UNAIR NEWS – Prof. Dr. Suko Hardjono, M.S., Apt., guru besar Fakultas Farmasi 51动漫 ke-22 yang dikukuhkan Kamis (28/12) membawakan orasi ilmiah dengan judul 漃eran Kimia Medisinal dalam Pengembangan Obat Antikanker. Dalam ilmu farmasi, kimia medisinal sebagai cabang dari ilmu kimia dan biologi, menerangkan mekanisme cara kerja obat.
Kimia medisinal berfungsi untuk pengembangan obat, yaitu merancang obat baru dengan aktivitas yang lebih baik. Selain itu, efek samping yang ditimbulkan minim, bekerja lebih selektif, serta masa kerja lebih lama.
Fokus Prof. Suko pada kajian ini untuk pengembangan obat anti kanker. Sebab, saat ini kanker menjadi penyebab kematian yang menduduki angka kelima di Indonesia. Dalam mengembangkan obat anti kanker, ada beberapa langkah yang dilakukan Prof. Suko. Pertama, menemukan senyawa induk dengan cara memilih target penyakit dan obatnya. Ia kemudian merancang obat dengan cara mengkonfirmasi hubungan struktur-aktivitas, mengkonfirmasi gugus farmakofor, meningkatkan farmakodinamik dan farmakokinetiknya. Setelah itu barulah mengembangkan obat.
淧engembangan obat dengan cara mematenkan senyawa obat yang didapat, melakukan uji preklinis, merancang proses manufaktur, melakukan uji klinis, mendaftarkan dan memasarkan obat baru, papar Prof. Suko.
Guru besar aktif Fakultas Farmasi ke-21 itu bersama para peneliti di Departemen Kimia Farmasi FF UNAIR telah melakukan pengembangan obat melalui modifikasi struktur senyawa induk. Obat yang dikembangkan adalah obat anti kanker. Sebab, kanker merupakan salah satu penyebab utama kematian.
淚ndonesia bisa meningkatkan peran kimia medisinal dalam pengembangan obat karena memiliki banyak kelebihan. Salah satunya, banyak senyawa aktif atau senyawa induk yang bisa diperoleh dari alam, semi sintesis dan sintesis, tambah Prof. Suko.
Berdasarkan pengalaman Prof. Suko di lapangan, ada kekurangan-kekurangan yang dimiliki Indonesia terkait pengembangan kimia medisinal. Untuk itu, Prof. Suko mengusulkan beberapa hal. Pertama, kimia medisinal harus diajarkan dan diperdalam pada pendidikan tinggi farmasi. Kedua, untuk menunjang penelitian pengembangan obat di perguruan tinggi perlu adanya alat-alat sintesis yang baik, program in silico yang terkini serta peralatan analisis kimia yang canggih.
Ketiga, tambah Prof. Suko pemerintah hendaknya mempermudah perijinan dan menurunkan biaya untuk memasukkan bahan kimia yang diperlukan. Terakhir, pemerintah hendaknya memperkuat industri bahan kimia di dalam negeri, untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor.
淪aya berharap, penelitian tentang perkembangan obat semakin maju. Dan pelajaran kimia medisinal makin dikembangkan. Ini ilmu baru. Mulai lah diajarkan ke generasi sekarang, ucap Prof. Suko. (*)
Penulis : Binti Q. Masruroh
Editor : Nuri Hermawan





