n

51动漫

51动漫 Official Website

Kisah Penderita HIV Keliling Indonesia dan Terbitkan Buku

cak gareng unair
Foto bersama usai acara bedah buku Cak Gareng, Senin (21/5). (Foto: Siti Mufaidah)

UNAIR NEWS – Program Studi Kesehatan Masyarakat PSDKU 51动漫 di Banyuwangi mendapat kesempatan dikunjungi oleh Wijianto atau Cak Gareng. Selain berkunjung, PSDKU UNAIR di Banyuwangi menjadi lokasi pertama bedah buku karya Cak Gareng, Senin (21/5).

Sejak divonis positif terjangkit HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus / Acquired Immuno Deficiency Syndrome), Cak Gareng sengaja hidup menjauh dari keluarga. Pergi bersama virus yang diderita, Cak Gareng mempunyai misi kemanusiaan mengabarkan tentang kegigihan dalam memerangi respon negatif mengenai penyakitnya. Hingga kemudian, ia menghasilkan sebuah karya buku tentang perjalanan panjangnya selama dua tahun tiga hari.

Ruang A102 kampus Sobo PSDKU UNAIR di Banyuwangi, buku Jejak Cak Gareng dibedah pertama kalinya di hadapan sekitar 40 mahasiswa dan dosen.

Yuda Prayogi mahasiswa sekaligus peserta bedah buku mengungkapkan, buku Cak Gareng berisi seputar perjalanannya keliling Indonesia. Berbagai sudut pandang dan gagasan yang terlihat di jalan dikemas dalam bentuk opini dan cerita inspiratif.

淏agaimana orang terinfeksi HIV bisa berjalan kaki sejauh sekitar 4150 KM, melewati 115 kota/kabupaten di 30 provinsi, bertahan hidup di hutan, diskusi dengan ribuan mahasiswa (68 kampus dan sekolah/sekitar 6538 orang), menemui para pemimpin daerah, bertemu dengan masyarakat dari berbagai lapisan serta tukar motivasi dengan komunitas HIV, ujar Yuda.

Saat ditemui oleh tim UNAIR NEWS Cak Gareng mengungapkan, buku ini bukan sebuah kisah hidup. Lebih dari itu, buku ini berisi bagaimana menjalani sebuah kehidupan yang bermanfaat bagi orang lain.

淒alam perjalanannya, Cak Gareng menyampaikan pesan anti diskriminasi. Ia mengingatkan bahaya HIV/AIDS, mengajak siapa saja mencegah penularannya. Ia menemui mahasiswa, pelajar, pejabat, gelandangan, aktivis, siapa saja. Ia hanya ingin mengatakan, Jangan ada diskriminasi pada para terinfeksi, sesama manusia punya hak dan harapan yang sama , tegas Yuda.

Bedah buku ini difasilitasi oleh PSDKU UNAIR di Banyuwangi. Tampak hadir di tengah-tengah acara Desak Made Sintha, Susy Katikana Sebayang, dan beberapa dosen lain. Juga hadir perwakilan dari Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Banyuwangi, Kelompok Kerja Bina Sehat (KKBS), Pusat Analisis dan Harmonisasi Kebijakan (Pushaka), dan beberapa kawan komunitas HIV di Banyuwangi.

淒alam bedah buku ini nyaris tak ada nada diskriminatif yang aku dengar. Semua berjalan dengan penuh kekeluargaan. Tak menyangka juga, kalau buku bercover Merah Putih ini akan dibedah pertama kali di Banyuwangi, tutur Gareng.

淗arapanku, semoga ke depan banyak pihak yang tahu dan responsif dengan kehadiran buku ini. Aku ingin buku ini tak hanya memberi, tapi bisa berbagi, meski mungkin sulit untuk menuntaskan permasalahan HIV dan AIDS di Indonesia, ujar Gareng. (*)

Penulis : Siti Mufaidah

Editor : Binti Q. Masruroh

AKSES CEPAT