51动漫

51动漫 Official Website

Koko Srimulyo : Perpustakaan Harus Beradaptasi dengan Era Digital

Pakar Kepustakaan UNAIR Dr Koko Srimulyo Drs MSi saat menyampaikan materi dalam Seminar dan Workshop Nasional Perpustakaan UNAIR, Kamis (16/6/2022). (Foto : istimewa)

UNAIR NEWS – Perpustakaan membutuhkan strategi-strategi yang komprehensif untuk menghadapi masa disrupsi digital. Menjawab tantangan itu, Perpustakaan 51动漫 mengundang pakar kepustakaan UNAIR Dr Koko Srimulyo Drs MSi dalam seminar dan workshop nasional SMART Library for Digital Literacy, Kamis (16/6/2022).

Koko menuturkan bahwa saat ini kita berada di era disrupsi digital. Secara umum, disrupsi digital memiliki empat tahapan, yaitu gelombang connectivity, social media and e-commerce, internet of thing, dan artificial intelligence.

淜etika perpustakaan tidak mampu berbenah menghadapi era disrupsi ini, kita akan digilas oleh yang lain. Ada sesuatu yang harus dibenahi, agar ada hal unik yang bisa dimunculkan, jelas Koko.

Dosen Ilmu Informasi dan Perpustakaan FISIP UNAIR itu menjelaskan, sepanjang waktu manusia dan organisasi harus melakukan perubahan. Dalam mengelola organisasi, organisasi harus dapat melupakan masa lalu serta mengantisipasi perubahan di masa depan. 

淢asa depan tidak pasti, tetapi untuk bisa memastikan masa depan, kita dapat meng-create masa depan dari sekarang, tutur dosen yang juga menjabat sebagai Sekretaris Universitas tersebut.

Menurut Koko, eksistensi perpustakaan harus selalu berubah menyesuaikan dengan tantangan dan  berhadapan dengan user yang berubah. Perpustakaan harus berubah ke arah digital. Strategi digital harus mengarah pada HEBAT, yaitu humble, honest, and helpful; excellence; brave; agile; dan transcendent.

淐ara memandang, cara berpikir, dan cara bertindak kita juga harus berbeda. Tidak boleh dengan cara pandang lama, lanjutnya.

Kesenjangan Digital

Sekretaris UNAIR itu membahas mengenai kesenjangan digital yang masih banyak terjadi di perpustakaan. Masih terdapat gap antara mereka yang memiliki akses pada teknologi informasi komunikasi (TIK) dengan mereka yang tidak memiliki akses. Pertama adalah kesenjangan terkait persoalan infrastruktur. 淚nfrastruktur TIK tidak merata antara di pedesaan dan perkotaan, jelasnya.

Koko mencontohkan Salah satu contoh infrastruktur adalah adanya wifi di perpustakaan. Apabila wifi di perpustakaan kalah cepat dengan wifi di warung kopi, maka perpustakaan lambat laun akan ditinggal.

淪alah satu core product perpustakaan adalah mencari, mengolah, dan menyampaikan informasi. Wifi berperan sebagai actual product, tambahnya. 

Level kesenjangan kedua adalah indikator kesenjangan digital. Kesenjangan pada level ini berhubungan erat dengan keterampilan dan pola penggunaan digital untuk kreativitas dan inovasi.

淪edangkan untuk kesenjangan level ketiga adalah pada kemahiran menggunakan sumber daya digital untuk mencapai tujuan tertentu, tuturnya. (*)

Penulis : Sandi Prabowo

Editor : Binti Q Masruroh

AKSES CEPAT