Multivariate Adaptive Regression Spline (MARS) diperkenalkan pertama kali oleh Friedman pada Tahun 1991. MARS merupakan metode regresi nonparametrik yang fleksibel dalam menangani kompleksitas data kesehatan yang seringkali bersifat nonlinier, bahkan ketika data menunjukkan variabilitas yang tinggi. MARS memiliki kelebihan dalam menangani interaksi antar variabel dan menyederhanakan model tanpa mengurangi tingkat akurasi. Keunggulan tersebut diperoleh melalui penggunaan fungsi basis dan proses seleksi variabel yang efisien, yaitu gabungan dari forward dan backward removal berdasarkan nilai Generalized Cross Validation (GCV) atau akurasi klasifikasi, yang membedakannya dengan regresi spline klasik.
Pembentukan model MARS tidak terikat oleh asumsi serta tidak tergantung pada hubungan linier, kuadratik, maupun kubik diantara variabel respon dan variabel prediktor. Terdapat dua langkah dalam membangun model MARS. Pertama, membangun fungsi basis yang merupakan transformasi dari variabel prediktor yang non-linier dan interaksi dalam model. Selanjutnya, mengestimasi least square model dengan fungsi basis sebagai variabel prediktornya.
Pneumonia merupakan infeksi akut yang menyerang alveolus. Penyakit pneumonia dapat disebabkan oleh berbagai jenis mikroorganisme, seperti bakteri, virus, jamur, dan parasit dengan gejala menggigil, demam, sakit kepala, batuk berdahak, dan sesak napas. Pneumonia merupakan salah satu jenis infeksi saluran pernapasan (ISPA) menular yang paling banyak menyebabkan kematian pada balita. Data dari UNICEF menunjukkan bahwa pneumonia merenggut nyawa lebih dari 700.000 balita, atau sekitar 2.000 jiwa setiap harinya. Di Indonesia, pneumonia merupakan penyakit dengan jumlah kasus kematian yang sangat tinggi. Pada tahun 2023, pneumonia menyumbang 416.435 kasus dengan 522 kematian pada balita [2]. Angka ini cenderung berfluktuasi selama sebelas tahun terakhir. Kondisi ini menjadikan pneumonia sebagai salah satu tantangan besar dalam pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya pada tujuan ke-3 yaitu 淗idup Sehat dan Sejahtera yang menargetkan penurunan angka kematian balita menjadi kurang dari 3 per 1.000 kelahiran hidup, dan penurunan kejadian pneumonia berat pada balita sebesar 75% dibandingkan kejadian pada tahun 2019.
Berdasarkan PMK No. 82/2014, Kementerian Kesehatan RI berperan dalam meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap faktor risiko pneumonia melalui sosialisasi dan advokasi tentang pentingnya pola hidup sehat sebagai upaya pencegahan dan pengendalian penyakit menular. Kementerian Kesehatan RI bersama WHO dan United States Center for Disease Control and Prevention (US CDC) berkolaborasi membangun sistem deteksi dini dan penanggulangan penyakit yang berpotensi mewabah. Sistem ini dikenal juga dengan nama Early Warning Alert and Response System (EWARS). Program ini pertama kali dilaksanakan Kementerian Kesehatan sejak tahun 2009. Selain itu, Kementerian Kesehatan juga membentuk Tim Gerak Cepat (TGC) di tingkat pusat, provinsi, dan kabupaten/kota. TGC merupakan tim yang melakukan deteksi dini, melaporkan respons, dan memberikan rekomendasi penanganan wabah.
Banyak faktor risiko yang berkontribusi terhadap tingginya angka kematian pneumonia pada balita di negara berkembang. Berdasarkan beberapa penelitian sebelumnya, faktor-faktor tersebut dibagi menjadi dua kelompok, yaitu faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. Faktor intrinsik merupakan faktor yang berasal dari individu itu sendiri, diantaranya seperti usia, jenis kelamin, status gizi, berat badan lahir, riwayat pemberian ASI eksklusif, dan status imunisasi. Sedangkan faktor ekstrinsik merupakan faktor yang berasal dari luar individu, diantaranya seperti cakupan pelayanan kesehatan, kepadatan penduduk, dan status merokok anggota keluarga.
Berdasarkan uraian di atas, kami tertarik untuk memodelkan kejadian Pneumonia pada Balita di Indonesia dengan menggunakan metode MARS. Hasil pemodelan ini dibandingkan ketepatan klasifikasinya dengan beberapa metode Machine Learning seperti regresi logistik, K-NN, random forest, dan SVM. Artikel selengkapnya terkait permasalahan yang disajikan dapat diakses melalui link yang diberikan di bawah. Dan semoga artikel ini dapat menjadi media pembelajaran sekaligus menambah wawasan kita terkait penyakit Pnemonia pada Balita.
Penulis : Ardi Kurniawan
Jurnal :





