UNAIR NEWS Kecamatan Tegaldelimo sempat menjadi salah satu lokasi pelaksanaan kegiatan KKN-BBM Tematik 58 51动漫. Meski kegiatannya sudah usai, tim mahasiswa KKN yang sempat menetap di sana kembali melanjutkan program kerjanya pada Kamis (16/8).
Tim mahasiswa KKN tersebut terdiri atas delapan orang. Sebayak empat di antaranya merupakan mahasiswa PSDKU (Program Studi Di Luar Kampus) UNAIR Banyuwangi.
Proker yang dimaksud adalah mempromosikan objek wisata di sana ke media online. Termasuk membantu warga Tegaldelimo untuk membuat website profil wisata yang ada di sana. Selian itu, tim membuatkan akses publikasi di media sosial yang kemudian akan dikelola Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang ada di sana.
Lokasi wisata yang diproomosikan adalah Kawasan Hutan Mangrove Kaliwatu di Desa Kedungasri, Kecamatan Tegaldlimo. Sebelumnya, kunjungan pertama dilakukan pada Senin (9/7), kemudian dikunjungi kembali pada Kamis, (16/8).
Menurut Kepala Desa (Kades) Kedungasri Sunaryo, kawasan hutan mangrove yang dirintis warga setempat itu memang belum terkenal. Maklum, hutan mangrove tersebut berada di kawasan milik Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Perhutani Banyuwangi Selatan. Hutan mangrove itu berbatasan dengan tambak udang yang sudah lama ditinggalkan pemiliknya.
Menurut Ayu Nur Imaniy, salah seorang mahasiswa yang tergabung dalam tim KKN tersebut, mengungkapkan bahwa lokasi wisata hutan mangrove itu sangat potensial. Pemandangan alamnya sangat bagus dan masih sangat asli.
Untuk sampai ke tempat itu, perjalanan memasuki lebatnya hutan mangrove menjadi pengalaman yang sangat menarik. Memasuki kawasan hutan mangrove, banyak suara burung liar yang bersahut-sahutan. Keindahan pemandangannya tersebut menjadi objek pengamatan dan sasaran fotografer.
滼ika air laut sedang pasang, akan ada perahu yang dapat mengajak pengunjung berkeliling melihat indahnya pemandangan hutan mangrove di Kaliwatu. Namun, jika air laut surut, maka tidak dapat berkeliling, ujar Ayu.
滵i sana, ada jembatan bambu yang berada di antara hutan mangrove. Namun, itu belum selesai dibangun hingga ujung. Rencananya, dari pokdarwis setempat, dilanjutkan jembatan hingga menuju ke sungai jika dana dari pemerintah dan swadaya kelompok sadar wisata telah mencukupi, tambah Mbah Min, salah seorang warga di sana.

Sunaryo menambahkan, warga desa sudah berkeinginan lama untuk bekerja sama dengan Perhutani untuk mengelola bersama-sama kawasan itu. Terutama menjadikannya sebagai wisata edukasi bukan wisata massal. Sebab, warga sangat khawatir pembukaan wisata massal itu justru akan merusak kawasan mangrove. Namun, keinginan tersebut belum juga terealisasi hingga kini.
滽ami menyalurkan aspirasi warga kepada pihak Perhutani dan pihak Perhutani pun siap mendukung. Namun, memang dibutuhkan waktu yang cukup lama dan bertahap, ujar mahasiswa Asli Banyuwangi itu.
Perlu diketahui, pembuatan media sosial untuk kawasan hutan mangrove telah usai dilakukan mahasiswa. Dan, pengelolaan sepenuhnya diserahkan pada Pokdarwis Barokah, salah satu Pokdarwis di Kedungsari, dan akan diluncurkan pada awal September nanti. (*)
Penulis: Siti Mufaidah
Editor: Feri Fenoria Rifa檌





