Banyak organisasi non-pemerintah (NGO) internasional dan donor dari negara berpenghasilan tinggi (HICs) memberikan bantuan untuk mendukung program di negara berpenghasilan rendah dan menengah (LMICs). Salah satu bentuk kerja sama yang menarik adalah ketika sebuah NGO internasional berkolaborasi dengan universitas lokal untuk menjalankan program gizi di komunitas perkotaan. Ini menjadi pengalaman pertama bagi NGO tersebut dalam menjalin kemitraan dengan dunia akademik.
Studi yang dilakukan oleh tim peneliti dari Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat 51动漫 meneliti bagaimana dan mengapa intervensi Positive Deviance/Hearth, sebuah intervensi gizi yang banyak dilakukan di luar Indonesia, yang dijalankan oleh NGO dengan dukungan universitas dapat berhasil atau justru menghadapi hambatan dalam komunitas perkotaan.
Dengan pendekatan realist evaluation, penelitian ini menemukan bahwa keberhasilan program sangat dipengaruhi oleh seberapa baik intervensi disesuaikan dengan konteks lokal masyarakat. Standarisasi program oleh NGO internasional sering kali menghadapi tantangan ketika diimplementasikan di lingkungan yang sangat berbeda. Misalnya, dalam intervensi Positive Deviance/Hearth (PD/H), keterlibatan orang tua menjadi faktor kunci dalam keberhasilan program. Namun, di lingkungan perkotaan, banyak orang tua yang bekerja sehingga peran ini sering beralih ke pengasuh anak.
Selain konteks lokal, keterlibatan berbagai pihak juga menjadi tantangan tersendiri. Studi ini menunjukkan bahwa kemitraan NGO-akademia tidak dapat berjalan efektif tanpa peran pemerintah dan sektor lain di luar kesehatan. Kolaborasi yang lebih luas, seperti dengan sektor pendidikan dan kesejahteraan sosial, dapat membantu meningkatkan keberlanjutan program dan mengurangi ketergantungan masyarakat pada bantuan dari NGO atau donor luar negeri. Namun, adanya ketimpangan dalam keterampilan, pengetahuan, dan komitmen terhadap prosedur sering kali menciptakan ketidakseimbangan kekuasaan yang berdampak pada efektivitas program. Tanpa kejelasan mengenai peran dan tanggung jawab masing-masing pihak, pelaksanaan program dapat terganggu oleh perbedaan harapan dan keterbatasan sumber daya.
Menjaga Keberlanjutan Program: Dari Bantuan Jangka Pendek ke Solusi Jangka Panjang
Salah satu tantangan terbesar dalam program yang didukung oleh NGO adalah keberlanjutan setelah organisasi tersebut pergi. Banyak komunitas menganggap keberadaan NGO sebagai penyedia bantuan gratis tanpa mempertimbangkan bagaimana program tersebut dapat tetap berjalan secara mandiri. Oleh karena itu, penting bagi NGO dan akademia untuk bekerja sama dengan pemerintah dalam menciptakan sistem yang mendukung keberlanjutan program, seperti pengelolaan sanitasi yang baik dan imunisasi preventif bagi anak-anak.
Untuk memastikan efektivitas dan keberlanjutan program di masa depan, diperlukan fleksibilitas dalam desain program dan kesediaan untuk beradaptasi dengan perubahan kebutuhan masyarakat. Jika NGO dan akademia dapat bekerja sama dengan lebih banyak pemangku kepentingan dan memperjelas peran serta tanggung jawab mereka, maka program intervensi gizi seperti PD/H dapat memberikan dampak yang lebih besar dan bertahan dalam jangka Panjang.
Penulis: Nuzulul Kusuma Putri
Detail tulisan ini dapat dilihat di:





