inflasi memperburuk efek dari pengangguran perempuan. Ketika harga kebutuhan pokok melonjak, keluarga dengan kondisi ekonomi pas-pasan semakin terdesak. Dalam situasi ini, ketegangan dalam rumah tangga memuncak dan risiko kekerasan pun meningkat. Penelitian ini menunjukkan bahwa pengaruh negatif pengangguran perempuan terhadap anak menjadi jauh lebih besar ketika inflasi tinggi. Dengan kata lain, saat dua krisis ini bertemu攈ilangnya pekerjaan dan melonjaknya biaya hidup攌eluarga berada dalam tekanan berat yang dapat meledak sewaktu-waktu, dengan anak-anak sebagai korban utamanya.
Fakta di Lapangan, Tren Meningkat di Malaysia
Data menunjukkan bahwa sejak tahun 1989, kasus kekerasan terhadap anak di Malaysia melonjak drastis, dari 276 kasus menjadi hampir 5.858 kasus pada tahun 2020. Pada periode yang sama, jumlah perempuan yang menganggur meningkat hampir dua kali lipat. Kenaikan paling tajam terjadi saat pandemi COVID-19, ketika banyak sektor yang didominasi pekerja perempuan terpaksa tutup.
Sayangnya, angka-angka ini kemungkinan masih lebih rendah dari kenyataan, karena banyak kasus kekerasan terhadap anak tidak dilaporkan. Ini menunjukkan betapa pentingnya perhatian serius terhadap kondisi perempuan dan anak di masa krisis ekonomi.
Pertumbuhan Ekonomi Bisa Jadi Solusi
Dalam penelitian ini, pertumbuhan ekonomi yang diukur melalui Produk Domestik Bruto (PDB) memang memiliki hubungan negatif dengan kekerasan anak攁rtinya ketika ekonomi membaik, kekerasan cenderung menurun. Namun, efeknya tidak signifikan secara statistik. Artinya, pertumbuhan ekonomi saja tidak cukup untuk mencegah kekerasan terhadap anak, kecuali disertai kebijakan khusus yang menyasar keluarga miskin atau rentan. Dengan demikian, solusi atas masalah ini tidak hanya bisa bergantung pada pertumbuhan ekonomi umum. Diperlukan intervensi langsung yang menyentuh kehidupan nyata perempuan dan anak-anak.
Penulis merekomendasikan sejumlah langkah konkret. Pertama, memperluas kesempatan kerja bagi perempuan, termasuk opsi kerja fleksibel seperti paruh waktu dan kerja jarak jauh. Ini penting agar perempuan tetap bisa berpenghasilan tanpa mengorbankan peran mereka di rumah. Kedua, memperkuat layanan kesehatan mental, karena stres akibat pengangguran dan tekanan ekonomi dapat memicu perilaku kekerasan.
Selain itu, stabilisasi harga kebutuhan pokok sangat krusial untuk meringankan beban ekonomi keluarga. Sistem perlindungan anak juga harus diperkuat, melalui pelatihan masyarakat, tenaga kesehatan, dan tenaga pendidik agar mampu mendeteksi tanda-tanda kekerasan anak secara dini.
Penelitian ini memberi pelajaran penting bahwa stabilitas ekonomi tidak hanya memengaruhi angka makroekonomi, tapi juga kehidupan anak-anak yang rentan. Ketika seorang ibu kehilangan pekerjaan di tengah lonjakan harga, kondisi psikologis keluarga bisa terguncang, dan anak-anaklah yang paling menderita.
Mencegah kekerasan terhadap anak bukan hanya soal moral, tapi juga soal keadilan sosial dan kebijakan publik. Jika kita ingin menciptakan generasi masa depan yang sehat dan kuat, kita harus memulainya dari menciptakan lingkungan yang aman untuk tumbuh攄an itu berarti mendukung ibunya.
Penulis: Dr. Miguel Angel Esquivias Padilla, M.SE.
Link Doi:





