UNAIR NEWS – Kementerian Kesetaraan Gender & Inklusi Sosial (FIB) 51动漫 (UNAIR) kembali menunjukkan komitmennya dalam isu perlindungan perempuan. Hal itu terlaksana melalui penyelenggaraan talkshow interaktif bertajuk Puan Raga Siaga yang bekerja sama dengan Women Self Defense of Kopo Ryu (WSDK). Acara yang berlangsung pada sabtu (11/10/2025) tersebut bertempat di ruang 3.07 Gedung Nano, Kampus MERR-C UNAIR ini menekankan pentingnya beladiri sebagai keterampilan esensial bagi perempuan.
Beladiri Bukan Hanya untuk Laki-Laki
Talkshow ini menghadirkan narasumber dari WSDK, Dini selaku Wakil WSDK Surabaya sekaligus Brand Ambassador WSDK Indonesia serta dua orang sensei. WSDK berdiri khusus sebagai wadah beladiri bagi perempuan, dengan misi menegaskan bahwa beladiri tidak hanya milik laki-laki, melainkan juga penting untuk dimiliki oleh perempuan sebagai upaya pertahanan diri.
Bela diri WSDK berbeda dari beladiri lain, yang mengedepankan salah satu teknik praktis dan aplikatif sehingga mudah diingat oleh perempuan. Teknik tersebut terkenal dengan nama 榯eknik bercermin agar mudah diingat dan diterapkan dalam situasi nyata.
Memahami Konsep 4P sebagai Kunci Pertahanan Diri
Tidak hanya mengenal jenis-jenis dan teknik beladiri, peserta dalam acara talkshow tersebut juga melakukan praktik langsung bersama sensei dari WSDK. Inti dari materi dalam talkshow ini berfokus pada empat konsep beladiri 4P. Konsep ini mencakup Pray (Berdoa), yang mengingatkan peserta untuk senantiasa memohon pertolongan kepada Tuhan. Kedua adalah Predict (Prediksi), yakni kemampuan memprediksi bahaya sebelum terjadi. 淚kuti suara hati kalian, suara hati adalah sesuatu yang enggak bisa dinegosiasi, ujar Dini.
Ia menyoroti pentingnya insting sebagai alarm awal. Dua konsep berikutnya adalah Prevent (Pencegahan), yaitu tindakan untuk menghindari bahaya dan menutup celah kejahatan, serta Protect (Perlindungan), sebagai tindakan melindungi diri dari ancaman yang ada.
Kegiatan ini berhasil menjadi pengingat bagi seluruh peserta akan pentingnya memiliki kesiapan diri dan keterampilan beladiri untuk menghadapi berbagai situasi. Pada akhir, Dini juga menyampaikan pesan penutup yang sarat makna. 淧unya ilmu beladiri bukan berarti kita bisa sombong. Seperti ilmu padi, semakin berisi semakin menunduk, pungkasnya.
Penulis: Marissa Farikha Siti Fatimatuzzahra
Editor: Yulia Rohmawati





